Read The Naked Traveler 4 by Trinity Online

the-naked-traveler-4

Jalan-jalan bersama Trinity memang tak ada habisnya. Tiga seri laris The Naked Traveller ternyata tak cukup untuk menceritakan pengalaman seru Trinity menjelajah ke berbagai negara. Sesuai ciri khasnya, Trinity mampu memberikan “kesan baru” pada setiap tempat yang ia singgahi. Selalu ada kejutan yang akan membuat kita melakukan refleksi.Kali ini, kita akan diajak untuk menJalan-jalan bersama Trinity memang tak ada habisnya. Tiga seri laris The Naked Traveller ternyata tak cukup untuk menceritakan pengalaman seru Trinity menjelajah ke berbagai negara. Sesuai ciri khasnya, Trinity mampu memberikan “kesan baru” pada setiap tempat yang ia singgahi. Selalu ada kejutan yang akan membuat kita melakukan refleksi.Kali ini, kita akan diajak untuk menikmati Afrika, makan zebra di Namibia, dipenjara dan ketemu hiu putih raksasa, eksisnya Ladyboys di Thailand, sampai dipalak anak kecil di Kalimantan. Tambah lagi, kita juga bakal tetep sirik setengah mati sama cerita Trinity yang makan sushi paling enak sedunia dan nonton festival Unta di Pushkar.Bersiap-siaplah dengan virus Trinity yang kali ini lebih seru!...

Title : The Naked Traveler 4
Author :
Rating :
ISBN : 9786028864657
Format Type : Paperback
Number of Pages : 272 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

The Naked Traveler 4 Reviews

  • Ren
    2019-03-20 17:06

    Trinity adalah jaminan mutu untuk kategori buku - buku yang nyeritain travelling. Bukan panduan gimana dan harus ngapain pas di jalan sih. Trinity simply told her story, dimana justru ini kenapa saya suka baca buku dia. Nyablak, acuh, suka nyinyir (hihihi, maaf ;) dan kadang kontradiktif. Kenapa saia bilang kontradiktif? Di sisi lain bisa aja jelek2in negara sendiri, Indonesia. Tapi disisi lain juga memujinya kalau dibandingkan sama beberapa negara. Ah, tapi benernya bukan kontradiktif ya. Lebih tepatnya Mbak T bisa liat dari 2 sisi aja ;)).Masih sama dengan buku - buku sebelumnya, TNT memuat cerita perjalanan Mbak T ke tempat - tempat yang WOW! Cuma sekarang lebih teratur untuk pembagian ceritanya, karena ada sub2 judul. Beberapa sudah ada di blog, beberapa ada yang baru saya baca. Sayang, apa karena faktor U, Mbak T kurang centil lagi. Padahal paling suka baca bagian dia yang ngomentarin cowo ganteng di berbagai negara :)). Walau ada cowo ganteng 1 di TNT 4 ini yaitu Tezar (eh sama namanya ma salah satu teman Gudrids!) atau E.T kalau di komik Duo Hippo Dinamis. Apa saya bilang, cowo Turki ganteng! Sekretaris saya itu mikir apa sih pas bilang mereka jelek2 -__-"Kali ini Mbak T ke Namibia, lalu Afrika Selatan buat liat white great shark, hiu terbesar di dunia, ga sengaja nginep di distrik merah Geylang di Singapura, kembali lagi ke Beijing yang penduduknya jorok minta ampun kalau sudah berhubungan sama yang namanya Toilet, ke Yordania, dan tak lupa Mbak T menceritakan pengalamannya makan seafood yang bikin saya SIRIK sama dia. Saya kan doyan seafood, tanpa peduli sama kolesterol :)). Favorit saya sih pas dia cerita liburannya di Raja Ampat. Dan 10 pantai Indonesia yang menurut dia terbagus dan terkeren dari pantai2 Indonesia lainnya (Kenjeran ma Ancol kalah dah!)Baca buku ini, selain pengen jalan2 ke luar negeri (horee saya udah punya paspor lhoo, hihihi :)) ), juga membuat lebih pengen jalan2 ke dalam negeri sendiri. Banyak banget spot pariwisata Indonesia yang menurut mbak T bagus tapi sayang ga terolah dengan baik. Yah, kalau dibilang nyalahin pemerintah lagi,mau gimana lagi. Emang salah kok, wek wek wek :P.Note : Makasih karena sudah memasukkan Malang, kota tercintaku (baru inget tercinta setelah terdampar di Jakarta) sebagai kota yang peduli dengan peninggalan jaman Belanda (tapi kok gw lupa yah sama restoran apa itu namanya di jalan Basuki Rahmad -_-")

  • Astrid Lim
    2019-03-13 21:40

    sorry to say but although the stories in this book are as interesting as in the previous books, most of them are already in the blog, nothing is quite new, the arrangement of the chapters is not that good, and frankly speaking, sometimes i can't stand how the author writes! especially when she writes about diving - and how the beginner divers make her cranky. as if she's never been a beginner herself. hmphh...hopefully she'll become more humble in her next books. a pity, because she has a thousand reasons to become one!

  • Desty
    2019-03-12 17:00

    Setelah mengoleksi buku The Naked Traveler 1-3, plus langganan postingan blognya mbak Trinity, saya harus punya buku The Naked Traveler (TNT) 4 ini. Makanya saya bela-belain PO, demi mendapatkan buku TNT 4 yang ditanda tangani oleh mbak Trinity langsung. Masih sama dengan buku TNT sebelumnya, TNT 4 juga adalah kumpulan kisah perjalanan mbak Trinity keliling Indonesia dan keliling dunia. Tapi TNT 4 bukan hanya berisi kisah belaka, ada juga tips-tips untuk melakukan perjalanan.Yang saya suka dari ceritanya mbak Trinity adalah kejujurannya. Yang jelek dibilang jelek, yang bagus dibilang bagus. Berbeda dengan buku-buku bertema travelling lainnya yang biasanya hanya menceritakan sisi bagusnya saja. Contohnya di cerita pertama Disiksa Kurisi, mbak Trinity menceritakan penderitaannya untuk menikmati indahnya kepulauan Raja Ampat. Untuk mencapai tempat itu, dia harus naik kapal kargo pengangkut kendaraan yang dipakai untuk “mengangkut” penumpang. Bukan hanya satu dua orang penumpang, tapi puluhan bahkan mungkin ratusan penumpang. Kebayanglah sesaknya, apalagi yang jualan makanan terbatas dan perjalanan ditempuh dalam waktu 15 jam. Atau juga pada cerita perjalanan ke Dayak, dimana mbak Trinity Dipalak Anak Kecil hanya untuk bisa berfoto bersama:)Di antara banyak cerita dalam buku TNT 4, saya paling suka dengan cerita Reuni Bersama Tezar. Soalnya si Tezar ini pernah diceritakan di TNT 2 dan di buku Duo Hippo Dinamis. Kalau dulunya Tezar itu “miskin keparat”, sekarang dia sudah jadi artis. Tapi bersama Tezar, tetap saja nyerempet ke ganja :mrgreen:Walaupun sebagian kisah dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di blognya, tapi buku ini tetap sangat layak untuk dikoleksi, bahkan (bagi saya) bisa jadi panduan jalan-jalan yang asyik. Dan seperti biasa, sehabis membaca TNT bawaannya selalu pengen travelling. Hmm.. sudah kena “virus” Trinity nih

  • Ari Murdiyanto
    2019-03-17 13:45

    Seperti buku TNT terdahulu, buku ini tetap enak dibaca. Cara cerita Trinity yang mengalir dan tidak membosankan membuat saya cepat menyelesaikan buku ini. Pengalaman traveling yang dibagi oleh Trinity pun menarik.

  • Megarini
    2019-03-14 14:38

    Kocak

  • Stebby Julionatan
    2019-02-24 17:53

    entahlah, kenapa aku belum menemukan keasyikannya. bagi saya, dari keempat buku Trinity, The Naked Traveler #3 masih yang paling OK. sorry....

  • bakanekonomama
    2019-02-25 15:43

    Baca buku The Naked Traveler memang bikin ngiler! Beberapa ada juga yang bikin saya kangen dan teringat kenangan lama... #tsaaahhhAda banyak kisah di buku Trinity terbaru, The Naked Traveler 4 (dengan cover warna pink ngejreng, alias pink jablay) ini. Mulai dari jalan-jalan di sekitar dalam negeri, Indonesia tercinta, hingga ke luar negeri mulai dari Namibia (safari bareng ribuan zebra), Afrika Selatan (yang bikin saya heran banget karena masih ternyata apartheid masih idup disana. OMG! In this 21st century gituh! Plus yang melaksanakannya adalah mereka-mereka orang bule terhormat yang menjunjung tinggi HAM! HAM!! Hak Asasi Manusia!! Human Rights!!! #ganyante), Yordania (Duh, pengen boo ke Petra...), Turki (Yang penuh dengan abang-abang gantengnya), Singapura (yang entah kenapa belum bisa membangkitkan minat saya untuk berkunjung ke sana), dan Jepang (yang bikin saya kangen setengah idup... >o<).Karena kisah Trinity tentang Jepang (yang meskipun cuma seucrit) bikin saya kangen sama negara matahari terbit itu, jadi saya mau membandingkan kisah saya dengan kisah Trinity aja kali ya...Pertama di bagian "Mengaduk Perut" di kisah "Sushi paling enak sedunia". Jujur sih ya, saya nggak tau sushi terenak sedunia itu yang kayak apa, tapi di Jakarta itu sushi-nya memang kurang enak. Kecuali Sushi Tei sih. Sebagian besar sushi di sini tuh udah dimodifikasi, seperti yang kata Trinity, masuknya dari Amrik yang mungkin rada gimana gitu kali ya makan ikan mentah doang pake nasi yang udah dikasih cuka. Jadilah mereka modif dengan di grill dikit, pakein mayones, dll. Ketika di Jepang dulu, saya sama temen-temen saya punya warung sushi langganan. Soalnya harganya murah. Sepiring cuma 105 yen sahaja (isinya ada dua biji). Sementara toko-toko sushi yang lain tuh pasti lebih mahal dari itu. Tapi memang tergantung kualitas ikannya sih, makin aneh jenisnya makin mahallah dia. Nah, warung sushi favorit kami ini namanya "Kura Zushi". Ada kaiten zushi (sushi yang mejanya muter-muter itu loh)-nya juga, jadi bisa milih sesuka hati. Uniknya, di Kura Zushi ini ada tempat buat masukin piring yang udah dimakan. Selain si pihak warungnya jadi gampang ngitungnya (dan nyucinya juga), si pengunjung pun senang. Soalnya, kalo udah lima piring ada semacam undian gitu. Hadiahnya macem-macem! Saya pernah dapet gantungan kunci lucu, alat tulis lucu (buku, pensil, dan penghapus), pin lucu, dsb. Biasanya kalo ke warung itu, saya bisa abis sampe 10 piring. Hohoo.. Pernah lebih kayaknya, kalo lagi ngidam banget. Tapi nggak masalah, soalnya kan cuma nasi sama ikan mentah doang (eh, tapi nasi kan karbo..). Lagian habis itu biasanya kami pulang ramai-ramai ke asramanya jalan kaki. Maklum, nggak ada ojeg disonoh. Plus kalo naek bis rada-rada ribet jalurnya. Ditambah lagi rata-rata pada nggak punya sepeda juga. Jadinya, jalan kaki dah.. Lumayan, 30 menitan dari warung itu ke asrama.Ada satu hal yang saya sesali ketika saya di Jepang dulu. Saya maleesss banget nulis!! Akhirnya, pengalaman saya setaun disana menguap gitu aja deh. Nggak semua detail bisa saya ingat. Maklum, dulu saya sempet jetlek (tsaahh.. pdhl cuma beda dua jam), culture shock, season shock, dsb. Saya masih inget banget ketika baru tiba di Jepang saya kedinginan gara-gara saya bawa jaket tipis doang. Soalnya pede banget sama kata-kata senior saya yang bilang kalo Jepang itu anget. Lah iyak, dibandinginnya sama musim dingin sonoh, jelas aja anget. Kalo dibandingin sama Indonesia ya duinginn lahh... Sampai teman saya berkomentar, "Udara di Jepang tuh kayak di coolbox!" :DSelanjutnya, di kisah "Mulutmu Harimaumu", saya jadi inget sama kisah saya dan teman-teman saya (yang sama-sama orang Indonesia) seneng banget ngomongin orang Jepang di sana. Ngomentarin kebiasaan aneh orang Jepang di depan orangnya (tapi mereka nggak ngerti xp), dan ngomongin orang Jepangnya juga! xDSaya inget suatu hari saya dan seorang teman saya sedang berbelanja di sebuah supermarket di dekat asrama. Ketika saya lagi milih-milih sayuran, temen saya datengin saya terus ngomong dengan santainya, "Tik.. Liat anak itu deh." "Hmm.. Kenapa?" "Mirip monyet ya?" Dan saya cuma bisa terkikik-kikik denger ucapannya yang kelewat jujur itu. Untung emaknya nggak ngerti, kalo ngerti udah dikerangkeng kali teman saya itu... xpDi cerita itu juga saya jadi inget sama temen saya yang pernah tinggal di Belanda. Jadi, kayaknya kebiasaan ngomongin orang asing pake bahasa sendiri tuh emang ga cuma dialami sama Trinity dan saya aja ya. Ceritanya, temennya temen saya ini lagi naik kereta di Belanda. Dia sama temennya duduk sebelahan sama bule yang... Bau. Dengan santainya dong dia ngomongin si bule ini sama temennya. Kira-kira gini dialognya:Mawar: "Eh, gila! Ini bule di samping gw sumpah bau banget!"Melati: "Masa sih? Yah.. Wajar lah. Orang bule kan jarang mandi."Mawar: "Tapi bau banget!! Kayak monyet aja..."Melati: "Wah.. Parah lo.."Nggak lama kereta berhenti. Si "bule bau monyet" ini pun siap turun sambil ngelewatin si Mawar ini. Eh, tau nggak sebelum turun dia ngomong apa??Dia ngomong gini dong..."Permisi, monyetnya mau lewat..."Dan saya ngakak-ngakak denger cerita temen saya itu. Lagian kok ya dia pede banget ngomongin bule di Belanda. Secara negara itu punya sejarah panjang gitu dengan negara kita. Nggak sedikit turunan-turunan orang Indonesia (yang blasteran gitu) masih tinggal disonoh. Bedalah sama ketika saya di Jepang. Mereka tau Indonesia ada dimana aja udah sukur.. Padahal letaknya ga jauh gitu dari negara mereka. Dan... Pengetahuan orang Jepang yang minim (soal geografis) itulah yang sering jadi bulan-bulanan saya dan teman-teman Indonesia saya.. HohohooooSelanjutnya, di kisah "Wisata Ke Perusahaan Jepang" Trinity nyindir perusahaan Indonesia yang pelit banget kalo wisata ke pabriknya. Orang Indonesia rata-rata pada takut kalo dia memperlihatkan pabriknya secara terbuka, orang-orang yang nonton bakal nyontek produk mereka dan besoknya udah ada produk tandingannya!Beda sama perusahaan Jepang, katanya. Yah, saya sih belum pernah study tour ke perusahaan asli Indonesia. Pernah sekali pas SMP, ke pabrik tahu dan tempe di dekat rumah teman saya. Itu sih saya ngeliat semuanya dari awal sampe akhir. Seru juga lhoo... :DNah, kalo selama di Jepang saya sendiri justru udah mengunjungi beberapa pabrik. Pertama ketika ada study tour dari kampus, saya mengunjungi pabrik Shinkansen (Yep, kereta Jepang yang super cepat itu), terus saya ke tempat pembuatan Kokeshi (boneka Jepang dari kayu yang kepalanya bulet terus badannya lurus doan gitu), dan yang terakhir ke pabrik bir! (Yang setelah pikir-pikir, tanya-tanya, baru deh memutuskan untuk ikut...)Yang seru itu sih ketika berkunjung ke pemadam kebakarannya Jepang. Saya nonton film tentang gempa, terus masuk ke ruangan simulasinya. Di sana dikasih panduan kita harus gimana kalo tiba-tiba ada gempa dan kebakaran. Kayak tempat aman berlindungnya dimana dan jalur evakuasinya juga. Kalo gempa, langsung berlindung di bawah benda yang kokoh, misalnya meja. Karena Jepang sering diguncang gempa, mereka jadi melakukan tindakan preventif supaya kalo bencana itu datang mereka benar-benar siap menghadapinya (meskipun mana ada juga sih orang yang bener-bener siap ketika bencana itu beneran dateng). Apalagi ketika saya di sana (2009-2010) orang Jepang udah memprediksi kalau Kantou (bagian timur Jepang) akan diguncang gempa hebat dalam waktu dekat. Alhamdulillah bukan pas saya ada di sana... Tapi setahun setelahnya... Haduh, beneran kan saya nyesel jadinya dulu saya malas nge-blog atau nulis notes di FB. Padahal masa setaun itu nggak sebentar dan kalo sekarang dipikir-pikir, banyak banget cerita unik yang saya alami selama disana. Huhuhuuu... TT____TTSemoga setelah ini saya masih punya banyak kesempatan untuk menginjakkan kaki di luar negeri (khususnya negara-negara Eropa yang udah jadi impian saya dari dulu). Dan saat itu saya ingin bertekad bahwa semalas apapun saya, saya akan tetap berusaha untuk nulis.. HuehuehueeeUps, jadi curhat begini nih...

  • Cici Pratama
    2019-03-01 14:45

    Allohaaaaa mb Trinity! :DThis is the fourth book of serial The Naked Traveler books. Sebelumnya maap ya mb, ini saya baru baca sampe tuntas malah yang keempat saja. Yang ketiga sempat baca setengah, trus malah ‘belum’ dilanjutin. Ntar deh... Yang pertama dan kedua? Karena kebetulan belum punya *yang keempat ini saja pinjem teman -> Anw, thanks a lot Humar!* dan rencana baru mau beli akhir tahun ini, jadi nyusul deh yang lainnya.First of all, I do like your duplicate as a cartoon’s sketch in every-single book of yours. More explicit in your comic, Tersesat di Byzantium. Hahaha, kocak lo mb. Agak mirip juga. Ndut-ndut unyu gimana gitu *mulai deh alay nya*. Di kumpulan cerita The Naked Traveler 4 ini pun ada juga ilustrasi gambar yang dituju ke mb Trinity. Pertanyaannya adalah: Kenapa tidak ada gambar mb Trinity yang aseli dan sangat susah mencari nama aseli nya siapa, although I’ve known. :DSecond of all, I do always love your story. Tiap cerita, punya kesan tersendiri. Ada gaya bahasa yang lengket banget di mb Trinity (TNT), walau ntah apa itu gayanya. Yang penting enak dibaca dan lezat untuk dinikmati serta yang lebih baik lagi jika diamalkan *jalan-jalannya* seperti TNT. Warna kover yang beragam dari The Naked Traveler 1-4 ini juga enak dilihat kalo sudah *dibaca dan* disusun di rak buku. Kover nya khas khas gimanaaaa gitu! Seperti tulisan di kover belakang buku ini, jika akan membaca, bersiaplah dengan “virus” TNT, dijamin bikin galau dan segera berangkat jalan-jalan! Proof it! *karena saya sekarang sedang galau ingin jalan kesana-kemari, but when?*Third of all, pingin menghayal dan berimajinasi tingkat tinggi dulu nih. Sedikit mau ceritain ceritanya TNT di buku The Naked Traveler 4 ini. Boyeh yak?Indonesiana“Disiksa Kurisi” saat jalan Sorong-Misool dengan kapal yang jadwalnya tidak jelas dan sebenarnya pun bukan kapal untuk penumpang manusia. Haish! Kebayang deh gimana rame dan sumuk nya kalo naik itu. Apalagi TNT yang tidak bisa mendapat gelar ‘kelaparan’ ini. Karena perjalanan nya memakan waktu 15 jam. Ya Tuhan...“Dipalak Anak Kecil” bikin aku ngakak sekaligus sebel. Sudah berpura-pura ramah, eh tau nya hebat meras! Dasar anak-anak :pSepertinya memang asyik ber-“Santai di Gorontalo” ya TNT. Ngiri mulu nih dari awal sampe akhir sama TNT yang hueeeebat! Ditambah banyak kenalan dan teman sana sini. Hahay, makin la to the zis -> lazis!Cerita tentang “Berisik”, orang Indonesia memang suka heboh sih kalo lagi kumpul, apalagi jalan-jalan. Suka norak, karena saya juga lumayan berpengalaman dalam ke-norak-an ini. Hahaha... Maap ya turis-turis, kalo keganggu... :pWelcome to AfricaDari dulu sampe sekarang, emang masih banyak yang beranggapan yang namanya Afrika itu “hitam, keriting, gersang, panas, miskin, dsb”. Padahal enggak semua gitu. Afrika itu nggak kecil loh! Kalo mau kenalan sama Afrika, coba deh baca buku The Naked Traveler 4, bakalan bisa men-imajinasi-kan bagaimana Afrika itu sebenarnya seperti apa. karena banyak informasi baru yang mungkin belum kita ketahui dengan baik dan benar. Btw, kebayang TNT jalan-jalan bareng rombongan dengan menggayuh sepeda. Kira-kira kurus nggak ya TNT dibuatnya??? Duh, saya saja pingin banget kesana. Oh!Jalan-jalan Murah“Anak Kuliah Juga Bisa Jalan-jalan” itu benar sekali! Cuma kadang si Maha-Siswa nya aja yang banyak bacot. Nggak bisa karena inilah. Nggak bisa karena itulah. Nah loh, banyak alasan itu bikin kita nggak maju *kata orang-orang yang hebat*. Ini ada beberapa pengalaman pribadi TNT, bagaimana caranya agar anak kuliah tetap bisa jalan-jalan: (1) Pilih kuliah luar kota. (2) Pilih universitas di pulau Jawa, selain Jakarta *intinya di tempat yang biaya hidup murah*. (3) Cari kerja sampingan. (4) Berani menghargai karyamu. (5) Pangkas pengeluaran. (6) Menabung yang rajin. (7) Mengatur waktu. (8) Rencanakan perjalanan. Tapi inget, harus baca keterangan nya dulu ya, di buku The Naked Traveler 4. :D Kata TNT, “LIBURAN terbanyak seumur hidup kita adalah waktu kuliah!” Percayalah!Ada nih “Wisata Murah Meriah di George Town”... Karena ada beberapa tempat wisata gratisnya: (1) George town. (2) Beach street. (3) Padang kota. (4) Lebuh Farquhar. (5) Chowrasta market. (6) Little India. (7) Clan Jetty. George town lumayan deket juga sama Indonesia yang merupakan ibukota Penang, Malaysia. Jadi, lumayan deket – lumayan murah. Makan, penginapan, dan transportasi disana juga murah dan meriah! -> My list to do!Ada beberapa “Prinsip jalan-jalan Murah” yang dicantumin TNT di The Naked Traveler 4: (1) The closer, the cheaper. (2) The lighter, the cheaper. (3) The slower, the cheaper. (4) And the important thing is Quality comes with the price.Mangaduk PerutPingin deh makan “Sushi Paling Enak Sedunia” yang pernah dicobain TNT. Ternyata sushi itu macam-macam nama, bentuk, dan rasa nya...! Kapan ya nyobain? Sekaliiii ajah!“The Ladyboys” sering kita sebut sebagai ‘banci’ alias ‘waria’. Hahaha... Baca aja deh! Ini ceritanya di Thailand. Nah, ternyata harga makanan yang dijual disuatu restoran disana berdasarkan: Apakah kita “boy”, “ladyboy”, atau “lady”.Cinta LautSaya pengen banget bisa renang dan nyelam di air! Oh grandma, teach me! Kayak cerita TNT saat “Dipenjara Demi Bertemu Hiu Putih Raksasa” ini bikin adrenalin naik. So, mantapkan mental dulu deh! HeheheSepertinya wreck diving itu menyenangkan ya mb TNT... *Wreck diving: “Menyelam Kapal Karam”* Daaaaan, cerita mb TNT di Raja Ampat bikin saya ngiler sampe penuh 1 bak mandi. Duuuh, *lagi-lagi* pingin banget kesana! Amin!Di chapter Cinta Laut, mb TNT juga memilih “9 Pantai di Indonesia Yang paling Nikmat untuk Berenang.”Pelajaran PentingKabayang deh, bagaimana kalo saya “Kali Pertama ke Luar Negeri” seperti yang diceritain mb TNT. Sedikit merasa tersindir, meski belum pernah ke luar negeri. Hm, doakan yak! Baru aja didalam negeri, saya suka ternganga-nganga. Kalo keluar negeri gimana yah? #IDKIndahnya “Toleransi Beragama” yang dijalani oleh mb TNT. Sayang, sekarang kita lebih banyak menganggap diri kita lah yang benar. Pilihan kita lah yang paling lurus. Suka juga sama lirik lagu Michael Franti, “Love is too big for just one nation and God is too big for just one religion.”Sial!Baca “Huru-Hara ke Bandara” dengan ending yang menyenangkan, bikin akhirnya tersenyum walau saya pun ikut kalut pas baca ceritanya diawal! :DKebayang merahnya muka mb TNT di cerita “Mulutmu, Harimaumu.” Hahahaha, lantaran saya suka ketawa, ya ketawa saja deh tanggapannya. :pMari berkelanaHm, *lagi dan lagi* pingin melihat “Fakta Situs Sejarah Israel” yang juga merupakan sejarah peradaban dunia termasuk agama Islam. :D Coz we are one brother. :DOh iya! Saya penasaran banget sama “keajaiban Patung Xian” yang disebut Terracotta Army di China. That’s so amazing viewing *in my imagination, ofcourse*.Yang UnikTiap orang pasti berbeda. Tiap negara pasti berbeda. Walaupun ada persamaan, pastinya perbedaan tak ketinggalan. “Wisata ke Perusahaan Jepang” sepertinya asyik yah... *Oh, bu Zizi... Ajaklah saya kesana bersama rombonganmu...* Kita boleh melihat langsung apa yang terjadi didalam perusahaan besar disana. Untuk Indonesia? Yah, bingung juga sih, kenapa suka *sok-sok* dirahasiain segala!Kalo ultah TNT dirayakan dengan “Tua Nonton Konser Band Tua” di Singapura, tahun 2013 ada kejutan apa yak? *Penasaran!*FYI, mulai Oktober 2012 kemarin mb TNT bertekad untuk jalan-jalan keliling dunia selama satu tahun dengan menggunakan paspor RI. Wow! And wow! Good luck ya mb! :D Waiting for your new story as well...

  • Tirta
    2019-03-06 15:51

    Indonesiana:Kali ini saya ikut ngintil ke berbagai tempat di negara kita tercinta ini. Naik kapal Kurisi ke Sorong, ketemu anak-anak kecil suku Dayak, ke Gorontalo (ternyata disana ada bangunan yang mirip dengan Menara Eiffel!), lihat-lihat lubang besar bekas disedot timahnya di Bangka, juga ke Lombok (yang sekarang makin ramai) dan Papua.Welcome to Afrika:Namibia, Afrika. Saya suka tulisannya Trinity karena selain berisi cerita, juga sering kasih info dan pandangan baru tentang suatu tempat. Nggak semua orang di Afrika hitamnya seperti yang kita bayangkan :p Disana juga masih banyak terlihat kehidupan sisa-sisa masa politik apartheid (bahkan masih ada kursi umum yang cuma boleh didudukin oleh orang putih -_-), serem dan serunya wisata safari alam (ngeliat binatang-binatang yang selama ini cuma kita liat lewat tipi/diluar jeruju besi secara live!), berkunjung ke bekas penjaranya Nelson Mandela, juga ada foto dune eksotis Namibia favorit saya.Jalan-Jalan Murah:Intinya, kalau memang mau jalan-jalan ya harus diusahakan. Jangan bilang nggak punya waktu, nggak punya tempat. Jangan pengennya biaya murah tapi nuntut fasilitas bagus. Banyak yang akan dikorbankan, tapi pasti sebanding dengan pengalaman hidup dan keseruan yang didapet. Setidaknya, seorang traveler itu pasti punya banyak cerita.Mengaduk Perut:Dari judul sub-babnya sudah ketauan kalau bagian ini fokus ke kuliner. Eh saya jadi tahu kalau di Thailand sana (yang negaranya paling welcome dengan keberadaan waria) ada pembagian harga makan antara boys, ladyboys, dan girls :))Cinta Laut:Disini kebanyakan cerita tentang pengalaman Trinity LOB (Live on Board atau hidup di kapal) selama di Raja Ampat. Ini yang paling bikin iri! Nggak usah ditanya lagi juga pasti sudah banyak orang tau tentang gimana luar biasa indahnya alam Raja Ampat."...Raja Ampat adalah gabungan antara ribuan pulau karst berbukit, hutan rimba pekat, dan pantai pasir putih. Benar-benar perawan sehingga Phi Phi Islands di Thailand dan Halong Bay di Vietnam langsung berasa tawar! Satu hal lagi yang baru saya alami di Raja Ampat, yaitu berenang di pantai sambil mendengar ramainya kicauan burung!""Disana sesekali hujan, jadi minimal sehari dua kali kami melihat pelangi. Tidak hanya kelihatan jelas lapisan mejikuhibuniu, tapi juga bisa melihat busurnya dari satu ujung ke ujung lain!""Baru kali ini pula saya menitikkan air mata saking kagumnya melihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Indahnya alam Indonesia itu memang bak surga, tapi Raja Ampat itu surga lantai kesembilan!"Hidup di kapal selama dua minggu, terisolasi dari peradaban, tiap hari kegiatannya hanya diving, diving, diving dan menyusuri pantai pasir putih... Ya ampun. Sayang biaya yang harus dikeluarkannya juga ya ampun xp Di bagian terakhir bab ini, Trinity kasih daftar-daftar pantai favoritnya di Indonesia. *jempol*Pelajaran Penting:Trinity memang nggak cuma cerita tentang jalan-jalan, tapi perilaku orang-orang juga. Bahasanya nyinyir, lugas, segar, blak-blakan tapi bener, jadi kebanyakan kita cuma bisa nyengir-nyengir aja bacanya. Apalagi tentang kelakuan norak kebanyakan orang Indonesia yang baru pertama kali ke luar negeri x) Tapi favorit saya adalah 'Follow Your Passion'. Banyak orang bisa bermimpi hidup dari (hanya) melakukan hal yang disukai, plus dibayar lagi (kayak Trinity ini), tapi nggak semua orang berani ngambil resiko untuk berjuang ngelakuinnya.Sial!:Isinya cerita heboh huru-hara hampir ketinggalan pesawat, ngomongin sepasang couple perempuan muda&kakek-kakek di Palau (yang ternyata orang Indonesia...), nginep di hotel ayam di Singapura. Tapi kesukaan saya adalah cerita tentang Tezar, teman Trinity yang sekarang udah jadi seleb (padahal dulunya di TNT2 dia cungkring, kere, dan masih jelek, hihihi)Mari Berkelana:Tempat-tempat yang nggak biasa. Petra (di Yordania), situs-situs ziarah di Israel, Pushkar di India, juga liat-liat Terracota Army (ribuan patung-patung tentara yang dibangun masa kaisar Qin Shin Huang) di Xian, China.Yang Unik:Disini banyaknya kasih perbandingan antara 'kalau di Indonesia' dengan 'kalau di luar.' Di Jepang, perusahaan-perusahaan sangat welcome dan menyambut baik kalau ada masyarakat yang mau berkunjung dan liat proses pembuatan produk mereka (lumayan kan, nambah edukasi juga) sementara di Indo, rasanya nggak banyak yang mau 'buka rahasia perusahaan' kayak gitu (kecuali konter-konter roti atau donat dan coffeeshop yang belakangan banyak ada di mall), alasannya hanya karena takut tersaingi. Di tempat-tempat seperti Hollywood Walk of Fame/Madame Tussauds, pengunjung bisa bebas ambil-ambil foto dan norak-norakan (dan mereka bangga bisa foto sama tulisan nama/patungnya doang), sementara di TS Makassar justru patungnya diamankan (dan nggak banyak deh rasanya orang kita yang mau foto sama patung artis-artis lokal :p)Saya kekeuh berpendapat kalau buku traveling Trinity itu bisa dibaca siapapun, termasuk yang nggak suka jalan-jalan juga. Ada suatu perasaan yang 'terbangun' gitu saat kita baca cerita seru seseorang waktu ngunjungin tempat yang sebelumnya kita nggak tahu. Saya percaya traveling itu proses memperkaya diri, dari yang nggak tahu jadi tahu, dari yang berpikiran tertutup jadi bisa lebih bertoleransi nerima perbedaan, juga bisa lebih menyadarkan diri bahwa kita ini kecil, dan dunia nggak sebatas apa yang selama ini kita tau aja. :)Yah setidaknya, kalau kita nggak sempet/nggak bisa traveling sendiri, setidaknya bisa ngintil lewat buku orang seperti ini :pPS: Masih berharap di buku TNT selanjutnya foto-fotonya dibuat berwarna. Lebih mahal sih, iya, tapi pasti jadi lebih bagus.Review ini juga ada di blog - http://iprefereading.blogspot.com/201... :)

  • Maddy Pertiwi
    2019-03-20 17:42

    Siapa yang tidak mengenal Trinity? Bisa dibilang, dia mempelopori travel writing di Indonesia melalui blognya. Saya baru saja selesai membaca bukunya yang keempat. Seperti biasa, Trinity menceritakan perjalanannya ke berbagai negara. Buat saya, paling menarik ketika dia menceritakan perjalanannya ke Raja Ampat. Ketika buku ini terbit pertama kali di tahun 2012, tentu saja masih sangat minim informasi mengenai Raja Ampat. Trinity menceritakan indahnya Raja Ampat, membuat saya ingin pergi ke sana suatu hari nanti.

  • A.A. Muizz
    2019-03-25 17:45

    Ini kali pertama saya membaca seri TNT. Cara Trinity menceritakan pengalamannya sangat asyik. Jadi penasaran dengan buku TNT yang lain. Apakah bakal seasyik kali ini atau tidak.

  • Fauziyyah Arimi
    2019-03-09 15:07

    (As it written here)Naked Traveler mungkin adalah travelogue paling happening di Indonesia. Meski, saya sendiri, hanya membaca TNT 1 dan langsung lompat ke buku ke-4 ini.Masih berupa tulisan bebas seputar perjalanan, masih dengan kisah-kisah yang mengasyikkan untuk disimak, dan masih terus berhasil mengundang gelak tawa saat membacanya, buku ini menawarkan banyak hal. Buku ini terdiri dari 9 bagian, dan dibuka oleh bagian yang diberi Trinity judul Indonesiana.Di bab awal ini, Trinity menghadirkan cerita yang kalau dibaca memang terkesan sebagai sindiran terhadap perilaku orang Indonesia dalam beberapa hal membuat kita sendiri prihatin. Meski menyayangkan, kenapa ga bagus-bagusnya aja sih yang ditampilkan, tapi toh hal-hal ini tetap harus tidak luput dari perhatian kita. Setidaknya agar kita aware, bukan begitu? Kalo bisa bahkan, menjadi pihak yang memperbaiki. Meski usaha ini butuh waktu yang tidak sebentar karena kebanyakan menyangkut ‘kebiasaan’.Lalu, bab selanjutnya, Trinity mendongengi pembaca tentang Afrika. Jujur, saya paling suka bagian ini. Ngiri sengiri-ngirinya sama Trinity yang berhasil mengeksplor kekayaan fauna Afrika secara langsung! Belum lagi, ia juga meluruskan beberapa kesalahpahaman tentang apa yang umumnya kita ketahui tentang Afrikaans, seperti klasifikasi warna kulit. Hal tersebut, sangat informatif, tentu saja. Dan sarannya tentang Namibia, sebagai bagian dari Afrika yang rekomendatif untuk pemula, akan saya pertimbangkan. Deuh, seolah setelah ini saya bakalan siap-siap travelling ke sana ajah -.-”Lepas dari Afrika dan alam terbukanya yang begitu membuat saya ngiler, Trinity menyelipkan tips dan sederet how to tentang jalan-jalan murah. Di bagian ini juga, saya menandai George Town. Yuk ah, kapan kapan kesana. Hehhe.Kemudian, TNT 4 berisi jurnal wisata kuliner yang dilakoni Trinity. Tentang seafood, sushi, hingga catatannya tentang perlakuan terhadap Ladyboys di Thailand. Ngga nyambung? Hmm..awalnya nyambung kok -,-aDibikin ‘kenyang’ aja ngga cukup, berikutnya Trinity membuat pembaca envy banget-banget karena dia bercerita banyak tentang Raja Ampat. Iya, Raja Ampat yang diklaimnya sebagai surga lantai kesembilan. Bagian cerita Raja Ampat ini nih yang paling bikin gatel, eh, inspiratif. Terlalu banyak hal menggiurkan yang dikisahkan, membuat saya sesak dengan andai-andai #lhaEh, sudah berapa bab saya singgung dengan singkat? Lima. Masih ada empat bab lagi ya? Ngga perlu saya singgung semua ya, kalian baca aja sendiri ya. Kudu. Tapi ada satu bab lagi nih yang cerita-ceritanya juga saya tandai yakni bab Mari Berkelana. Yang saya tandai adalah tentang Petra The Rose-Red City dan keajaiban patung Xian. Yang terakhir itu, cerita Trinity tentang patung Xian bener-bener bikin saya takjub. Terkesima, tapi lebih kepada ambisi besar yang dimiliki Qin Shi Huang yang menjadi alasan dibalik terciptanya Patung Xian.Oia, tentang Trinity yang kurang humble itu, memang terasa sih pas membaca buku ini (juga buku sebelumnya). Ah, tapi mungkin itu karakternya. Entahlah, saya tidak ingin berkomentar banyak. Lalu saya juga merasa sih, beberapa tulisan berasa seperti selipan. Dengan kata lain, tulisan perjalanannya (bukan tulisan selipan) lebih enak kalo lebih banyak lagi. Hehhe.Well, buku ini tetap rekomendatif kok. Buat yang suka jalan-jalan atau yang lebih banyak berkhayal untuk bisa jalan-jalan kayak saya. Eh, buat semuanya deh :grin:Happy reading (and wandering)~

  • Andrea Ika
    2019-03-26 17:37

    Review : The Naked Traveller 4TrinityInfo bukuJudul The Naked Traveler 4 No. ISBN 9786028864657 Penulis Trinity Tanggal terbit September - 2012 Jumlah Halaman 272 Jenis Cover soft cover Kategori Lifestyle Reading level : dewasaRating : 4 bintangSinopsis Jalan-jalan bersama Trinity memang tak ada habisnya. Tiga seri laris The Naked Traveller ternyata tak cukup untuk menceritakan pengalaman seru Trinity menjelajah ke berbagai negara. Sesuai ciri khasnya, Trinity mampu memberikan “kesan baru” pada setiap tempat yang ia singgahi. Selalu ada kejutan yang akan membuat kita melakukan refleksi.Kali ini, kita akan diajak untuk menikmati Afrika, makan zebra di Namibia, dipenjara dan ketemu hiu putih raksasa, eksisnya Ladyboys di Thailand, sampai dipalak anak kecil di Kalimantan. Tambah lagi, kita juga bakal tetep sirik setengah mati sama cerita Trinity yang makan sushi paling enak sedunia dan nonton festival Unta di Pushkar.Bersiap-siaplah dengan virus Trinity yang kali ini lebih seru!ReviewDalam buku seri ke empat ini, Trinity mengajak pembacanya untuk berkeliling Indonesia, mulai dari Bangka, Kalimantan, Gorontalo, Raja Ampat, sampai ke pantai-pantai terpelosok yang sebelumnya belum pernah terdengar nama pantainya. Trinity juga membeberkan rahasia sembilan pantai di Indonesia yang paling nikmat untuk berenang. Perjalanannya ke luar negeripun tak kalah seru, seperti bersafari di Namibia bersama ribuan Zebra, ngebut naik motor gede di Turki, rela dipenjara demi melihat ikan hiu Jaws di Afrika Selatan, dan wisata kuliner makan seafood di seluruh dunia. Diceritakan Trinity makan “Sushi yang paling enak sedunia” dengan harga terjangkau di restoran Sushizanmae, daerah Tsukiji Market.Banyak fakta menarik yang diungkapkan Trinity dalam kisah perjalanannya di buku ini, seperti ketika ia menyaksikan tarian tradisional yang dibawakan oleh suku Dayak Kenyah di Pampang, biaya masuk menonton tarian Rp 15.000/orang, satu kamera dikenakan biaya Rp 25.000 dan berfoto bersama orang Dayak berkuping panjang dikenai biaya Rp 25.000,- per 3 frame harga ini cukup mahal. Seusai acara tarian Trinity dikeroyok anak kecil-kecil yang menggunakan pakaian tradisional Dayak dengan payet dan manik-manik yang sangat agresif meminta uang karena Trinity foto-foto itu tidak gratis.rasanya hihi lucu sekaligus miris. Gaya bahasa novel yang riang dan santai, pembaca seakan membaca diary pribadi Trinity.Tapi, secara keseluruhan, buku ini pantas untuk dibaca. Sangat ringan dan menjadi pengisi waktu yang nyaman. Tanpa perlu mengerutkan kening ketika membacanya tentunya. Dan hal lain yang utama ialah, banyaaaaaak sekali panduan perjalanan yang cerdas dan tempat wisata yang membuka mata kita untuk mau membuka kesempatan berjalan-jalan ke tempat yang ada pada buku itu. Dengan membaca buku ini, pembaca dapat mengetahui lebih rinci tentang budaya dan kondisi di suatu tempat atau negara. Suatu kondisi yang dapat kita terima atau tidak. Pembaca pun dapat lebih siap dan tidak tercengang saat menghadapi suatu kondisi di negara yang akan ia tuju jika ia hendak backpacker ke negara yang telah Trinity bahas di buku tersebut. Buku ini sangat bermanfaat bagi setiap orang yang hendak menjadi independent Traveler.Penasaran? coba bacalah.

  • Syifa Adiba
    2019-03-19 19:59

    emm... tes tes. yeyeyeye. finally, this book is coming. setelah penantian yang cukup panjang *lebai*, buku ini akhirnya terbit. dengan judul yang menggoda, the naked traveler tentu saja dan cover yang cukup mencolok kali ini untuk buku keempatnya, akan sangat mudah bagi kita untuk menemukan buku ini di toko buku. apalagi, karena ini buku baru pasti akan di display di tempat-tempat strategis. bahkan ditata sedemikan rupa agar menarik perhatian pengunjung.first, saya mesti nunggu awal bulan. karena pas perilisannya bertepatan dengan akhir bulan yang mau tak mau bikin saya yang anak kuliahan terpaksa menahan 'high desire' saya buat nyaplok buku ini dari toko buku. dan setelah dapet uang kiriman dari ibu, segera deh cing cong ke TM buat beli buku. sebelumnya, udah sempet buka web-nya gramed buat cek harga. Oke dah. plus min 54ribu. ffuh. sabar. eh, pas saya cek bukunya sebelum akhirnya beli, di TM jadi 42 ribu. yes! dapet potongan 12 ribu. Lumayan buat beli ayam goreng mas roni. #eh. tapi.. tapi.. tapi.. shock berat saat akhirnya berada di depan kasir dan mendapati bahwa buku yang harus saya bayar adalah sebesar 36ribu! itu artinya ada double diskon dan saya mendapatkan total diskon 18ribu. wah.. dapet pahe di kfc noh. #halahsecond, setelah puas ngoprek-ngoprek abang-abang di TM buat nyampulin bukunya, pulang deh ke kosan. buka buku, baca. pas awal-awal baca, langsung ngeh ama kalimatnya. lah ini kan udah ada di blog? oke. meskipun bagian berikutnya ada yang terlewat saya baca di blog. tapi, banyak banget yang udah saya baca dan terpaksa saya skip. belum karena hujan deres yang melanda #plak saya jadi ngantuk dan akhirnya mata langsung drop ke 5W dan zzzzz... saya tidur. bangun-bangun, langsung sadar kalau belum nyelesein buku ini. langsung baca lagi dah. dan yaaahh... meskipun saya harus bilang kalau saya sangat menyukai isi buku ini yang informatif, saya sedikit menyayangkan karena semua tulisan yang ada di buku ini sudah diupload ke website trinity itu sendiri. meskipun, ada beberapa bagian yang di-cut oleh sang editor. mungkin karena konten-nya yang rada dewasa seperti misal, saat trinity bercerita tentang bagaimana kisah ladyboy, seorang pria transgender dan cara mengubah jenis kelaminnya itu. bahasanya masih tetap informatif dan persuatif. membuat saya semakin ingin menabung dan menjelajahi Indonesia lebih lagi. saran saya, jika ingin membuat buku lagi akan lebih baik jika bahan tulisan yang akan ditampilkan belum pernah di-posting sebelumnya di blog karena orang yang rajin membuka blog tentunya akan mengalami kekecewaan seperti saya sebab itu seperti hanya sekedar 'copy-paste'. copy dari blog, paste dah ke buku.kedua, entah ini perasaan saya saja atau memang begitu. saya merasa bahwa semakin kesini humor dalam buku ini semakin sedikit. memang, penulis bukan pelawak tentu saja. tapi, dibandingkan TNT 1 yang bikin saya tertawa terbahak-bahak, buku ini hanya cukup membuat saya tersenyum simpul. saya tahu, 'pressure' sebagai seorang writer sangatlah berat sehingga kadang ide susah sekali didapatkan. tapi, overall saya sangat menghargai karya tulisan dari trinity ini. saya suka gaya bicaranya yang lugas, ceplas ceplos, dan mengandung pelajaran berharga di setiap tulisannya. keep writing, mbak trinity. :D

  • Yuska Vonita
    2019-02-26 21:49

    Akhirnya kelar juga baca buku seri The Naked Traveler keempat ini. Covernya paling funky, pink ngejreng, wueheheehe. Entah apa warna ini adalah warna favorit Trinity apa memang pilihan dari penerbit.Jujur aja, dibandingkan buku-buku sebelumnya, entah kenapa saya merasa buku ini 'garing'. Selipan humor di akhir bab terasa agak nanggung. Tapi, saya masih bisa menikmati buku ini kok. Memang saya ngiler dan iri berat dengan Trinity yang bebas oergi ke mana saja, dibayarin pulak. Well, saya cuma bisa menikmati sambil membayangkan aja berada di tempat-tempat yang disebutkan oleh Trinity.Bagian awal buku ini membahas tentang domestic traveling alias jalan-jalan di kandang sendiri. Saya iba dengan Trinity dan kawannya yang harus menahan lapar di kapal menuju Misool, Raja Ampat. Lalu tentang premanisme anak kecil di Kalimantan, tepatnya di kampung suku Dayak Kenyah di Pampang, saya cuma bisa mengurut dada. Kadang suka malu juga sih dengan budaya minta-minta, entah di kota atay desa, apalagi kuburan. Satu sisi pengin juga budaya kita dianggap di luar negeri, tapi kalau ada turis berkunjung malah disusahin. Duh *urut dada Matt Sanders*Saya ngakak baca bab 'Rumah Kuburan' di Tanah Kusir. Daerah dekat rumah saya. Kebayang aja sih rumah keluarga Trinity yang dibedengi kuburan, lalu tamu yang disuguhi minum dibilang airnya adalah air kuburan. Jahil bener Trinity, hihihi.Ada juga tentang eksplorasi timah di Bangka yang membuat banyak lubang. Tentu lubang-lubang itu kelihatan sangat tidak indah. Ngeri.Saya suka dengan kebiasaan warga Gorontalo yang harus beristirahat tiap siang, atau siesta istilahnya. Menurut para ahli, rehat sejenak di siang hari bisa membantu mengoptimalkan otak. Google, Microsoft, dan berbagai perusahaan raksasa juga memberlakukan siesta untuk karyawannya.Trinity juga membagikan kisahnya di Namibia. Ia bertandang ke sana sebagai duta pariwisata sampai masuk TV lokal di sana. Ada juga tips jalan-jalan murah untuk mahasiswa dan backpacker berbujet pas-pasan. Ada usaha, ada niat, pasti ada cara. Prinsip yang keren dan patut ditiru.Overall buku ini nggak membosankan, bukan panduan wisata atau brosur agen perjalanan. Bahasa yang dipakai Trinity masih santai seperti biasanya, ceplas-ceplos dan terkesan apa adanya. Buku ini juga selalu menyajikan cerita seru di tiap babnya, bikin saya cuma bisa garuk-garuk tanah karena nggak bisa jalan-jalan kayak Trinity.Saya masih menunggu seri The Naked Traveler berikut yang gosipnya akan membahas perjalanan Trinity di Amerika Selatan. 

  • Esti Sulistyawan
    2019-03-03 20:57

    The Naked Traveler buku ke-4 ini luar biasa beracunnya. Bagaimana tidak, baru juga membaca beberapa halaman sudah membuat saya ingin mengikuti jejak Mbak Trinity untuk jalan-jalan. Ambil ransel dan mari bersenang-senang! Sepertinya itu yang terbayang dalam benak saya.Bahasa yang digunakan sangat renyah dan gurih, hingga untuk tulisan yang berisi tentang pengalaman yang menegangkan saja bisa membuat cengar-cengir. "Sendirian di Benua Hitam" menceritakan pengalaman ketika bepergian sendiri saja di Afrika. Bayangkan perempuan dan sendirian, duh saya sudah merinding duluan. Dan seperti yang ditulis di sana, bodi gede sangat disukai para lelaki Afrika. Hiii...membayangkan dikelilingi dan dikejar-kejar cowok-cowok item berbodi besar aja udah serem. Tapi, penjabaran kisahnya bercampur antara serem dan geli. Bab-bab dalam buku ini memiliki benang merah, semisal Jalan-jalan Murah. Disini menjabarkan tips dan trick supaya tetap bisa jalan-jalan walau dengan bujet terbatas. Dan tentu saja membuat saya menepok jidat, 'kenapa dari dulu tidak terpikirkan ya'. Detil tempat-tempat yang diceritakan pun bisa kita bayangkan dengan baik, walau pun pendeskripsiannya tidak terlalu rinci, tapi cukuplah membuat kita ngiler pengen pergi ke sana.Penyampaian cerita dalam buku ini tidak hanya terbatas, tempat ini bagus, tempat itu indah. Bukan, bukan seperti itu, dalam buku ini hal-hal yang tidak terpikirkan justru menjadi daya tariknya. "Diving Bersama Bebek Kena Potas" adalah contohnya. Bisa membayangkan apa isinya? Tulisan itu mengenai cara berenang yang mirip bebek mabuk yang aduhai. Unik? Jelas. Jadi jangan heran kalau saya langsung tamat membaca buku ini hanya dalam waktu 3 jam.Satu-satunya kekurangan dalam buku ini adalah gambarnya kurang ya bok. Kalo ditambah gambar tempat yang menarik dan berwarna pulak pasti deh bikin kita tambah melayang. Ah, kenapa pelit sekali sih Mbak, tambahin dong futu-futunya, supaya kita tambah mupeng :PBermimpi berkeliling dunia dengan dana minim bukan hanya impian. Apakah Anda siap mengikuti jejak traveler yang nekad ini?Setelah membaca buku ini jadi pengen deh buat blog tentang tempat wisata. Ah, apa-apa kok pengen sih , jadi malu haha ^_^

  • Stefanie
    2019-03-24 17:00

    The Naked Traveler 4 tentunya kembali lagi menceritakan petualangan dan perjalanan Trinity ke berbagai macam tempat maupun negara. Dengan 9 bab yang berisi sejumlah cerita, Trinity dengan gaya ceritanya yang blak-blakan dan apa adanya menyuguhkan sebuah buku traveling yang sangat menyenangkan. Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu: Indonesiana, Welcome to Africa, Jalan-Jalan Murah, Mengaduk Perut, Cinta Laut, Pelajaran Penting, S i a l !, Mari Berkelana, dan Yang Unik. Banyak tempat-tempat yang bahkan belum pernah aku dengar sebelumnya, tetapi dengan membaca buku ini, aku merasa telah mempunyai bayangan yang jelas tentang tempat tersebut.Sesuai dengan judul bab-nya, Indonesiana berisi sejumlah cerita yang mengisahkan pengalaman unik Trinity saat berkeliling di negara kita. Salah satu hal baru yang unik, yang baru aku ketahui, ada dalam cerita yang berjudul Santai di Gorontalo. Tentunya nama provinsi ini tidak asing, tetapi aku sama sekali belum pernah ke Gorontalo. Spanyol yang pernah masuk ke Gorontalo ternyata meninggalkan budaya yang masih dimiliki oleh masyarakat di sana, antara lain adalah "siesta" atau tidur siang. Saat jam tidur siang, toko-toko pun kebanyakan tutup; dan hal itulah yang mungkin membuat orang-orang Gorontalo menjadi ramah karena mempunyai gaya hidup yang santai. Trinity juga menceritakan berbagai macam kuliner unik, pariwisata alam bawah lautnya, dan bangunan unik di Gorontalo - membuat provinsi ini menjadi tempat yang sepertinya menarik untuk dikunjungi."Setelah empat hari jalan-jalan di Gorontalo, pulangnya saya berencana terbang naik Garuda pukul 3.00 sore. Karena terlalu cepat datang, saya sampai di bandara sekitar pukul 1.00 siang dan... bandaranya tutup! Pintunya dikunci dan nggak ada siapa-siapa! Lah, aneh banget! Tukang warung di situ bilang santai saja ngopi-ngopi dulu karena petugas bandaranya belum datang. Wah, mereka lagi tidur siang dulu kali, ya? Santaiii..."...Baca review selengkapnya di: http://www.thebookielooker.com/2013/0...

  • Langit Merah
    2019-03-07 14:49

    Sudah lama sih baca buku ini, tapi baru sempat review sekarang. Hahahaha.Kesalahan besar adalah membaca buku ini di saat pekan-pekan menjelang ujian. Pekan-pekan itu, saya dikurung di rumah, boro-boro bisa keluar kecuali ke sekolah. Tadinya, saya cuma direkomendasiin baca buku ini sama pustakawan sekolah yang memang hobi banget jalan-jalan. Pikir saya, buku ini lumayan buat menghilangkan kejenuhan saya... eh tahunya, malah buat saya makin bosan saja di rumah. Hahahaha.Berhubung buku ini udah nggak di tangan, saya juga ngaku agak-agak lupa ceritanya gimana aja. Tapi, yang paling saya nggak bisa lupain itu Ladyboy di Thailand sana. Beberapa orang yang pernah ke negeri Gajah Putih itu pernah cerita soal maraknya transgender di sana, tapi baru pernah ada yang bercerita dengan gaya semenarik Mbak Trinity, yang bisa juga melihat sisi lucunya. Cukup bikin shock juga pas baca di sana WC ada 3 macem. Buset dah, buat saya penasaran sama negaranya.Yang beneran bikin saya ber-what-if ria adalah cerita yang Mbak Trinity sama temennya ke Singapura, lalu booking hotel dan nyasarlah di tempat 'ayam'. Kebayang aja saya bareng temen saya ke tempat semacam itu dan sebelumnya gak tau apa-apa. Kalau paras lumayan, entar ditaksir lagi sebagai 'ayam'. Hadeh.Dipalak anak kecil di Kalimantan. Saya tahu itu menyebalkan, malah sangat menyebalkan, yah mungkin salah satu tantangan buat berlibur yah..Juga Jepang! Ini dia yang buat iri, karena saya kepengen ke negara itu..untung gak ada yang bahas soal Swedia atau Jerman di buku ini. Bisa-bisa batal belajar ujian dah.Ya saya tahu saya salah urutan, tapi setelah ini saya jadi tertarik baca buku 1 sampe 3 nya. Hahahahaha, sorry Mbak. Yang disodorin pustakawannya buku keempatnya, sih! :p

  • -RininTa-
    2019-02-28 15:04

    At last, buku ini aku dapetin juga setelah ngubek2 di toko buku karena bukunya selalu sold out! *psst, aku sempet ngomelin mas2 yang jaga toko buku minta buku ini diadain lgi...maafkan saya ya mas soalnya ngebet banget baca bukunya Mbak Trinity (nangis guling2)* Buku yang ini emang gak ada bedanya sama buku2 sebelumnya - tetep seru, asyik, plus info2 baru bermunculan. Mbak Trinity bener2 bisa bikin yang baca buku ini jadi kepingin ke tempat2 yang diceritain. Selain itu, yang aku suka dari buku ini, Mbak Trinity gak cuma nyeritain luar negeri aja tetapi ada Indonesia juga terutama bagian Raja Ampat. Duh, bener2 bikin ngiler deh! Tapi langsung gak jadi pas tahu harga buat kesana *pingsan mendadak* Bener apa kata Mbak Trinity, ternyata Indonesia itu punya tempat2 yang sebelumnya kita pikir cuma ada di luar negeri. Yang luar negeri pun ternyata gak seperti yang kita bayangkan. Pokoknya di buku ini, bisa bikin kita ber "ah-oh" berkali2. Jadi, secara keseluruhan, saya bilang novel ini cocok banget dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Bahasanya bener2 disesuain sama bahasa sehari2. Walaupun agak blak2an dan nyablak. Menurutku juga, gak cuma yang suka jalan2 aja yang bisa baca buku ini, yang gak suka juga bisa karena saya juga tipe orang yang gak terlalu suka jalan2, tapi tetep enjoy dan malah jadi pengen bisa jalan2 kayak Mbak Trinity. Bener2 gak nyesel deh baca bukunya Mbak Trinity! Ditunggu buku selanjutnya ya, mbak! hehehe :p

  • Putri
    2019-03-10 18:57

    Rasanya masih seru aja saya mengikuti kisah mbak Trinity keliling dunia lewat serial Naked Travelernya. Mbak Trinity, dengan gaya tulisannya yang blak-blakan, apa adanya, sharing bagaimana pengalamannya sebagai traveler, yah sekarang juga writer juga :DBuku ini spesial bagi saya, pertama, covernya pink cerah, damn, i like it :D Kedua, inilah buku pertama serial Naked Traveler yang saya beli. Serius, ane cuma punya buku yang ini. Tiga seri sebelumnya saya dapatkan dengan menyewa, dan dengan keinginan yang kuat, i want to buy, minimal satu dah. Dan i have it :)Buku ini masih membawa kita pada cerita seru Trinity pas jalan-jalan ke manapun dia bisa dan dia dapat. Bagaimana dia lucky di suatu waktu dan kena apesnya di lain waktu. Suka duka ini dia bawa dengan apa adanya, dengan bahasa yang gak formal-formal banget, yah kayak orang cerita ke orang gitulah, blak-blakan lagi. Jadi buku yang nyaman buat dibaca. Well, satu lagi, Trinity membuat satu bagian khusus, nasihat bagi kita yang pengen start travelling like her. Well, i motivated a litle bit, maybe i must start plan my holiday and gather some extra cash.Well, pack your bag, start your (imagination) vacation with Trinity, and realize it sometimes :)

  • Nina Ardianti
    2019-03-25 18:49

    Finished in one day.Review later.---------------------------Saya menyelesaikan buku ini dalam waktu yang singkat, hanya beberapa jam saja. Itu juga karena saya lagi nunggu di rumah teman dan nggak sengaja saya menemukan ini di rak bukunya.Jujur saja, saya bukan penggemar setia Trinity yang menanti-nantikan bukunya terbit atau mengikuti blognya. Saya cuma pernah baca The Naked Traveler 1 dan berakhir dengan saya merasa biasa-biasa aja. TNT 2 dan TNT 3 belom dibaca dan saya langsung skip ke TNT 4, hehehe ;DMungkin karena lompat dari yang No.1 ke No.4, dimana rentang waktunya cukup lama, cara menulis Trinity sudah sangat berkembang. Lebih rapi, lebih terstruktur, lebih komprehensif, sehingga jadinya lebih enak untuk dibaca. Typo-nya dikit, font-nya juga nyaman, tapi kalau di setiap foto ditambahin caption yang menjelaskan foto tersebut mungkin akan lebih baik.Overall, saya menikmati banget perjalanan Mbak Trinity yang disampaikan dengan cara bercerita yang renyah dan menarik. Janji deh, besok-besok saya akan usahakan baca TNT 2 dan TNT 3, hehehe :D

  • Yulistiani D. Indriasari
    2019-02-25 16:02

    Terkikik, merinding, sesak nafas, dahi mengernyit, dan mata melebar, adalah beberapa reaksi yang muncul saat membaca buku ini. Sarat emosi. Trinity dapat mendeskripsikan suatu tempat dan suasananya dengan sangat baik, sehingga penghayatan pembaca dapat muncul dengan baik pula.Trinity berbagi kisah serunya bertualang di Afrika, yang mana menurut kebanyakan orang (termasuk saya, sebelum membaca buku ini) bukan tujuan yang menarik untuk jalan-jalan. Dia juga dengan teganya "ngabibita" saya dengan tulisannya mengenai keeksotisan Raja Ampat yang dia sebut "surga lantai 9". Lalu betapa kecewanya saya ketika membaca 9 pantai terbaik di Indonesia, ternyata yang paling dekat (dari Jakarta) ada di Pulau Belitung. Jauh!Ini bukan buku yang hanya menceritakan tempat-tempat eksotis di dunia atau memberi tips-tips traveling. Nilai-nilai kehidupan juga dikemukakan oleh Trinity di sini. Buku ini menginspirasi tanpa memberi kesan menggurui. Omong-omong saya berterima kasih sekali atas pembatasan usia di beberapa subbab. Baca buku ini dan bersiaplah untuk sirik.

  • Diego Christian
    2019-03-07 18:03

    Nggak tahu mau nulis apalagi untuk TNT yang ke-4. Saya udah baca semuanya, walau masih lebih cinta sama TNT 1, tapi TNT 4 ini nggak kalah bagus kok. :) Meski kecewa sama TNT 3 karena sepertinya hasil copy paste dari blognya. TNT 4 ini sekira saya hanya ada 3 bab aja yang diambil dari blognya, minimal nggak kecewa seperti membaca TNT 3. Bab yang paling saya suka sih tentang Perjalanannya ke Tanah Suci yaitu, Israel, Jerusalem, dan sekitarnya. Ah, dan bab Mbak Trinity menjadi speaker di UWRF 2012, semakin membuat saya berharap bisa menjadi speaker juga di UWRF. :) Dan, bab-bab yang memberi tips bagi anak kuliah untuk bisa traveling ke luar negeri.Semoga masih bisa membaca TNT 5, 6, 7, dan seterusnya, Mbak Trinity. :) Dan yah, Mbak Trinity aslinya memang ramah dan pantas masuk kategori jempolan. :)

  • Nabila Budayana
    2019-03-26 19:44

    Karena kakak kebetulan ngotot beli buku ini, jadilah saya turut membaca. Sebelum baca : saya pikir akan ada apa lagi yang bisa disajikan Trinity setelah tiga seri TNT sebelumnya. Setelah baca : hemm.. ya, memang beginilah Trinity, gaya penceritaannya masih jujur, kocak, informatif. Tapi,greget saya untuk menyelesaikan buku ini tidak sebesar buku-buku sebelumnya. Padahal, greget itu sesungguhnya parameter saya dalam memberi jumlah bintang. Pengalaman penulis masih menarik, namun sesungguhnya saya mengharapkan suatu gebrakan yang bisa menjadikan seri keempat ini menjadi lebih menarik dibanding seri-seri sebelumnya : Diferensiasi. Agar pembaca tidak merasa jenuh. Semoga di kemudian hari jika ada TNT 5, Trinity bisa menyajikan sesuatu yang baru. Satu bintang secara khusus disumbang oleh bab 'Follow your Passion' yang sangat mengena.

  • Rahmadiyanti
    2019-03-22 16:50

    2,5 stars.Pengalaman travelingnya memang banyak dan menarik, hanya saja di beberapa sisi saya melihat dia kurang humble. Soal diver pemula misalnya, wajarlah namanya juga pemula, toh semua pasti pernah jadi pemula untuk pertama kali termasuk penulis :)Terus tentang menginap di kawasan Geylang, katanya dia tidak melihat atau bertemu orang Indonesia di "red light district"nya S'pore itu, hm hm... teman saya berjilbab pernah tinggal bertahun-tahun lho di kawasan itu. Saya dua kali pernah menginap di hotel di Geylang, bahkan bawa keluarga anak balita, yah santai aja ;). Karena namanya kupu-kupu malam, baru keluar malam atau senja, pas kita balik buat numpang tidur di hotel :)

  • Annisa MoeL
    2019-03-25 15:44

    Seperti biasa, membuat iri untuk pengen jalan-jalan juga >.< Terutama cerita saat jalan-jalan ke Afrika, bersafari melihat ratusan binatang berkeliaran di alam bebas seperti National Geography Channel..... Aaaa mauuu >.< Ada tips jalan-jalan murah yang bisa dicontoh. Yang mau keluar negeri, recommended banget baca tulisan-tulisan di TNT ini. Kisah di berbagai negara yang sudah mbak Trinity jelajahi bisa dijadikan pedoman supaya nggak 'tersesat' di negara tersebut. Karena, selain kocak blak-blakan, baca TNT mudah dimengerti.

  • Distadee
    2019-03-19 14:01

    dibanding 2 buku sebelumnya yang pernah aku baca (cuma buku 3 yang belum kubaca), harus kubilang bahwa yang ke4 ini jauh lebih menarik karena isinya nggak hanya jurnal perjalanan. Cuma perasaanku aja atau memang yang keempat ini digarap lebih serius (ya aku tau, semua buku digarap serius) dilihat dari cerita yang dikelompokkan sesuai dengan tema tertentu.Yang aku suka adalah karena di buku ini aku mendapat banyak sekali pelajaran yang berguna, tentang geografi, sosiologi, bahkan tentang moral. :D

  • Mira Afianti
    2019-03-03 19:44

    Pelarian dari Neverwhere nya Neil Gaiman yang gak beres-beres dibaca, akhirnya saya memutuskan membeli (lagi, padahal masih banyak yg belom dibaca - haha) sebuah buku yang ringan yang menurut saya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pilihannya jatuh ke buku ini.Cukup menyenangkan membaca ini, walau di bagian akhir agak ngebosenin. Ringan, dan tentu saja bikin iri. Apalagi di bagian cerita ketika Trinity pergi ke Namibia dan melihat jerapah, gajah, dan hewan-hewan lain berkeliaran dengan bebas di padang rumput Afrika. That's the part of my dream!!

  • Desi Purnamasari
    2019-03-09 20:58

    Setelah membaca seri the naked traveler dari 1-4 didapatlah kesimpulan bahwa Indonesia ini sangattttttt luas, indah, beraneka ragam, dan destinasi pertama yang layak untuk dijelajahi dulu sebelum memutuskan untuk keliling dunia. Banyak juga perjalanan ke luar negeri yang keren-keren di urai di buku-buku Trinity tapi rasanya menjelajah bumi pertiwi tidak akan pernah ada habisnya (saking luasnya, saking beraneka ragamnya, saking bagusnya). I wish someday(or soon? Nobody knows) I can go to the places where Trinity's come.(y)

  • Chi
    2019-03-21 21:03

    Buku ke 4 Trinity, masih tetap ala Trinity. Mengupas sisi sebuah perjalanan apa adanya. Kali ini Trinity mengajak pembacanya menjelajahi Indonesia, menunjukkan Laut-laut terindah untuk Diving. Bertualang di Afrika selatan, karena undangan Kedubes RI :) Sampai kesialan-kesialan yang dihadapinya dalam perjalanan. Membaca buku ini membuat seolah kita menjelajahi dunia, lewat kacamata seorang Trinity.Gak ada kata bosan membaca petualangannya, ditunggu buku ke5 sejalan misi Trinity 1tahun keliling dunia dengan Visa RI :)