Read Belenggu by Armijn Pane Online

belenggu

"Banyak yang hendak saya nyatakan, apakah yang dapat menghalangi saya, kalau menurut keyakinan saya, saya patut berbicara? Karena cara saya melahirkan keyakinan akan dicela setengah orang?Karena soal yang saya kemukakan, menurut setengah orang mesti didiamkan?Karena saya akan dihinakan orang?Karena saya akan dimaki?Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah seg"Banyak yang hendak saya nyatakan, apakah yang dapat menghalangi saya, kalau menurut keyakinan saya, saya patut berbicara? Karena cara saya melahirkan keyakinan akan dicela setengah orang?Karena soal yang saya kemukakan, menurut setengah orang mesti didiamkan?Karena saya akan dihinakan orang?Karena saya akan dimaki?Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain.Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru"Armijn PaneOktober-Desember 1938...

Title : Belenggu
Author :
Rating :
ISBN : 9795230468
Format Type : Paperback
Number of Pages : 159 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Belenggu Reviews

  • Diana Afifah
    2018-10-31 12:24

    Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan roman klasik Indonesia ini. Ditengah terpaan kesibukan yang sangat, akhirnya dalam waktu lebih dari 1 bulan saya menamatkan hingga halaman akhir. Bagi saya sendiri cukup sulit membaca buku ini karena kata-kata nya yang begitu melangit ditambah banyaknya istilah-istilah khas sastra lama.Disamping keterbatasan-keterbatasan itu, bagi saya tidaklah berlebihan apabila Belenggu karya Armijn Pane ini disematkan sebagai salah satu novel berpengaruh di zamannya. Pasalnya, ide cerita dan penggambaran karakter yang ada sungguh di luar kebiasaan pengarang-pengarang di zamannya. Armijn Pane disini berhasil membuat suatu terobosan dengan mengangkat tema "emansipasi" yang pada saat itu mungkin masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu.Secara umum, Belenggu berkisah tentang kehidupan rumah tangga dokter Sukartono "Tono" dengan istrinya Sumartini "Tini" yang berjalan kurang harmonis karena adanya "angan-angan" atau "cita-cita" yang terbelenggu harapan masing-masing. Di tengah konflik batin antara keduanya, muncul Siti Rohayah "Yah" yang menjadi sandaran sekaligus penenang Tono dalam menghadapi permasalahan-permasalahnnya dengan Tini.Tini dalam kisah ini digambarkan sebagai seorang perempuan ningrat, pintar, berpegang teguh pada prinsip, dan menghendaki persamaan. Namun di sisi lain, layaknya seorang wanita, Tini juga memiliki sikap rapuh dalam dirinya yang terlihat dari kecemburuannya terhadap Tono. Sikap Tini yang digambarkan sebagai seorang istri yang tidak mau hanya berdiam diri di rumah untuk mengurusi urusan rumah tangga, sementara dirinya mengetahui bahwa potensi yang ada pada dirinya bisa melebihi itu, menurut saya menjadi suatu penggambaran yang nyata atas konflik bagi setiap wanita di Indonesia hari ini, khususnya yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Jika dilihat-lihat, gambaran tokoh Tini ini mirip dengan R.A Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Mungkin penggambaran ini berhasil dengan baik dituliskan oleh Armijn Pane karena beliau adalah salah satu penyunting buku kumpulan surat-surat Kartini tersebut.Inilah salah satu kalimat yang menurut saya sedikit banyaknya menggambarkan betapa Tini adalah wanita yang berfikir lebih dari zamannya:"Yu, waktu sekarang dua buah jalan yang dapat ditempuh oleh anak gadis bangsa kita. Dahulu cuma sebuah saja, ialah jalan kawin. Dan barang siapa menyimpang jalan raya itu yang sebenarnya sempit - diejek orang, orang berbisik-bisik kalau dia lalu: "tidak laku". Dan kalau ada juga ada seorang yang berani menyimpang, pergi melalui jalan kedua, memang Yu Ni, sampai sekarang belum ada juga, yu, si berani itu akan selalu didesak-desak, sampai terdesak juga ke jalan raya: dia kawin juga. Tetapi sekarang yu, sudah tiba waktunya. Kalau mesti aku rela binasa" h.70 Tokoh Tono dan Yah dalam novel ini juga tidak kalah menariknya. Tono digambarkan sebagai sosok dokter penolong yang murah hati, sehingga dirinya sering disibukkan dengan rutinitas mengunjungi rumah-rumah pasien. Akan tetapi rasa-rasanya Tono mulai gamang apakah profesi dokter tersebut adalah benar-benar sesuatu yang diinginkannya. Hal ini dirasakannya karena saat masih sekolah, Tono dikatakan kurang cocok menjadi dokter sebab dirinya lebih tertarik pada hal-hal berbau seni. Kemudian ditambah dengan sikap Tini yang acuh tak acuh pada dirinya, sering bepergian seorang diri, akhirnya rasa cinta Tini yang meredup tersebut digantikan oleh sosok Yah yang ternyata menyimpan rasa pada Tono. Tokoh Yah sekalipun tak terhindar dari sosok kontroversional, karena Yah adalah seorang penyanyi keroncong yang digambarkan pernah menjalani hidup yang gelap. Namun, Yah disini dapat mengimbangi intelektualisme dari Tono sebagai seorang dokter, dan menjadi Oase bagi Tono dikala dirinya merasa "Rusuh".Meskipun pada awalnya saya merasa kesulitan membaca buku ini karena bahasa yang tinggi, namun hasrat saya untuk menyelesaikannya tidak pernah padam. Hal ini karena issue yang disampaikan oleh Armijn Pane dalam buku ini sangat menarik, ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya sifatnya lebih filosofis. Secara sadar atau tidak sadar, permasalahan yang disajikan oleh tokoh-tokoh dalam cerita ini bagitu relevan dengan keadaan sekarang. karena betul memang "manusia seringkali dibelenggu oleh angan-angan. Masing-masih oleh angan-angannya sendiri. Belenggu itu berangsur-angsur mengikat dan menghimpit semangat, pikiran, dan jiwa..." Saya tidak menyesal menghabiskan waktu lama membaca buku ini, karena seperti yang dinyatakan dalam halaman belakang buku bahwa "Buku ini tak urung menjadi salah satu roman klasik modern Indonesia yang mesti dibaca segala orang terpelajar Indonesia"

  • Indriana Bagaya
    2018-11-18 13:30

    Roman yang bagus. Berkisah tentang sepasang suami istri yang mengalami masa surut dalam rumah tangganya, membiarkan ego menguasai hingga pernikahan harus bubar di tengah jalan. Di sela konflik mereka, muncul orang-orang ketiga yang memberi warna. Yang menarik, Armijn Pane menuangkan pergolakan batin tokoh utama dan tokoh lainnya lewat dialog yang menggelitik. Salah satu yang dapat dipetik adalah tanpa disadari, setiap manusia memiliki belenggu dalam dirinya masing-masing. Apa pun itu bentuknya. Armijn mencoba menguraikan salah satu bentuk 'belenggu' itu dalam roman ini hingga mengantarkannya lepas untuk menyambut 'belenggu' lain yang mungkin datang seiring situasi dan kondisi dimana sang tokoh nantinya berada.Yang sedikit mengganggu mungkin adalah bahasa indonesia yang digunakan. Namun hal itu cukup wajar, karena pada tahun 1930-an dimana roman ini ditulis, bahasa kita belum menemukan pakem yang digunakan seperti saat ini.

  • Salza Annisa Puspitasari
    2018-11-07 11:37

    Impressionis mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menggambarkan karya Armijn Pane ini. Sebagaimana ditulis oleh H.B. Jassin, "Lukisan Armijn Pane tentang masa pancaroba ini tepat, bukan untuk ditiru, melainkan untuk diperlihatkan kepada angkatan yang akan datang, betapa besar kesusahan yang telah diderita oleh nenek moyangnya dalam perjuangannya mencapai kemajuan di zaman ini."Roman klasik ini berhasil membawa pembacanya ke konflik emosi tiap-tiap karakternya. A must-read bagi yang ingin mempelajari latar perjuangan individu di Indonesia tahun 1930an.(view spoiler)[Kartono, seorang dokter yang oleh masyarakat dianggap sebagai dokter yang ramah, baik hati, dan pekerja keras; namun di dalamnya memiliki konflik batin menginginkan seorang istri yang "tunduk" padanya (yang ternyata di akhir cerita disebutkan bahwa Tini, sang istri sudah mengatakan bahwa ia hanya akan menjadi duri dalam kehidupan mereka karena tidak bisa memberikan cintanya). Belenggu bagi Tono adalah pekerjaannya sebagai dokter dan perilaku istrinya.Tini, istri Tono, digambarkan sebagai wanita yang berperilaku kebarat-baratan; aktif di organisasi sekitar namun tiada pernah terlihat bepergian bersama suaminya, sehingga dicemooh oleh wanita-wanita di sekitarnya karena berpemikiran terlalu bebas; namun dalam hati Tini melakukan hal tersebut karena ingin terbebas dari belenggu stigma sosial yang pada masa tersebut beranggapan bahwa seorang istri harus manut dan menjadi pelayan sang suami di sepanjang hidupnya.Rohayah, seorang wanita penghibur yang kerap kali berganti nama karena menganggap bahwa nama bukanlah identitas/jati diri seorang individu; Menurut saya, Yah merupakan karakter yang sangat unik karena di satu sisi ia terbebas/menang dari belenggu stigma sosial yang menyebut dirinya wanita kotor dengan menjadikannya sebagai "identitas diri”, namun di sisi lain ia justru ingin membebaskan diri dari belenggu tersebut melalui impiannya untuk "menikahi seorang dokter" dan sepenuh hati hanya melayani seorang lelaki.Sebagai seorang wanita, saya bisa merasakan bahwa Yah dan Tini, 2 wanita yang berada dalam belenggu sosial masing-masing, menginginkan kehidupan satu sama lain. Yah ingin terikat seperti Tini, sedangkan Tini ingin bebas seperti Yah. Mungkin itulah yang membuat mereka langsung bisa berdamai ketika bertemu.Berikut beberapa part favorit saya dalam novel ini.Halaman 40, pembicaraan Tono dengan Yah."Mengapa hendak dibongkar cerita lama? Bukankah kita hendak membuat cerita baru?""Supaya tahu merintis jalan baru.""Tidak perlu lakon lama. Biarlah aku saja mengetahui dia. Kadang-kadang, kita bertanya, mengapa, mengapa...""Yah, manusia itu tak ada yang tiada pernah jatuh. Kalau jatuh, hendaklah coba berdiri lagi. Kalau engkau terus terlentang, sesama manusia akan menginjakmu, tidak akan ada seorang juga suka menolongmu. Pandailah membimbing nasibnya sendiri, pandai menegakkan dirimu sendiri.”Halaman 103-104, konflik dalam batin Tono.Massa memang rahasia, sebagai api dalam gunung, tiba-tiba memusnahkan. Massa, rahasia, massa terjadi dari seorang-seorang, kalau demikian bagaimana tentang individu? Adakah factor pada manusia itu yang tiada dapat dikira-kira lebih dahulu? Bagaimanakah di seluruh alam ini? memang rahasia. Kematian Mar, kematian cintanya, siapa yang dapat mengira-ngirakan semua factor lebih dahulu? Siapa dapat meramalkan percintaan mereka akan mati juga? Bakal matikah semuanya yang ada di dunia ini? Cita-cita juga akan mati?Cita-citaku. Kalau semuanya di dunia ini rahasia, rahasia yang tiada dapat dipahamkan, apakah perlunya ilmu, apakah perlunya mengobati, kalau tiada dapat diobati? Apakah therapienya? Apakah therapienya, jiwaku kehilangan .....ya, kehilangan cita-cita, ah, bukankah cita-citaku dahulu menjadi dokter, menjadi dokter yang melihat yang kotor-kotor, melihat orang buruk-buruk?Tapi apakah kehendakku? Mestikah kulepaskan...... hendak menjadi apa? Hendak menjadi tukang biola? Tidak tidak! Tidak?Berpikir lagi, berpikir lagi. Buat apa? Riang gembira saja, karena buat apa berpikir? Karena tidak ada perlunya. Berpikir artinya mencari menyelesaikan soal, mencari ilmu, apa perlunya ilmu? Bukankah lebih baik, kalau pikiran dimatikan, biar hati jiwa dilambung-lambungkan oleh lagu, oleh perasaan? Perasaan, perasaan? Hati mati... tetapi kalau terus demikian, terus saja melihat orang mati, melihat yang kotor-kotor, perasaanku akan mati. Ah, memang sejak dahulu, aku sudah tahu, tiada cakap menjadi dokter.Kesimpulan itu menerbitkan rasa riang dalam hatinya.Halaman 106-108, pertemuan kembali Kartono, Mardani, dan Hartono.Hartono: "Tertawalah, Tono, bagimu ilmu untuk menolong manusia. Mati angan-angan! Mencari ilmu, sekolah untuk mendapat pekerjaan, untuk mendapat duit, bukan untuk dilulur oleh massa. Mati angan-angan menjadi...... tersungkur, menjadi gila. Begitulah kita sebagai manusia dibelenggu oleh angan-angan. Belenggu itu berangsur-angsur mengikat dan menghimpit semangat, pikiran dan jiwa, makin lama makin keras, sebagai orang rantai yang dibelenggunya kaki dan tangannya, kedua belahnya, sedang lehernya kena kongkong pula."Kartono: "Memang benar demikian, yaitu kalau kita biarkan kita dibelenggu, tetapi kalau kit apada mulanya benar sudah memasang segala tenaga kita, kalau kita terus juga bersikeras hendak melepaskan belenggu itu, kalau kita pakai segala alat yang mungkin diperoleh pasti kita terlepas juga dari ikatan belenggu itu. Lagi pula angan-angan tidak jauh dari cita-cita, angan-angan dapat menjadi cita-cita yang menggembirakan hati dan menghidupkan jiwa, mengangkat diri melepaskan segala belenggu yang mengikat semangat yang muda, cuma cita-cita yang baru saja dapat membawa kehidupan baru. Angan-angan yang hidup menjadi cita-cita dan cita-cita menghidupkan manusia, membuat dia bernyawa dan bergerak.”Halaman 126, pertemuan Kartono dengan paman Tini.Kalau hendak membuat api, dengan dua potong kayu, janganlah diperpukulkan, karena maksudmu tidak akan kesampaian. Jangan potong-potong, tapi pergosok-gosokkan dengan perlahan-lahan… Jangan dengan angkara murka, hendaklah dengan sabar juga. Sabar, bukan tanda kalah, melainkan tanda seimbang, tanda sama tengah yang sejati, pangkal mula kehidupan yang benar. (hide spoiler)]

  • Ryan
    2018-11-01 15:31

    Roman tentang masalah rumah tangga yang diceritakan dg baik oleh Armijn..

  • Dhyn Hanarun
    2018-10-28 14:39

    "Semua manusia demikian juga, begitulah kita sebagai dibelenggu oleh angan-angan, masing-masing oleh angan-angannya sendiri-sendiri. Belenggu itu berangsur-angsur mengikat dan menghimpit semangat, pikiran dan jiwa, makin lama makin keras, sebagai orang rantai yang dibelenggunya kaki dan tangannya, kedua belahnya, sedang lehernya kena kongkong pula." – halaman 107Kehidupan Sukartono dan Sumartini sebagai suami istri berada di ujung tanduk. Mereka sibuk dengan kepentingan masing-masing. Tono dikenal sebagai seorang dokter terpandang. Tiap hari dia sibuk memenuhi panggilan orang sakit. Sedangkan Tini sibuk dengan kegiatan sosial. Tidak ada yang mencoba untuk membangun komunikasi atau sekedar menanyakan apa yang salah dengan hubungan mereka. Dinginnya hubungan Tono dan Tini sudah menjadi buah bibir. Sebagian besar orang-orang membela Tono dan menyalahkan Tini yang terlalu sibuk di luar dan tidak memilih diam di rumah selayaknya istri yang baik.Dalam salah satu panggilan dokter, Tono bertemu dengan Nyonya Eni. Dengan cepat Tono dan perempuan yang sempat tinggal di hotel itu menjadi sangat dekat. Tono merasakan ketenangan dari perempuan yang dia panggil Yah itu. Setelah beres mengurus orang sakit, dia lebih memilih mampir ke rumah Yah daripada langsung pulang ke rumah dan bertemu dengan Tini. Yah lalu membuka rahasia bahwa mereka pernah bertemu beberapa tahun lalu. Dia merasa sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan Tono dan mengenang lagu lama mereka. Tini sendiri ternyata punya seorang laki-laki dari masa lalunya, Hartono yang merupakan teman lama Tono, yang dia kira sudah meninggal dunia. Suatu saat, pasien anak-anak yang Tono tidak berhasil diselamatkan dan meninggal dunia. Itu membuat Tono berpikir tentang profesinya, juga kehidupannya dengan Tini dan Yah.--- Dilihat dari konflik yang muncul, cerita yang Belenggu punya akan terasa seperti cerita biasa di tahun 2014. Padahal novel ini termasuk fenomenal di masanya. Cerita perselingkuhan antara dokter dan pasien dan istri yang ‘membangkang’ sulit diterima saat itu. Tini terus-terusan di-bully mengenai keinginannya untuk aktif di luar rumah dan sedikit ‘mengabaikan’ suaminya. Tono sendiri tidak mengerti apa yang Tini mau. Sehingga dia tidak mengacuhkan istrinya. Dia menenggelamkan diri ke urusan dokter dan akhirnya bertemu dengan Nyonya Eni alias Yah. Orang-orang yang mengetahui kedekatan Tono dan Yah itu menyalahkan perilaku Tini. Sediiih dan nyesek bacanya. Kenapaaaa? Sepertinya hal-hal tersebut masih dibilang tabu dan jarang terjadi dulu. Karakter lain menunjukan istri itu harus di rumah, melayani suami dan tidak boleh menonjol. Di zaman sekarang beberapa orang masih dinilainya sebagai hal yang tidak baik. Tapi kemajuan zaman membuat pikiran orang-orang lebih terbuka dan bisa menilainya lebih baik. Selain masalah hubungan segitiga, Tono, Tini dan Yah merasakan pertentangan batin masing-masing. Tono merasa pekerjaannya sebagai dokter itu sia-sia karena setiap manusia akan mati nantinya. Tini mempertanyakan apa salahnya dia mempunyai kesibukan lain selain mengurus suami. Lalu Yah menenggelamkan diri ke masa lalunya yang buruk dan tidak bisa diubah.Baca review selengkapnya di sini -- http://dhynhanarun.blogspot.com/2014/...

  • cindy
    2018-11-10 15:27

    Cerita Belenggu ada berkisah pada sepasang suami istri, Dokter Sukartono and istrinya Sumartini yang tiada lagi seiya sekata dalam mengarungi biduk rumah tangga. Tini mencari penghiburan dengan macam-macam acara perempuan, bazaar, mengasuh anak piatu, kongres dan yang sejenis. Tono mendapatkan penghiburan dalam peluk rayu bunga raya bersuara merdu, Rohayah namanya. Benih ketiadaselarasan ini sebenar-benarnya berawal pada luka pada hati Tini yang ditinggal pergi kekasih pujaan hatinya, kelak pembaca ketahui ada nama Abdul Hamid atau Hartono, sahabat karib Dokter Tono pula. Antara Tono dan Tini satu dua kali kita lihat masih ada rasa kasih tertahan, namun hubungan keduanya terlampau complicatie, membuat enggan untuk berkata benar. Keduanya berjalan pada dua arah yang berbeda. Akhir kisah ditulis memang tiada biasa untuk novel romansa, namun baik juga begitu. Kesemua tokohnya berujung mampu melepas belenggu yang mengikat, meski tiada tahu kemana jalan kan melangkah.*****Novel ini ditulis sekitar pertengahan dekade 1930an, dan saat dicetak menuai banyak sekali kritik dan kecaman. Keberanian sang pengarang mengambil tema perselingkuhan dan wanita penghibur yang dianggap tabu, ditambah lagi kemandirian perempuan dan akhir kisah yang non konvensional membuat kisah ini menjadi buah pikiran yang jauh melampaui zamannya. Bahkan saat membaca, sempat saya berpikir bahwa ini lebih baik daripada novel The Great Gatsby yang mengusung tema sejenis.Yang sedikiiittt mengganggu dalam buku ini adalah masih banyaknya typo yang tidak terbetulkan (ini adalah cetakan ke-22 gitu loh). Bukan typo yang cukup berarti sebenarnya, kurangnya spasi antara duakata, kelebihan spasi di tengah ka ta, sebenamya untuk sebenarnya, dan lain-lain yang sejenis. Ataukah ini memang kesengajaan untuk mempertahankan keontentikan tulisan?

  • Irma shofia
    2018-11-02 11:31

    Belenggu.mengisahkan sepasang suami-istri yang (katanya) hidup bahagia. sang suami adalah seorang dokter hebat yang menematkan akademi dokter di Malang. HBS school pun telah dilalap habis olehnya. sedangkan seorang istri dengan aktivitas yang luar biasa. aktif diberbagai organisasi wanita. cerdas, energik, cantik rupawan. itulah alasan mengapa sang suami (Tono) menikahi sang istri (Tini).Berumah tangga bagi saya adalah sebuah tahapan yang harus dipikir matang. Memutuskan untuk menikah bukan hanya sepasang laki-laki perempuan yang saling mencintai saja, kedua keluarga pun harus turut serta disatukan.Tono dan Tini menikah atas dasar kesukaan Tono terhadap luaran Tini saja (intelektual, kecantikan, dan integritas). Tono tak pernah mempedulikan seberapa besar cinta Tini terhadapnya. Toh yang [enting Tono telah berhasil memenangkan kompetisi untuk menikahi Tini. Ah Aku menang, batin Tono saat itu.Maka sudah bisa ditebak bahwa rumah tangga keduanya tak baik. kesibukan Tono dan Tini pun menjadi sebuah alasan utama untuk mereka berkonflik. Tini dengan egonya pun tak pernah melayani suaminya, dan tentu saja Tono mencari perempuan lain yang dapat melayaninya.Bu Eni (pasien Tono) berhasil menjebak Tono hingga benar-benar menjadi perempuan idaman. Maka sejuruslah berhembus berita bahwa Tono dan Tini sudah berpisah. Kawan-kawan Tono dan Tini bergunjing dengan senangnya. Hingga Tini mengajukan cerai karena belenggu atas Tono tak kuasa ditahan. Bu Eni sebagai perempuan simpanan Tono memutuskan untuk mundur, mundur dan mengalah sebagai keputusna terbaik yang dipilihnya. Ketterpisahan Tini-Tono-Bu Eni rupanya tak menjadi solusi terbaik, belenggu masih ada menyelimuti hati masing-masing. Belenggu akan tetap menjadi belenggu

  • Lilia Zuhara
    2018-10-27 07:10

    Sudah lama sejak Saya baca buku ini. Mungkin sekitar 6 tahun yang lalu. Untuk nama tokoh-tokohnya, jujur Saya lupa. Yang bisa saya ingat adalah sedikit plot dan inti ceritanya, yang (menurut saya) cukup breakthrough, mengingat jaman disaat buku ini ditulis.Buku ini secara garis besar menceritakan tentang pasangan suami istri di era setelah kemerdekaan RI. Sang suami adalah seorang dokter yang sibuk, dimana sang istri tidak menjadi istri yang diharapkan sang suami (hanya tinggal di rumah, melayani etc.). Konflik timbul ketika seseorang dari masa lalu sang suami datang dan menggoyahkan kepuguhan sang suami mengenai rumah tangga yang ia miliki.Yang menarik dari buku ini ialah konflik batin yang dijabarkan untuk ketiga tokoh utama dalam cerita. Selain itu, isu yang diangkat dalam buku ini adalah isu percintaan yang masih dianggap tabu pada jamannya. Konflik batin yang dipaparkan tak urung berbeda dengan konflik batin yang dialami oleh masyarakat masa kini, namun dengan redaksi penulisan yang klasik dan banyak menggunakan istilah Belanda (dimana pada jaman tersebut, bahasa Belanda masih banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari).Buku ini menjelaskan secara implisit bahwa Armijn Pane merupakan salah satu satrawan yang berani mengangkat topik tabu dan membawanya dengan gaya bahasa yang tenang, seakan yang ia ceritakan bukanlah suatu hal yang tabu.

  • Fikri
    2018-10-29 07:14

    oke, mungkin tokoh2 yg hadir, setting2 yang ditampilkan sudah sering kita lihat di cerita2 atau sinetron2 Indonesia. seorang dokter muda, istrinya, dan cinta lama dokter tersebut.sekilas terdengar klise dan biasa bukan?tetapi tidak, penokohan dan setting tersebut hanya sebatas sarana dari novel ini. Poin terpenting dan terkuat dalam novel ini adalah pada suara2 batin dari dua tokoh utamanya, si dokter dan si istri.konflik rumah tangga yang biasa antara si dokter dan si istri inilah yang membangun novel belenggu ini.argumentasi2 serta konsekuensi2 logis mengenai "belenggu" cinta dan kehidupan masa lalu serta "belenggu" atas pandangan orang mengenai hubungan mereka di masa ini dikaji begitu mendalam dengan penggambaran suara di kepala dua tokoh tersebut.Belenggu2 itulah yang "memfasilitasi" kesadaran keduanya akan perjalanan hubungan mereka ke depan.kalau boleh saya bilang, ini bukan novel romansa biasa, melainkan novel psikologis dengan sarana romansa.walaupun begitu, mungkin ini novel yang tidak mudah dinikmati. karena tata bahasa Indonesia lama yang sedikit banyak masih dipengaruhi bahasa belanda dan melayu.tetapi after all, ini memang novel yang pantas dimasukkan sebagai salah satu novel paling berpengaruh bagi Indonesia.

  • Kurnia Dwi Aprilia
    2018-10-30 08:18

    Well, penulis banyak bermain perasaan. Sebenarnya selaku pembaca saya cukup tergugah dengan alur cerita dan perasaan para tokoh di dalam cerita. Namun sayangnya banyak bagian yg hampa makna karena penggunaan bahasanya adalah bahasa Indonesia tahun 1940an yang ejaannya jelas berbeda dengan ejaan bahaasa Indonesia jaman sekarang. Inti ceritanya adalah tentang belenggu yg dialami sepasang suami-istri. Suaminya berprofesi sebagai seorang dokter dan istrinya banyak cemburu kepada suaminya dikarenakan profesi suaminya tsb, sehingga tugas sebagai istri terhadap suami tidak serta merta dilaksanakan dengan baik. Istrinya tidak lagi suka bercakap dengan suaminya, tidak menyambut suaminya saat pulang kerja, dll. Mereka seperti hidup sendiri-sendiri di rumah bersama. Hingga akhirnya sang suami bertemu dengan seseorang di masa lalunya dan kembali mencintainya. Istrinya banyak diabaikan. Rumah mereka semakin selayaknya neraka dunia. Di penghujung cerita, sang istri meninsafi kesalahannya, dan sang suami menyadari bahwa dirinya ternyata masih mencintai istrinya. Belenggu2 lah yg selama ini telah menyesatkannya. Namun terlambat, sang istri memutuskan untuk berpisah, sedangkan wanita 'simpanan' sang suami tersebut juga pergi entah ke mana rimbanya.

  • Mark
    2018-11-16 14:15

    "... semua manusia demikian juga, begitulah kita sebagai dibelenggu oleh angan-angan, masing-masing oleh angan-angannya sendiri-sendiri. Belenggu itu berangsur-angsur mengikat dan menghimpit semangat, pikiran dan jiwa, makin lama makin keras, sebagai orang rantai yang dibelenggunya kaki dan tangannya, kedua belahnya, sedang lehernya kena kokong pula."Sudah lama tidak membaca roman psikologi, yang minim dialog, tidak mengandalkan kekuatan deskriptif, dan justru hampir separuh isinya dipergunakan untuk menggambarkan pergulatan pikiran masing-masing tokoh: dokter Sukartono, Tini, Rohayah. Bahkan ada satu-dua karakter pendukung pun sempat diperkenalkan kepada para pembaca melalui alur pikirannya. Entah mengapa, lantas pikiranku pun menarik perbandingan dengan karya William Faulkner, semisal "The Sound and The Fury".Ada satu hal yang membingungkan saat membaca roman ini. Sebenarnya setting aslinya tahun berapakah? Kalau betul diterbitkan tahun 1940, ah, terasa sangat maju ceritanya, seolah menuturkan Jakarta tahun 1950-an. Namun bila terbit pertamakali tahun 1950-an, mengapakah sudah diulas dalam majalah sastra Pujangga Baru edisi Desember 1940?

  • Belgia Jong
    2018-10-23 13:19

    "There was this man, Har, in Surabaya, who went to a wayang orang dance performance one night and became so infatuated with the character Hanuman that he found himself wanting to be Hanuman. That's all he could think about. I've forgotten what the psychiatric term for it is..." Mardani looked at Kartono but Kartono gave no reply. "But, anyway, that man, in his own mind that is, became Hanuman, the monkey king. He began to move like Hanuman. He forgot how to speak; his voice was that of a monkey's.""Then he is a monkey, because in his own mind that's what he is.""And so it is with all of us. We're all like that, so bound up in our individual dreams, each one of us shackled by our private fantasies. Gradually the fetters tighten; braces are clasped on our spirit and our mind. The longer they are on, the tighter they become. Our hands are bound, then our feet, and then our necks." (But who are we if not what we make of ourselves?)Anyway, great ending. One of the best endings I've read in a while. A bit unsatisfied with Yah's story and how everything still seemed to turn out okay for Tono, but one can't have everything. Characters are so good.

  • R.G. Widagdo
    2018-10-23 15:31

    Sampul : 4/5Pembuka : 3/5Cerita : 3/5Bahasa : 4/5Penutup : 4/5Total : 4/5

  • Amrina Wijaya
    2018-11-14 14:12

    Hebat, hebat. Tokoh macam Tini mungkin adalah tokoh yang biasa saja hari ini--tipikal perempuan yang menginginkan kemerdekaan, kesetaraan dan kebebasan dalam berlaku. Namun, mengingat novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1937, tokoh Tini menjadi terobosan pada zamannya, kukira. Yang aku suka dari novel klasik seperti Belenggu ini adalah bahwasannya penulisnya, dalam konteks ini Armijn Pane, tidak meletakkan tokoh-tokohnya pada kutub yang berseberangan, pada opisisi biner jahat-baik atau antagonis-protagonis seperti karya sastra hari ini. Setiap tokohnya memiliki bobot kesalahan dan kebenarannya sendiri sehingga agak sulit bagi kita pembaca untuk menilainya secara hitam putih. Hal ini baik, karena bukankah manusia, secara natural, memang begitu adanya?Empat bintang deh :)

  • rarasekar
    2018-11-14 11:25

    Mungkin ini pilihan pribadi, tapi buku ini sangat berkesan buatku. Sebenarnya ceritanya tidak terlalu unik apabila dibacanya saat-saat sekarang. Di zamannya, ceritanya ini termasuk yang non-mainstream katanya. Tapi aku ga punya keahlian buat bahas itu lebih dalam sih. Secara personal, buku ini menyentuh beberapa titik-titik kesadaran dalam diri, berkat elaborasi alur pikiran para perannya. Entah mengapa, pengaruh Krishnamurti kepada Armijn Pane begitu terasa di dalam Belenggu. Walau peran-perannya yang berdialog, sebenarnya membaca Belenggu seperti mengarungi perjalanan untuk berkenalan lebih dekat dengan Armijn Pane. Sekali lagi, pendapat pribadi dan tentunya, sotoy. Sekian dan terima kasih :D

  • Abi Ghifari
    2018-10-30 13:28

    Roman karangan Armijn Pane yang ditolak untuk diterbitkan oleh Balai Pustaka ini mungkin saja karena tema yang diangkat begity berbeda dengan roman-roman lainnya yang terbit kala itu. Sementara roman lain mengangkat kisah perbenturan adat dan budaya dengan humanisme dan emansipasi, Armijn mengangkat kisah perselingkuhan berlatar di Kota Betawi yang mulai modern dan kental akan pengaruh budaya Barat, disertai dengan deretan peristiwa dan pikiran batin yang sebenarnya cukup klise. Sehingga dapat dikatakan bahwa konflik utama tidak terjadi pada alur cerita, melainkan pada cara pikir dan tutur pengarang itu sendiri.

  • Jusmalia Oktaviani
    2018-11-12 07:28

    Buku ini isinya adalah pikiran, pikiran, dan pikiran. Serasa saya membaca pikiran saya sendiri yang sering kemana-mana saat membaca buku ini. Dialog antartokoh tentu ada, tapi tetaplah inti cerita novel adalah pikiran dari para tokoh. Banyak nilai kebijaksanaan yg bisa diambil, seperti layaknya buku-buku di masa dulu. Namun novel ini masih menggunakan bahasa peralihan. Ada bahasa belanda, indonesia, melayu, tercampur baur jadi satu. Susunannya juga tak sesistematis novel sekarang. Jujur, membacanya hingga habis menjadi suatu perjuangan tersendiri. Namun, novel ini layak dicoba, jika ingin mengetahui bagaimana 'belenggu' dalam diri kita masing2.

  • Cholis Setyo
    2018-11-18 14:37

    Menambah wawasan maupun khasanah bahasa Indonesia di era 1940an, menjadikan rasa nasionalisme kembali membumbung. Tak kalah dengan para novelis masa sekarang, di era tersebut mereka menunjukkan ke kita betapa lihainya mempermainkan emosi pembaca, akhir ceritapun tak bisa diduga. Pesan motivasi atau moral juga terasa disitu, tetapi semua kembali ke masing2 pembaca untuk menyikapinya. Novel yang bagus...

  • Milvan Murtadha
    2018-11-10 11:40

    Diilhami oleh teori psikoanalisis milik Sigmund Freud, novel ini menceritakan cinta segitiga antara seorang dokter, istrinya, dan temannya; cinta segitiga ini akhirnya membuat semua mereka kehilangan orang yang paling dicintai. Belenggu mengutamakan konflik psikis tokoh. Novel ini juga menunjukkan kalau sifat modern dan tradisional itu sebenarnya berlawanan. Belenggu adalah "novel Indonesia terbaik dari sebelum perang kemerdekaan"

  • Santika Garnita
    2018-10-23 12:25

    This is my most favourite book. Armyn Pane the author was the one who courage me to write and love literature and philosophy. in the year 1930's he disclose the womens problem, affairs. which was in that year for Indonesia wasn't a respected attitude to do. Dr. Sukartono the main character did the affair very well. The author, has written the story very well romantic.

  • Luluk
    2018-10-22 12:28

    Sebuah karya sastra yang menggambarkan kisah yang sering dialami masyarakat tentang seorang dokter (Sukartono)yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan terkenal dengan kedemarwanannya sehingga dia sangat mencintai dan mementingkan pekerjaannya, yang membuat keharmonisan dengan Sumartini, istrinya, semakin meregang.

  • Dhini
    2018-11-16 09:15

    buku ini menceritakan ttg perselingkuhan dokter sukartono dengan salah seorang pasien yang dipanggil Yah.. karena perempuan ini membuat sang dokter merasa menjadi "the real husband", dibanding bersama istrinya Tini, yang dianggap terlalu mandiri sbg perempuan..yah.. begitulah kurang lebih isinya..

  • Noni
    2018-11-04 08:13

    Novel zaman baheula. Menceritakan kejiwaan suami istri yang “terbelenggu”dalam ikatan pernikahan. Tema dan ide nya biasa. Denger2 agak kontroversial di zamannya. Tapi gaya bahasanya bagus meskipun alurnya lambat.

  • FibrinaDamayanthi
    2018-10-26 09:24

    ceritanya sebenernya menarik sih, tentang ketidakcocokan sepasang suami istri yang keduanya berlatar pendidikan yang sama, berprofesi sama.sayang bahasa yg dipakai Bahasa Indonesia kuno, jadi alur ceritanya agak kelamaan

  • Yunita
    2018-10-20 08:31

    manusia masing-masing punya belenggu yang membuatnya susah bergerak, tak bebas bicara, bahkan tak mampu melawan.

  • Kurnia
    2018-11-13 13:20

    Cerita buku ini begitu membosankan. Begitu biasa. Saya heran kenapa buku ini mampu menjadi begitu fenomenal, masuk ke dalam soal-soal ujian Bahasa Indonesia.

  • Adi
    2018-11-17 08:16

    roman cinta klasik, ouchh !!

  • Aries RM
    2018-10-29 10:18

    penting..

  • Luckily's Luqii
    2018-11-01 12:34

    I want to read now

  • Silvia Alawiyah
    2018-10-21 08:22

    i want to read book