Read Scheduled Suicide Day by Akiyoshi Rikako Andry Setiawan Online

scheduled-suicide-day

Ruri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya.Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya.Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri, tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengRuri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya.Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya.Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri, tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengan janji dia akan membiarkan Ruri mencabut nyawanya seminggu kemudian jika bukti tersebut tidak ditemukan.Itulah jadwal bunuh diri Ruri: satu minggu, terhitung dari hari itu....

Title : Scheduled Suicide Day
Author :
Rating :
ISBN : 9786026383198
Format Type : Paperback
Number of Pages : 280 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Scheduled Suicide Day Reviews

  • Biondy
    2018-11-01 18:05

    Scheduled Suicide Day bercerita tentang Ruri, seorang gadis remaja yang berencana untuk mengakhiri hidupnya. Setelah ayahnya meninggal, Ruri yakin kalau ibu tirinya sebenarnya tidak pernah mencintai sang ayah. Dia percaya kalau wanita itu menikahi ayahnya hanya karena mengincar harta. Merasa muak dan lelah, Ruri memutuskan untuk pergi ke sebuah desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri. Di sana, saat hendak melaksanakan rencananya, Ruri bertemu dengan hantu laki-laki yang menghentikan aksinya. Hantu itu berjanji untuk membantu Ruri menemukan bukti bahwa ibu tirinyalah yang telah membunuh ayahnya. Mereka berdua akhirnya sepakat: kalau tidak ditemukan bukti dalam satu minggu, maka hantu itu tidak boleh lagi menghalangi Ruri bunuh diri.Saya termasuk salah satu orang yang begitu bersemangat saat tahu kalau ada buku Akiyoshi Rikako lainnya yang akan diterjemahkan. Begitu penerbitnya membuka PO, saya langsung pesan. Saya sudah suka dengan penulis satu ini sejak membaca Girls in the Dark-nya, tapi saya baru betul-betul ngefans setelah membaca Holy Mother (review di sini) tahun lalu. Yang membunuh ayahku adalah ibu tiriku.Tapi, ibut tiriku menghancurkan semua bukti, dan sekarang hidup dengan santai.Aku kehilangan harapan pada kehidupan yang seperti ini.Selamat tinggal.Aku berharap suatu hari nanti, karma akan terjatuh dari langit atas ibu tiriku.Watanabe Ruri (hal. 9)Begitu membaca dua bab awal buku ini, saya langsung tahu kalau sebaiknya tidak membandingkan novel ini dengan Holy Mother. Dari gaya berceritanya saja, saya merasa kalau novel ini ditujukan untuk pembaca remaja, bukan dewasa seperti di HM. Kalau mau dibandingkan dengan novel lain dari Akiyoshi Rikako, rasanya SSD ini lebih cocok untuk disandingkan dengan The Dead Returns (review di sini).Mengenai kasusnya sendiri, saya sudah bisa menebak apa yang terjadi di pertengahan. Hanya saja, penulis masih menyimpan kejutan di akhir yang tidak akan saya bicarakan di sini, karena nanti malah jadi bocoran cerita XD.Secara keseluruhan, Scheduled Suicide Day menyajikan teka-teki yang solid. Target pembacanya lebih cocok untuk pembaca muda, tapi ceritanya tetap cocok untuk dibaca pembaca yang sudah tua lebih dewasa."[...]. Kematian memang bisa membuat orang yang mati lepas dari kesukaran. Tapi, orang yang ditinggalkan harus melanjutkan hidup sambil membawa beban yang sepuluh kali lebih berat. Karena itu, aku merasa menyesal. Seharusnya waktu masih hidup, aku menghadapinya dengan usaha yang lebih besar lagi. Sekarang pun, aku masih merasa marah pada diriku yang tidak melakukannya." (hal. 114)

  • Dyah
    2018-10-27 00:58

    Predictable ending, self-centered MC that's difficult to like, lack of chemistry between the MC and her love interest.But. The plot is neat and well-written. Also, nice info about culinary and fengshui.Overall, a good read.

  • Lelita P.
    2018-11-10 01:06

    Nggak se-wow buku-buku Akiyoshi Rikako-sensei sebelumnya walau ciri khasnya tetap sama, tapi yang ini mengandung pesan moral yang sangat baik bahwa kita harus menghargai kehidupan. Saya suka sekali twist-nya (view spoiler)[meskipun membahagiakan, bukan mencengangkan (hide spoiler)]. Membaca ini merupakan pengalaman yang menyenangkan dan seperti biasa menambah pengetahuan. Saya suka banget bagaimana setiap Akiyoshi Rikako-sensei menulis novel remaja, dia selalu bisa menampilkan keremajaan tokoh-tokohnya dengan sangat baik, kental dan membumi. Remaja bangetlah.Penderitaan hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Kalau misalnya belajar untuk ujian itu menyakitkan, tinggal berhenti saja. Kalau misalnya ditindas itu tidak menyenangkan, tinggal pindah sekolah saja. Kalau misalnya terlalu banyak bekerja sampai tenaga habis, tinggal pindah pekerjaan saja. Semua orang yang merasa tertekan, paling mengerti itu. Tapi, karena tidak bisa melakukannya, semua orang jadi menderita. Di dunia ini banyak orang yang kesusahan karena perang dan kelaparan. Dibandingkan dengan mereka, kita adalah orang-orang yang cukup sejahtera. Berpikir untuk bunuh diri itu benar-benar egois, lemah, dan hanya bisa menghindar dari masalah. Banyak orang yang mencela demikian. Ngomong-ngomong aku dulu juga begitu. .... Waktu diri sendiri disudutkan oleh kenyataan, hal logis seperti itu jadi tak terpikirkan. Waktu pagi datang, aku selalu ketakutan untuk melalui satu hari lagi yang baru. Selalu memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya, bagaimana cara melewatinya... (hal 113)Itu adalah quote yang paling nampol dalam buku ini. Saya ngerti banget perasaan Hiroaki itu. Saya sendiri dulunya adalah happy-go-lucky girl yang tidak kenal pesimisme berlama-lama dan sering men-despise setiap baca berita tentang orang bunuh diri. Tapi kemudian cobaan hidup yang berat mendera, memojokkan saya sampai ke titik terendah. Kondisi psikologis saya terkapar berdarah-darah, berkubang dalam kegelapan, depresi, dan sempat berpikir bahwa die is better. Itu state yang mengerikan; saya tidak ingin mengalaminya lagi. Seperti nasihat Hiroaki di sepanjang buku ini, bunuh diri akan menyakiti orang-orang yang ditinggalkan. Pokoknya masalah nggak akan selesai hanya dengan bunuh diri. Dan buku ini berhasil mengemas topik tersebut dengan sangat baik.

  • Ari
    2018-10-22 20:55

    Terima kasih buat penerbit haru yang sudah memperkenalkan Akiyoshi Rikako, buku-buku Akiyoshi Rikako menjadi auto-buy buat saya. Cerita-ceritanya tidak semua top notch tapi setidaknya selalu menampilkan hal yang berbeda. Seperti SSD ini yang selain menampilkan misteri ringan, juga memberi pengetahuan tentang fengshui dan kuliner Jepang. Dan bahasan mengenai bunuh diri nya juga kena banget. So for that alone, saya kasih tambahan 1 bintang! Jadi Scheduled Suicide Day, despite the title and cover, it's not dark and twisted seperti cerita Akiyoshi Rikako lainnya, isinya justru membuat saya mendadak pingin makan kue dan mencoba beberapa trik fengshui :)

  • Guguk
    2018-11-02 18:53

    Benar-benar!Lezat!! (((o(≧▽≦)o)))Syukurlah sebelumnya aku baca review Ken-chan...Bener banget, saat membaca novel Akiyoshi-sensei yang ini ga boleh dicampur-baurkan dengan pengalaman baca novel-novel yang sebelumnya ^ ^ Proses bacanya jadi lebih nikmat~Ceritanya... ***SPOILER ALERT*** (view spoiler)[cukup sederhana, bahkan mungkin bisa ketebak...Tapi manis, hangat, dan mengungkapkan soal bunuh diri dalam arti sesederhana mungkin, yaitu bagaimana dampaknya pada orang lain saat kamu mau game-over secara paksa. Bagian ini kerasa ngejleeb~Dan endingnyaa~~ (view spoiler)[... *maupingsansakingimutnya* XDD//lebay (hide spoiler)] (hide spoiler)]Lalu, soal fengshui... aku sendiri bukan orang yang percaya sih~ tapi sangat menghormati orang yang percaya fengshui, atau percaya apapun yang jadi hak mereka.Jadi pas baca soal Ruri dan ayahnya yang sangat mematuhi fengshui itu rasanya oke-oke saja (o^▽^o)Jujur, situasi akhir-akhir ini bikin aku lebih menghormati apapun yang dipercayai orang lain. Mau itu alien, unicorn, cthulhu, babi terbang...apapun boleh! Kudukung!! ヽ(>∀<☆)ノAsalkan ga sampe ngubah sejarah, atau berusaha membinasakan orang lain yang ga sealiran (^^#)Novel yang sangat kurekomendasikan~ (b ᵔ▽ᵔ)b["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>

  • Tsaki
    2018-11-01 18:15

    Novel pertama yang dibaca pada tahun 2018~! Tadinya mau baca Holy Mother, tapi katanya HM paling bagus, ya udah deh nanti aja... :))Meski mudah tertebak, novel ini "manis" banget, beda sama kovernya.3.5

  • Alvina
    2018-11-15 19:57

    Ruri sudah memutuskan untuk pergi bunuh diri di sebuah desa yang terpencil. Ia telah merencanakan semuanya sejak jauh jauh hari. Di desa itu ia akan menginap selama semalam di sebuah penginapan dan bunuh diri di dalam hutan keesokan harinya. Tekadnya sudah bulat, Ruri hanya ingin berkumpul kembali dengan ayah ibunya. Semenjak Ayah dan Ibunya meninggal dunia, Ruri tak punya semangat lagi untuk hidup. Ia membenci keadaannya, juga membenci ibu tirinya.Tapi saat Ruri mengalungkan tali dan bersiap mati, ia terjatuh dan bertemu dengan hantu anak laki-laki. Si hantu ini memarahi Ruri yang ingin bunuh diri, sampai kemudian mengadakan kesepakatan dengan Ruri, bahwa ia akan membantu Ruri untuk membongkar kelicikan ibu tirinya Ruri serta membantu menemukan bukti bahwa Ayah Ruri meninggal karena diracun. Kesepakatan itu berlaku 7 hari. Jika dalam 7 hari, tak ada bukti yang bisa membongkar kepalsuan cinta si ibu tiri, maka Ruri lebih memilih untuk mati.Yeaaaay akhirnya kelar jugaaa baca buku ini. Sejak awal saya agak kaget karena ternyata ada hantu lagi dalam cerita Akiyoshi. Untung bacanya pas siang siang dan hantunya juga ngga jahat. Tapi agak agak khawatir juga sih, jangan jangan ceritanya ngebosenin macam Dead returns. Eh ternyataa... Emang agak ngebosenin sih, karena jalan ceritanya gampang ditebak. Huhuhu. Tapi tetep bikin penasaran sih, kenapa begini kenapa begitu. Dan bukan Rikako namanya kalau ngga nyelipin satu dua twist dalam cerita. Yaa meski twistnya agak kebetulan banget gitu deh.Tokoh utama cerita, si Ruri, diceritakan sebagai anak yang sulit bergaul namun sebenarnya ia baik hati. Ya meski dia pendendam juga sih, oh dan sering banget punya pikiran negatif yang mana wajar juga sebenernya dimiliki oleh orang orang yang memang pingin mati, apalagi usianya juga masih muda.Awalnya sih saya kasihan melihat dia yang disia sia sama ibu tirinya, tapi lama kelamaan si Ruri ini perasaan saya kok agak berlebihan dalam menjelek jelekkan si ibu tiri. Yaa mungkin maksudnya menggiring opini pembaca sih ya biar makin kuat dan dibikin penasaran sama kejahatannya si ibu tiri. Kalau dibandingkan cerita Rikako lainnya, saya masih lebih suka Holy Mother dan Girls in The Dark sih. Tapi ini mendinganlah daripada Dead Returns. Yang jadi poin plus di cerita ini, mungkin karena saya suka dengan tema bunuh dirinya. Meskipun dosa, tetapi tak sedikit orang orang yang pernah berpikiran untuk bunuh diri. Di Jepang pada tahun 2014 rata rata 70 orang bunuh diri perhari. Kematian ini didominasi oleh kaum Pria dan sebagian besar mengalami depresi. Saya rasa dengan mengangkat tema ini, penulis ikut membantu memberi kontribusi pada pencegahan tindakan bunuh diri terutama bagi para pembacanya. Selain itu, karena keluarga Ruri di sini diceritakan sebagai pengusaha restoran berbasis Fengshui, saya jadi dapet banyak kosakata baru yang berhubungan dengan hal tersebut. Banyak masakan masakan yang enak banget waktu dibayangin, beuh bikin laper gitu deh bawaannya waktu baca.Kalau kamu penggemar novel novel Rikako, novel novel yang berhubungan dengan bunuh diri, coba deh baca buku ini. Semoga kamu juga akan menyukainya.

  • cindy
    2018-10-22 19:03

    Di antara semua novel AR yg sdh kubaca, ini yg plg kontradiktif. Judul dan cover bukunya gloomy, kelam nan menakutkan, tapi ternyata isinya yg plg kinyis2 n cooo cwiiiiitt. Memang sih, kadang2 terasa isinya agak kelebihan muatan; dari isu dan masalah2 seputar bunuh diri, lanjut ke pernak-pernik fengshui, plus makanan yg bikin ngiler dan bisnisnya, dan ditambah lagi komponen supranatural berupa hantu cakep, tapi pada akhirnya aku merasa semuanya terjalin manis. Agak terlalu manis malah.Meskipun begitu, unsur kejutan dan twist ala Akiyoshi-sensei tetap terasa. Sempat deg2an juga pas adegan tukar-menukar cangkir teh itu, tapi.... lah akhirnya gituuu. Yasudlah. Dibandingkan Holy Mother yg padat mengagetkan, novel ini jauh lebih ringan dan menyenangkan. Akhir hepi en yg gak pernah terjadi di cerita AR sblmnya bikin diriku jg hepi, dan jd pengin ngasih 4* buat buku ini. Siplah.

  • ABO
    2018-11-07 17:15

    3.5/5Bagus, bagian fengshui-nya menarik, bagian makanannya bikin laperrr x)) sayang kejutan di akhirnya udah ketebak dari awal. Kirain bakal sekelam Girls in the Dark, ternyata cukup manis isinya.

  • Natha
    2018-11-07 19:08

    Kisahnya manis! :))Aku akan lebih suka mengatakan buku ini feelnya seperti saat aku membaca The Dead Returns, hanya saja dengan rasa yang lebih manis. Mengingat buku ini punya tokoh utama seorang perempuan sementara The Dead Returns punya tokoh utama seorang lelaki.Premis kisahnya sederhana, dan bisa dilihat di balik cover. Ah, dan aku sengaja memakai tagar spoiler untuk mereka yang tidak suka spoiler, jangan baca kalau tidak mau kehilangan nuansa saat membacanya pertama kali nanti. ;)Sebagai seorang anak yang begitu mengidolakan kedua orangtuanya, Ruri tidak bisa terima ketika sang ayah menikah lagi dengan Reiko sepeninggalan ibunya. Bahkan dia berusaha menghindari sang ibu tiri, meski merestui pernikahan itu, mengingat dia ingin sang ayah bahagia. Perasaannya tergambarkan dengan jelas dan sederhana sebagai seorang anak perempuan yang tidak rela orangtuanya menikah lagi.Namun, setelah pernikahan itu berjalan sementara waktu, Ruri dan sang ayah terlibat dalam sebuah pertengkaran besar. Bentakan sang ayah membuatnya menangis dan dia marah besar dengan sang ayah, tanpa menyadari bahwa malam itulah dia terakhir kali melihat sang ayah...Pagi harinya, sang ayah ditemukan meninggal karena sakit. Namun kehidupan pasca kematian sang ayah, Reiko mendadak menjadi berubah. Aktif di perusahaan milik ayah Ruri. Aktif di televisi (karena ayah Ruri adalah koki dan Reiko adalah seorang asisten si ayah). Ditambah keberadaan uang asuransi yang menghilang sepeninggalan si ayah. Wajar dengan pikiran sepolos Ruri, dia menduga kematian sang ayah ada hubungannya dengan Reiko. Bahkan Reiko yang membunuh ayahnya untuk mendapatkan uang asuransi!Berlandaskan ide ini, dia berusaha mencari tahu kebenarannya, namun gagal. Rahasia terlalu rapat. Ruri begitu kecewa dan berpikir sederhana untuk mengakhiri hidupnya. Dia berharap dengan kematiannya, orang-orang akan menyelidiki kematian sang ayah dan merusak nama baik Reiko. Tanpa menyadari kenyataan yang sebenarnya di balik kematian sang ayah...Yak, awal mula buku dibuka dengan adegan Ruri akan melaksanakan bunuh dirinya. Pembaca digiring untuk bersimpati kepada sang anak. Berpikir betapa menyedihkan hidupnya. Bahkan aku mulai berpikir twist yang macam-macam (Holy Mother memang membuatku gemez!). Kamu tidak perlu berpikir serumit itu. Buku ini sederhana. Mengisahkan seorang anak perempuan yang terlalu cepat dewasa di usianya yang masih anak-anak. Dia dipaksa dewasa ketika sang ibu meninggal, pengetahuan luas tentang fengshui justru membuatnya dijauhi teman sebayanya. Hidupnya terkucil dan Ruri sulit mengungkapkan isi hatinya. Membuatnya sulit didekati. Ketika dia akhirnya bertemu dengan hantu di tempatnya akan bunuh diri, dia justru bisa menjadi dirinya sendiri.Hahaha. Bagus koq. Aku masih tertinggal rasa gemasnya setelah baca sepagian nih. Baru beberapa jam lalu selesai baca, jadi masih on fire banget! Jangan bayangkan kisah seperti Holy Mother atau Girls in the Dark, ini tidak seperti itu. Bukan buku yang bisa mempecundangi pembaca dengan cara yang seperti itu. Tapi buku ini bisa bikin mikir setelah selesai baca, dan mengerti setelah direnungi lebih dalam. Seperti biasa, highly recommended!

  • Marina
    2018-10-24 19:08

    ** Books 166 - 2017 **Buku ini untuk memenuhi Tsundoku Books Challenge dan 30 Hari membaca 3,1 dari 5 bintang! Ruri merasakan kesedihan yang mendalam ketika ia mengetahui ayahnya meninggal dunia. Ia Curiga ayahnya meninggal secara tidak wajar karena diracuni oleh ibu tirinya, Reiko. Ketika ia tidak mendapatkan bukti-bukti yang kuat ia pasrah dan memutuskan untuk bunuh diri di desa Sagamino. Disanalah ia bertemu dengan seseorang yang kelak akan mengubah kehidupannya. Pada akhirnya akankah Ruri berhasil mengungkapkan siapa pembunuh ayahnya?Jujur saya salah menempatkan ekspektasi ketika sejak awal membaca buku ini. Saya masih terbayang-terbayang dengan euforia book hangover ketika membaca buku Holy Mother yang saya nobatkan sebagai buku terbaik dan terfavorit saya di tahun 2016 silam. Ternyata euforia itu tidak saya dapatkan didalam buku ini. Kecewa sih tapi disatu sisi kekecewaan saya terbayar dengan adanya ilmu masak-memasak yang disajikan didalam buku ini. Jujur itu semua membuat saya menjadi lapar. Buku tentang masak-memasaknya mengingatkan saya akan buku Cooking With You by Yoana Dianika.

  • Indah Threez Lestari
    2018-10-23 22:51

    224 - 2017

  • Annisa D. Lestari
    2018-11-07 00:47

    "Seperti ada kupu-kupu yang turun ke dada, kemudian tinggal di dalam sana" h.18. Saya suka sekali ungkapan ini, ekspresi perasaan cinta yang diungkapan dengan sepenuh hati. Kupu-kupu dilambangkan atas keindahan, akan semakin indah bila kupu-kupu itu terbang mengepakkan sayapnya sehingga tampak cantik bila dipandang.Cerita ini bukan soal kupu-kupu. Tentu saja bukan, dari judulnya saja bisa ditebak ini pasti ada hubungannya dengan bunuh diri. Yup, negara Jepang termasuk paling banyak penduduknya yang melakukan bunuh diri. Tapi ketika saya membaca buku ini, ada perasaan kontradiktif dengan apa yang saya pikir selama ini. Ketika berpikir bunuh diri adalah hal yang lazim di Jepang, tapi buku ini malah merepresentasikan perasaan orang Jepang sesungguhnya yang mana bunuh diri itu adalah sesuatu yang salah dan sudah seharusnya dicegah bersama-sama. Banyak pesan yang tersirat yang ingin disampaikan oleh penulis. Mungkin keresahan penulis atas keputusan bunuh diri (khususnya di kalangan remaja), dengan membaca buku ini, diharapkan para remaja dapat berpikir berkali-kali untuk memutuskan bunuh diri. Seperti penulis bilang, ketika bunuh diri mungkin urusan kita selesai, tapi pernahkah terpikirkan kesedihan orang-orang yang akan tinggalkan nantinya? Atau masalah yang jauh lebih besar diihadapi oleh orang-orang yang ditinggalkan. Setega itukah kita sebagai manusia. Intinya, setiap masalah yang kita hadapi, mau tidak mau harus dihadapi, apapun resikonya, besar kecil harus bertanggung jawab. Terkadang berat masalah yang kita pikirkan, ternyata mudah untuk menyelesaikannya, hanya perlu untuk dicoba. Seperti yang dialami oleh Ruri.Ruri harus menghadapi kenyataan bahwa Ibunya sudah meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ia harus merelakan ayahnya menikah dengan wanita lain. Hampir dua tahun memiliki ibu tiri tidak menjadikan Ruri akrab dengannya karena kehadiran ibu tiri telah merampas kebahagian dia bersama ayahnya. Suatu pagi, ia mendapati ayahnya meregang nyawa di ruang kerja, saat itu tampak Reiko - ibu tiri - berada persis di samping ayahnya sembari memegang sebotol cairan berwarna biru. Ditambah uang asuransi kematian ayahnya yang bernominal besar semakin mengokohkan dugaan Ruri bahwa ibu tirinya sengaja membunuh ayahnya untuk tujuan menguasai asuransi dan perusahaan ayahnya. Ketika Ruri tidak memiliki pihak yang mendukung, ia putuskan untuk coba bunuh diri di sebuah desa sepi dengan tujuan ia akan meninggalkan surat wasiat dan menuliskan bahwa ibu tirinya adalah pembunuh ayahnya, dengan begitu orang-orang yang mengangkatnya sebagai kasus dan menyelidiki Reiko, pikirnya.Ternyata takdir Ruri untuk bunuh diri malah mengantarkannya bertemu sesosok hantu tampan penghuni desa sepi yang mana tempat Ruri ingin bunuh diri. Inilah takdir yang tak terduga. Hantu bernama Hiroaki itu membangkitkan semangat Ruri agar jangan melakukan bunuh diri dan menyarankannya untuk melakukan penyelidikan terhadap Reiko. Ruri pun berhasil dibujuk dan ia menyatakan apabila dalam waktu seminggu penyelidikannya gagal, ia tetap akan bunuh diri. Kisah pun dimulai... Saya bisa bilang ini adalah karya Ms. Akiyoshi yang paling beda. Beda dalam arti tidak lagi menemukan kejutan-kejutan yang mengejutkan. Pembaca tidak disuruh lagi untuk menebak siapa dalang di balik cerita. Karena mungkin ada beberapa pembaca yang sukses menebak jalan cerita mau dibawa kemana. Karena saya melihat, pesan yang ingin disampaikan penulislah yang ingin dikuatkan. Tentang bagaimana bunuh diri adalah suatu keputusan yang salah, tentang jangan terlalu percaya pada fengshui. Oh ya, cerita selain tentang bunuh diri, kita akan diberitahu tentang masakan dan fengshui. Orang tua Ruri adalah orang terkenal di dunia masak memasak, dan mereka sangat memperhatikan fengshui ketika melakukan apapun. Ini cukup menarik karena ternyata fengshui itu dapat menjadi tiang kehidupan bagi orang-orang yang percaya. Tapi seperti penulis bilang, andalkan fengshui apabila memang usaha kita yang sudah maksimal tidak berjalan dengan lancar. Jangan jadikan fengshui menjadi andalan satu-satunya.Meskipun buku yang satu ini tidak nampak mengejutkan seperti sebelumnya (karena Holy Mother sangat kerennn) tapi saya masih menyukainya. Gaya bahasa Akiyoshi tidak berubah sama sekali, saya masih mengenali dia. Anggap saja, buku ini ingin bilang bahwa masih banyak orang baik di dunia ini.

  • Shanya
    2018-11-08 01:12

    Suka!Walau pun buku ini adalah buku yang aku baca dalam waktu paling lama, aku sangat suka!“Bukan hanya mengatakan 'jangan mati!' secara sepihak saja, tapi menemukan jalan keluarnya bersama. Menghadapi masalah bersama-sama. Dengan melakukan itu, kau juga menyelamatkanku.”(view spoiler)[Ruri terkejut saat melihat ayahnya mati di tangan ibu tirinya. Ruri pasrah akan hidupnya, yang tak bisa mempunyai cukup bukti bahwa ibu tirinya adalah pembunuh ayahnya. Dia pun melarikan diri ke sebuah desa yang dikenalnya dari sebuah film horror.Ruri bunuh diri di sana.Namun kegiatan Ruri dihentikan oleh seorang pemuda. Pemuda itu ingin membantu Ruri menyelesaikan masalahnya agar tidak jadi bunuh diri. (hide spoiler)]Buku ini merupakan satu-satunya karya Akiyoshi Rikako yang tidak menampilkan terlalu banyak sadisme dan darah😂Aku membutuhkan suasana yang tenang untuk benar-benar ingin membaca buku ini. Topik yang diangkat juga sangat sensitif. Bunuh diri. Depresi.Endingnya... Aku lega :")

  • Ryvannafiza Nisa
    2018-10-24 17:09

    Kalau harus jujur, ini buku Akiyoshi Rikako terlemah yang saya baca. Setelah Holy Mother yang bikin saya misuh-misuh gara-gara ketipu tapi bikin ketagihan, baca ini jadi agak hambar. Like, "Udah? Gitu doang?"Tonenya agak mirip The Dead Returns, sedikit lebih ceria. Nggak segelap Girls in The Dark atau 'sesakit' Holy Mother. Sejak awal pun, nggak sulit menebak siapa pembunuh ayah Ruri sebenarnya juga niat asli si hantu iseng.Yang patut diapresiasi justru pesannya. Saya rasa, mungkin pesan itu yang memang ingin ditonjolkan untuk novel kali ini, alih-alih misteri seperti sebelum-sebelumnya. Jangan main-main sama bunuh diri. Depresi atau penyakit mental lain bukan untuk dikata-katai, tapi didekati dan diobati. Prasangka bisa menghancurkan diri sendiri. Oh, dan jangan terlalu percaya sama fengshui :DLayak dibaca? Sangat. Istirahatlah dulu dari misteri ala Sherlock yang bikin mengerutkan kening :D

  • Rezza Dwi
    2018-11-09 00:49

    Cerita ini menyuguhkan rencana bunuh diri, fengshui, koki, ibu tiri, nyawa masakan, dan cara kematian.Kurasa aku tahu kenapa banyak orang kecewa dengan buku ini:1. Temanya mainstream2. Twist-nya ketebak3. Tidak sesadis dan segreget buku Akiyoshi Rikako sebelumnyaTapi, aku tetap suka. Entah ini bias karena aku memang fans Akiyoshi Rikako, atau karena aku enjoy baca ceritanya.Jangan tanya kenapa aku begitu menikmati tulisan Akiyoshi Rikako. Buku ini mungkin memang tidak sebagus buku Akiyoshi Rikako sebelum-sebelumnya, tapi bukan berarti tidak bisa kunikmati. Aku berhasil melahap buku ini hanya dalam beberapa jam. Walaupun ending-nya tertebak sekali, tapi aku masih sangat penasaran sepanjang cerita demi membuktikan tebakanku benar atau salah.Sosok Ruri memang realistis. Setelah ditinggal meninggal ibu yang sangat menyayanginya itu, Ruri menjadi pribadi yang emosional. Terlebih ketika ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang jauh lebih muda. Untuk karakter lain, aku tidak bisa bilang terang-terangan karena takut spoiler 😂Bagian yang paling aku suka yaitu saat pencarian bukti-bukti. Apalagi saat di restauran hotel itu, rasanya cukup menegangkan. Aku juga suka bagaimana penulis menghubungkan pembagian bab dengan macam-macam hari, lalu pengetahuan akan masakan ini-itu (termasuk bahan dan alat masaknya).Tokoh yang paling kusuka yaitu Hiroaki. Menyebalkan tapi bikin kangen!.Cerita ini sangat amat ramah untuk pembaca yang tidak suka darah, alias tidak sadis--apalagi kalau harus disandingkan dengan Holy Mother, jauh sekali kesadisannya..Overall, isinya masih "Akiyoshi Rikaki banget". Mulai dari cara pembagian bab, plot hari, pesan terselip, dan bahasa narasinya. Aku yang penggemar Akiyoshi Rikako masih sangat menantikan buku beliau yang lainnya.

  • Dhia Citrahayi
    2018-10-23 18:00

    Saya tidak tahu harus menilai buku ini seperti apa. Sejujurnya, dibanding buku pertama Akiyoshi yang berjudul Girls In The Dark, misteri di buku ini cenderung lebih ringan / datar. Saya sama sekali tidak merasakan rasa penasaran yang menggebu seperti di buku pertama, bahkan cenderung lempeng-lempeng saja setelah tahu kejadian sebenarnya yang terjadi pada Ruri. Namun, saya mengapresiasi karya ini memang bukan karena misterinya, tetapi apa yang diangkat dalam cerita ini. Saya akui, sudah jadi ciri khas Mbak Aki untuk memberikan potongan-potongan jawaban ke pembaca mereka secara tidak menyeluruh. Seperti puzzle, pembaca diminta merangkai sendiri kejadiannya, kemudian ‘BUUM!’, di akhir cerita Mbak Aki memamerkan puzzle aslinya pada pembaca, sehingga pembaca bisa ngebandingan puzzle imajinatifnya dengan punyanya mbak Aki. Semakin jauh kemiripan puzzle tersebut, semakin pembaca misuh-misuh ngerasa kena trap dari mbak Aki. Saya pernah kena ini di Holy Mother.review selengkapnya >> http://imajinasi-takberbatas.blogspot...

  • Scion
    2018-10-19 18:49

    Sejujurnya aku lebih suka cerita ini daripada Holy Mother. Meskipun mendekati akhir, aku cukup dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi, tapi tetap ada rasa tegang saat melaluinya.Aku suka dengan pesan-pesan dan beberapa hal baru yang diberikan di dalam novel Akiyoshi, seperti belajar lagi. Mengenai karakternya, well, cukup menarik tapi ya hanya begitu saja. Membaca ini di malam hari tapinya membuatku aku merasa lapar. Haha.

  • Nining Sriningsih
    2018-10-27 20:45

    "bunuh diri itu akan membunuh hati orang-orang lain di sekelilingmu juga""kematian memang bisa membuat orang yg mati lepas dari kesukaran. tapi, orang yg ditinggalkan harus melanjutkan hidup sambil membawa beban yg sepuluh kali lipat lebih berat"happy ending.. :Dnovel ini mengajarkan jangan berprasangka buruk sama orang lain..dan jangan menghakimi orang yg bunuh diri..:')

  • Ifa Inziati
    2018-11-15 19:50

    Kavernya menipu... cerita cute begini, apa karena branding Akiyoshi-sensei di penerbitnya gitu? Padahal nggak papa sih pakai kaver yang lebih sesuai, ala-ala manga gitu kan cocok.Holy Mother emang a whole new level of thriller, Girls in the Dark jadi kayak I Know What You Did Last Summer, dan Scheduled Suicide Day dipastikan mirip shojo manga supernatural (kayak Twelve Signs of Zodiac? Aduh lupa nama mangakanya). Meski berbeda-beda jenisnya, saya tetap suka ciri khas gaya menulis Akiyoshi-san yang detail dan alurnya yang rapi.Jadi, jika kamu sedang berencana akan membaca buku ini dalam waktu dekat, letakkan ekspektasi kamu pada ranah shojo manga alih-alih cerita thriller kelewat serius. Aduh jadi ingin punya Hiroaki-kun satu. Lucu banget dia serius, saya ngebayanginnya kayak Tamon-nya Ultra Cute :3

  • Fitra Aulianty
    2018-10-29 19:47

    Sudah lama sejak terakhir kali membaca Girls in The Dark. Jadi saya nyaris lupa kalau penulis suka membuat twist yang berlapis. Bahkan untuk sesuatu yang tidak diberi twist pun tidak masalah, penulis tetap memberi twist. Novel yang satu ini sangat berbeda jauh dari Girls in The Dark. Novel ini manis dan menyentuh--sebaiknya beri novel ini pada seseorang yang tengah depresi atau tertekan, saya rasa mereka akan bisa lebih optimis lagi menyambut masa depan.Tapi saya bingung untuk perkataan dokter dan ibu tiri Ruri. Kenapa si dokter ketakutan? Padahal jelas-jelas itu bukan racun? Dan apa maksudnya tentang perlu bantuan dokter itu nanti?

  • Utami Pratiwi
    2018-10-27 23:50

    penulis yang tidak memberi kejutan melebihi kejutan pada buku sebelumnya terhadap buku barunya, juga merupakan kejutan lho....Ruri mempunyai kehidupan yang sempurna. Ibunya adalah seorang pattissier—koki pembuat kudapan manis. Sementara ayahnya adalah seorang koki. Semasa muda, tempat kerja orang tua Ruri berdekatan. Ini yang membuat ayahnya jatuh cinta kepada perempuan manis sekaligus cekatan ini. Saat berbicara tentang pertemuannya dengan ibu Ruri, ayahnya selalu berkata, “Seperti ada kupu-kupu yang turun ke dada, kemudian tinggal di sana.” (hlm. 18)Selain mahir memasak, ayah Ruri juga mempelajari fengshui. Ini pula yang menjadikan ibu maupun Ruri sangat akrab dengan fengshui. Bahkan, restoran yang mereka dirikan pun tidak terlepas dari aturan-aturan ini.Dunia menjadi terasa terbalik ketika secara tiba-tiba ibu Ruri meninggal. Ini adalah pukulan yang sangat berat untuk mereka. Ruri harus mulai biasa berdiri di dapur sendiri—tanpa ada ibu di sampingnya, membagi tugas antara belajar dan membersihkan rumah, serta lainnya.Suatu hari, ayahnya membawa asisten baru. Seorang perempuan muda dan cantik bernama Reiko. Awalnya, Ruri merasa nyaman karena seperti mempunyai kakak perempuan. Hingga beberapa bulan kemudian, Ruri dipanggil ayahnya untuk berbicara serius. Reiko ada di samping ayahnya dengan gelagat yang berbeda. Sejak itu Ruri merasa bahwa ayahnya kembali menemukan kupu-kupu yang turun ke dada lalu tinggal di sana. Memulai hidup baru bersama ibu tiri membuat Ruri jengah. Apalagi ketika suatu pagi setelah beberapa hari sebelumnya terlibat pertengkaran dengan ayahnya, Ruri justru melihat ayahnya terkulai lemas di ruang kerja. Di sana ada Reiko dengan tampang tidak kalah panik. Sekali lagi Ruri limbung. Ayahnya meninggal dan ia harus lebih kuat ditinggalkan orang yang dicintai. Terlebih setelahnya harus tinggal berdua bersama perempuan asing yang disebut ibu tiri.Ruri yakin Reiko adalah dalang yang membuat ibu dan ayahnya meninggal. Dugaan itu diperkuat dengan kemunculan Reiko yang langsung mengambil alih pekerjaan ayahnya, serta rutin tampil di berbagai media. Ruri bahkan sempat bertanya-tanya tentang uang asuransi ayahnya yang jumlahnya tidak sedikit. Pasti semua itu dinikmati oleh Reiko.Selanjutnya, berusaha mengumpulkan bukti-bukti tentang dugaannya. Ia merencanakan bunuh diri dengan meninggalkan surat wasiat yang isinya menjelaskan bahwa yang membunuh ibunya adalah Reiko. Harapannya, polisi akan menyelidiki Reiko dan memasukannya ke penjara.Ruri meminta izin kepda Reiko untuk menginap di rumah temannya. Padahal, sebenarnya ia akan ke desa Sagamino. Tempat itu dulunya sempat terkenal karena pernah dijadikan tempat syuting film horor fantasi “Aoyami no Mori”. Tetapi berangsur-angsur sepi dan justru dijadikan tempat tujuan orang bunuh diri. Ruri menjadi salah satunya.Alih-alih merencanakan semuanya dengan sangat rapi, mulai dari meninggalkan surat wasiat di penginapan dan menempuh jarak yang tidak dekat menuju tempat bunuh diri, Ruri justru bertemu dengan Shiina Hiroaki. Ia adalah “arwah” yang menggagalkan upaya bunuh diri Ruri. “Bunuh diri itu akan membunuh hati orang-orang lain di sekelilingmu juga.” (hlm, 109)Mereka membuat sebuah perjanjian, jika selama satu minggu Ruri tidak bisa menemukan bukti bahwa Reiko adalah pembunuh ibunya, maka Ruri akan melanjutkan upaya bunuh dirinya.Dengan berbekal ilmu fengshui, selama satu minggu itu dilewati Ruri dengan beragam kejadian. Hingga sebuah fakta yang mengejutkannya secara bertubi-tubi.“Penderitaan hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Kalau misalnya belajar untuk ujian itu menyakitkan, tinggal berhenti saja. Kalau misal terlalu banyak bekerja sampai tenaga habis, tinggal pindah pekerjaan saja. Semua orang yang tertekan, paling mengerti itu. Tapi, karena tidak bisa melakukannya, semua orang jadi menderita. Di dunia ini banyak orang yang kesusahan karena perang dan kelaparan. Dibandingkan dengan mereka, kita adalah orang-orang yang cukup sejahtera. Berpikir untuk bunuh diri itu benar-benar egois, lemah, dan hanya bisa menghindar dari masalah.” (hlm. 113) selengkapnya di http://haitiwi.com/2017/10/25/review-...

  • Desty
    2018-11-07 20:46

    Ruri sudah merencanakan kematiannya dengan baik. Dia menuliskan surat terakhirnya yang berisi pesan bahwa ibu tirinya adalah pembunuh ayahnya. Ruri juga sudah memilih lokasi yang tepat untuk kematiannya berdasarkan rekomendasi dari sebuah situs bunuh diri di internet. Sayangnya,rencana bunuh diri Ruri tidak berjalan mulus. Dia ditolong oleh seorang hantu anak laki-laki bernama Hiroaki.Rencana bunuh diri Ruri tidak lepas dari rasa sakit hatinya terhadap ibu tirinya. Sepeninggal ibu kandungnya yang mati tiba-tiba karena pendarahan otak, Ruri tinggal berdua dengan ayahnya yang berprofesi sebagai koki. Namun kehidupan mereka yang tenang mulai terusik ketika Reiko hadir dalam kehidupan ayahnya. Terlebih lagi pada saat akhirnya ayahnya menikah dengan Reiko. Reiko mengambil alih rumah mereka, dan puncaknya ketika Ruri melihat Reiko berada di samping ayahnya ketika ayahnya ditemukan meninggal di kamar kerjanya. Ruri yang merasa ada yang janggal dari kematian ayahnya mencoba menyelidiki. Namun upayanya termentahkan oleh pihak kepolisian yang mengatakan dia tak punya cukup bukti. Akhirnya Ruri menyerah dan memutuskan ingin "bergabung" dengan kedua orang tuanya.Akan tetapi usaha bunuh dirinya gagal. Sebaliknya ada hantu yang membuat kesepakatan dengannya. Hiroaki, nama hantu ini, ingin membantu Ruri mencari bukti pembunuhan ayahnya. Ruri memberikan waktu selama enam hari saja. Jika upaya mereka gagal, maka Ruri akan melanjutkan niat awalnya untuk bunuh diri. Dalam enam hari, Ruri mencoba mengumpulkan bukti-bukti dan instingnya benar. Reiko melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kematian ayahnya.Buku ini sudah saya nantikan sejak ada kabar akan diterbitkan. Berbekal hype dari buku sebelumnya, Holy Mother, saya sudah meniatkan harus membaca buku ini. Masih mengusung tema misteri dengan tokoh remaja, kali ini ada bumbu "hantu" di dalamnya. Untungnya bukan hantu yang menyeramkan. Dan saat membaca buku ini, saya sudah mengantisipasi bakal ada twist yang mengejutkan. Mengenai karakter tokoh utamanya, Ruri, sejak awal saya merasa sikap Ruri sepertinya berlebihan. Semua yang dilakukan ibu tirinya terlihat negatif di matanya. Saya nggak bisa merasa kasihan pada Ruri. Apalagi keputusannya untuk bunuh diri itu sepertinya terlalu mudah untuk diambil. Mungkin penulis ingin menunjukkan bahwa bunuh diri bisa menjadi salah satu pilihan orang-orang yang putus asa atau depresi dengan lingkungannya. Bagian lain yang menarik adalah ilmu tentang fengshui dan masakan-masakan di Jepang yang ditampilkan di buku ini. Saya jadi dapat ilmu baru, khususnya tentang hari-hari Rokuyo yang berperan dalam peruntungan. Overall, buku ini memang tidak seintens Holy Mother, tapi tidak ada salahnya mencicipi misteri remaja ini.

  • Arin
    2018-10-27 22:11

    Baiklah aku langsung pada reviewnya saja. Dengan ciri khas Akiyoshi sensei yang menggunakan POV 1-nya. Aku bisa menebak isi cerita dan plot twist yang ada, aku sudah membaca review di GR tentang novel ini dan mencoba untuk tidak terlalu berharap tinggi seperti saat aku membaca buku Holy Mother yang menjadi buku favoriteku yang merupakan karya terbaik dari Akiyoshi sensei yang sudah aku baca. Sejauh ini aku merasa kesal dengan tokoh Ruri yang berpikir kalau dia adalah orang paling malang di dunia dan merupakan gadis yang memiliki hati paling putih /plak/ dia bukan tipe heroine yang aku sukai, tapi dia diciptakan dalam sosok yang lebih realistis karena sifat menyebalkannya itu. Aku merasa kalau dia bukan hanya gadis yang malang yang kehilangan orangtuanya, aku merasa dia memiliki sedikit gangguan mental apalagi dari cara bagaimana dia merusak hubungannya dengan orang-orang. Soal cara Ruri memandang Reiko sebagai nenek sihir, aku pikir dia termasuk orang yang menganut cara pikir ibu tiri ala Cinderella. Lalu soal si hantu cowok, hah! Aku sudah menduganya hahahahahaha!!! Rasanya sedikit kecewa dengan buku ini, mengingat Holy Mother berhasil membuatku membaca ulang buku itu dan mencari cacatnya plot yang dibuat Akiyoshi sensei yang sayangnya tidak aku ketahui. Scheduled Suicide Day bisa dibilang punya basic cerita sama dengan The Death Return. Aku malah berharap harusnya Scheduled Suicide Day di keluarkan sebelum Holy Mother bukannya sesudahnya, dengan begitu para pembaca setia Akiyoshi sensei tidak harus berdecak kesal karena plot twist yang ada terlalu mudah untuk di tebak. After all aku suka saat Ruri mulai berubah berkat si hantu cowok ganteng bernama Hiroaki. Aku berhasil menyelesaikan buku ini selama 3 jam itupun di selingi dengan mencari playlist lagu agar aku tidak tertidur karena terlalu lama dibawa berputar jauh dari tebakanku. Aku saran kalian membaca The Death Return, Scheduled Suicide Day, Girls in the dark dan terakhir Holy Mother. Itu urutan membaca karya Akiyoshi sensei yang aku rasa sempurna, bagi kalian yang penasaran dengan karya yang ditulisnya.

  • Wardah
    2018-10-20 20:04

    'Yang membunuh ayahku, adalah ibu tiriku.'Setelah menuliskan itu, Ruri bersiap menggantung dirinya di hutan Desa Sagamino. Akan tetapi, sebelum jiwanya melayang, Ruri justru bertemu sosok cowok bernama Hiroaki yang hanya bisa dilihatnya sendiri."Karena itu, aku akan membantumu mencari solusi masalahmu, agar kau tidak perlu mayi. Solusi yang nyata. Dengan begitu, aku bisa menghentikan niatmu untuk bunuh diri." (h. 93)Apakah akhirnya Ruri berhasil menemukan bukti tindakan ibu dirinya dengan bantuan Hiroaki? Atau rencana bunuh diri Ruri jadi terlaksana?Yang saya suka dari buku ini:1. Latarnya tentang makanan, masakan, restoran, yah intinya dunia makanan yg bikin laper dan mupeng.2. Hiroaki. Meski awalnya dia sedikit menuduh Ruri yg ingin bunuh diri soal 'memikirkan perasaan org yg ditinggalkan', tapi pada akhirnya Hiroaki tidak menghakimi. Dia bertanya masalah Ruri dan berusaha membantu mengatasi masalah itu.3. Tidak seperti Holy Mother atau Girls in The Dark, Scheduled Suicide Days lebih mirip The Dead Returns. Dengan unsur klenik hantu-hantu dan thriller yg minim. Namun, saya suka bgt twist dan ending-nya. Rasanya sangat lega :')4. Moral dan isu bunuh diri yg dibawa dg sangat baik. Recomended bgt!Yang saya tidak suka dari buku ini1. Lambat bgt. Okelah ini semacam karakteristik novel Jepang kali ya, tapi tetep aja lamaaaaaaa bgt sampai ke bagian yg dinanti-nanti 😂2. Detail. Di satu sisi, saya menikmati setiap detail yg ditulis, tapi di sisi lain kadang justru sebal bgt. Apalagi saat bagian penting dan justru hal-hal detail soal deskripsi, latar, blabla justru dijabarkan (meski ada yg ternyata penting).3. Ilustrasinya. Bukannya Ruri harusnya berkacamata? 😓Kesimpulan: Cocok bagi yg mau baca isu bunuh diri. Juga bagi yg menikmati cerita-cerita Akiyoshi Rikako, di novel ini pun unsur kekeluargaannya sangat kental (hingga saya terharu).Ulasan lengkap segera!

  • Zulfy Rahendra
    2018-10-26 20:48

    Dibandingkan buku-buku Akiyoshi Rikako sebelumnya, buku ini paling..... biasa. Mungkin karena di dalam relung hati terdalam saya udah antisipasi. Kebiasaan sama twist di setiap bukunya, dari awal jadinya saya udah nebak-nebak ini endingnya bakalan gimana. Dan ketika bener aja dong endingnya demikian, jadinya "hmmm gini aja nich bousqu."Tapi untunglah dibandingkan buku-buku sebelumnya, buku ini juga paling.... informatif. Paling seneng kalo cerita ada sisipan ((( pengetahuan )))nya. Apalagi pengetahuan yang saya emang saya agak tertarik dan masih blank banget. Duh, anaknya senang mencari ilmu banget yha. Saya, entah kenapa, sukaaaa sekali sama benda-benda pembawa keberuntungan, walaupun sebenernya ga percaya-percaya amat juga. Jimat, simbol-simbol kebaikan, hal-hal kayak gitu. Sampai kadang saya dikira dukun. Seneng aja gitu pake benda/simbol yang dianggap baik buat sekelompok orang. Rasanya kayak menggenggam doa, harapan. Dan di buku ini banyaaaakk banget dijelasin soal fengshui. Menarik sekali ternyata. Fengshui arah, letak benda, warna, hari, pakaian, sampe makanan. Suka! Haha!Dan selain ilmu fengshuinya yang lucu-deh-leh-ugha-nich-dipraktekin, deskripsi makanannya yang melimpah ruah juga bikin lapar. Entah emang deskripsinya bagus, atau emang saya aja yang mudah tergoda. Memang yha saya jangan dibiarin baca buku yang ada hubungannya sama makanan.Jadi intinya, secara keseluruhan, buku ini ceritanya ga surem walaupun judulnya agak depresif. Cenderung manis dan positif malah. Memberi nasihat agar kita sebagai manusia tidak banyak suudzon dan berani ngadepin masalah. Teenlit banget bukunya.Dan percayalah, kupu-kupu di cover bukunya itu ada maknanya. Walaupun sebenernya ya ngga perlu dimasukin ke gambar juga sih...

  • Mizuki Arjuneko
    2018-10-19 20:12

    Kurasa ada misi pencegahan bunuh diri dalam novel ini (Hope so!). Di satu sisi ada bagian yang menampar "kelemahan" orang-orang yang berpikir untuk bunuh diri atau bahkan yang sudah melakukannya :( Tapi di sisi lain, ini juga sebenarnya adalah peringatan buat orang-orang yang sembarangan menempelkan stempel "lemah" pada para pelaku. Like if you can't be the solution, why bother making it worse? Tindakan si hantu Hiroaki yang berusaha menguatkan Ruri agar batal bunuh diri tidak hanya dari sekadar kata-kata tapi juga tindakan itu benar-benar hal yang berani dan seharusnya jadi inspirasi orang-orang di dunia nyata. Yet can't say much here. Udah nulis "lumayan panjang" buat review 3-nya Alicia Lidwina, sih. Agak pusing jadinya. Hahaha. Mungkin ntar kalau kubaca ulang di kesempatan berikutnya, review yang lebih mendingan bisa dituliskan.Yang jelas kata kunci dalam novel ini adalah: persepsi. Kita bisa saja salah memahami orang karena terjebak dalam cangkang pemikiran kita sendiri. Dan sering kita butuh orang seperti si Hantu Hiroaki yang mau mencela cangkang palsu itu dengan ucapan seperti "Dasar cewek feng shui kerdil!" yang ia tujukan pada Ruri, agar kita bisa melepas cangkang pemikiran yang salah itu. Tentunya orang yang mau mengatakannya karena memang peduli dan ingin meluruskan tanpa meninggalkan.

  • Alinda
    2018-11-08 23:02

    oh tuhan. bintang 1. aku merasa jahat T.Tsetelah baca buku ini, secara spontan langsung buka goodreads dan ngerating satu which is gak suka. bener, deh. gak ada satu hal pun yang saya suka dari buku ini :( sedih rasanya, apalagi kalo inget saya punya semua buku Akiyoshi dan ini buku pertamanya yang saya baca. apa kabar 3 buku lain hiksduh, gak sanggup ngereview. takut berkata kasar :(pokoknya, yang ingin mencari buku misteri, thriller, suspense, dark mystery atau apa itu, jangan beli buku ini. kalo pengen deg-degan, pengen memecahkan misteri2 kayak gitu, buku ini bukan pilihan. oh, tuhan. i better stop. byeee

  • Kungkang Kangkung
    2018-11-14 17:00

    perasaan berkecamuk bacanya. rasanya hangat di bawah langit mendung. hahaha... *apaan deh...agak bisa ditebak sih, tapi tetap akiyoshi rikako jago twist end.

  • Rain
    2018-11-07 23:50

    aku salah karena sudah berharap tinggi akan novel ini :(