Read Life Traveler by Windy Ariestanty Online

life-traveler

‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya. ‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir h‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya. ‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’…(Satu Malam di O’Hare)***Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…… because travelers never think that they are foreigners.*****“… Windy membuat buku ini istimewa karena kepekaannya dalam mengamati dan berinteraksi. Ia juga seorang penutur yang baik, yang mengantarkan pembacanya dalam aliran yang jernih dan lancar. Dan bagi saya, itulah yang melengkapkan sebuah buku bertemakan perjalanan. Pengamatan internal, dan tak melulu eksternal.”—Dewi "Dee" Lestari, penulis“Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris, bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati. Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.”—Valiant Budi @vabyo, penulis...

Title : Life Traveler
Author :
Rating :
ISBN : 9789797804442
Format Type : Paperback
Number of Pages : 381 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Life Traveler Reviews

  • Aveline Agrippina
    2018-11-15 20:06

    Perihal: Surat untuk Seorang PenulisKak Windy,Tentu kau tahu saya bukanlah seorang pembaca yang baik dan bukanlah seorang penulis resensi yang arif. Saya hanya menulis tentang apa yang ingin saya tulis, saya tidak pernah peduli dengan pembaca yang akan menilai apa dan apakah tulisan saya kelak dipuji atau dicerca. Dengan menyandangi apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, setidaknya tulisan yang sudah dilemparkan ke tengah masyarakat, ia sudah menjadi milik publik dan penulis tidak berhak menghujat sang pembaca.Demikian pula tentang surat yang saya tulis dan saya publikasikan ini. Tentu orang akan menilainya dengan cara mereka sendiri. Mungkin ada yang tersenyum, mengerutkan dahinya, atau pula langsung menutup laman ini tanpa acuh. Saya pun juga tidak harus memaksa orang lain membacanya. Termasuk seorang Windy Ariestanty.Ini hanyalah sebuah surat dari seorang pembaca kepada seorang penulis yang jatuh cinta kepada aksara yang ditulisnya. Ya, seorang pembaca yang tanpa rasa malu menuliskan suratnya kepada sang penulis tanpa ia tahu harus dituju ke mana surat itu, atau haruskah dengan cara diam-diam mengirimkannya lewat email sang penulis? Ah, saya bukan tipikal orang yang sanggup mengirim pesan untuk menyatakan langsung dan terang-terangan. Biarkan saja, dengan cara ini, ketika kau tanpa sengaja melintas di dunia maya dan membaca apa yang kutulis ini. Tapi posisikanlah kau sebagai penulis sedangkan saya sebagai pembaca. Itu sangatlah cukup.Kali pertama saya membaca tulisanmu ketika ada di dalam buku Kepada Cinta. Kali itu juga, saya memberikan penilaian secara pribadi bahwa memang seorang Windy Ariestanty ini bukanlah penulis yang tidak bisa tidak meninggalkan kesan ketika saya mengakhiri apa yang ditulisnya. Sederhana, itu yang saya kecap saat mata melintasi baris-baris aksara yang dirawinya.Dan saya sebut Life Traveler ini tak lain dan tak bukan adalah catatan perjalanan dari seorang pelancong yang bekerja dan berjalan-jalan, Windy Ariestanty.Adapun kisah Life Traveler sendiri adalah kisah menatap orang, bertemu dan berpisah, berbicara dan berinteraksi dari kota ke kota, negara ke negara, dan benua ke benua. Tugasmu hanya menceritakannya kembali apa yang kau rasa ketika melintas dan bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kau temu sebelumnya. Mungkin dengan cara inilah, Life Traveler lahir dengan proses yang berbeda daripada anak-anak pada umumnya. Karena itu pula, Life Traveler dinanti-nantikan banyak orang sejak di dalam rahim.Awalnya, biasa saja menurutku di bab-bab awal, seperti cerita-cerita yang kau celotehkan di Twitter, seperti ketika kau beranjak dari kota ke kota dan mengunduh foto di Twitter dan bercerita sedikit banyak mengenai perjalananmu. Sampai pada akhirnya, aku terantuk di dalam surat teruntuk Pak Mula yang ternyata telah memimpikanmu untuk pergi ke Eropa, menghadiri Frankfurt Book Fair. Sayang seribu sayang, Pak Mula sudah mendahuluimu untuk berangkat ke Eropa yang sangat abadi, entah di mana. Yang tersisa adalah Eropa di dalam kefanaan yang sungguh dapat kau tapaiki jejakmu dan surat yang tak akan pernah sampai itu setidaknya dibaca Pak Mula. Itu yang kuaminkan.Lagi, yang berkesan bagiku adalah sosok Marjolein yang mencintai Indonesia meski ia taklah berdarah bumi ini dan untuk pandai berbahasa Indonesia pun ia harus jauh-jauh belajar. Kadang, untuk menjadi seorang yang nasionalis, kita harus diperingatkan dahulu oleh orang yang berada jauh jaraknya dari tanah Indonesia. Itulah Marjolein yang kurasa sesungguhnya ia adalah orang yang rindu pulang. Tak akan ada petualang yang tak rindu pulang seperti halnya tak ada merpati yang lupa akan kediamannya. Setidaknya bagi Marjolein, Indonesia adalah 'rumah' baginya untuk melepas rindu.Beberapa bulan yang lalu, di dalam sebuah perjalanan pulang, saya menemukan ke mana memang seharusnya kita berada. A home is a house, but a house is not always a home. Itu yang saya katakan kepada teman saya. Ia hanya mengerutkan dahinya sembari berujar dan berpikir bagaimana menerjemahkan arti 'rumah' sesungguhnya. Dan memanglah esensi pulang adalah esensi yang menakjubkan. Jarak yang membuat perpisahan begitu nyata dan menjadikan perjalanan lebih menemukan eksistensinya. Makna di dalam perjalanan pun tak akan hilang begitu saja.Kerap kali, saya menemukan hati saya bukanlah berada di rumah, tetapi di dalam perjalanan. Entah sedang di pelosok desa, di puncak gunung, di tepi danau, atau di tengah jalan. Juga kebahagiaan yang ditemukan tak melulu ada di rumah. Saya sering menemukan apa yang dinamakan dengan cinta di tempat yang begitu jauh dari rumah. Saya pun bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu,"Home is a place where you can find your love."Kak Windy,Mungkin perjalanan sederhana bisa menciptakan pelajaran yang tidaklah sederhana untuk kita cerna. Tetapi perjalanan sendiri membuat kita lebih banyak belajar tentang apa yang tak pernah diajarkan oleh bangku sekolah, mungkin guru-guru pun tak tahu ketika mereka harus mendefinisikan hidup seperti apa. Di dalam perjalanan, dunia lebih mendidik kita untuk lebih berani menantang kehidupan itu sendiri.Di dalam kata-katamu, selalu ada kekuatan yang meninggalkan jejak yang membekas ketika saya mengakhiri dari keping-keping ceritamu. Inilah dari kepiawaianmu merawi dan berangkat dari sesuatu yang terlihat sepele dan bernilai nihil dijadikan olehmu lebih berisi dan tak lagi bernilai kosong begitu saja. Adalah perjalanan yang menjadikan itu semua menjadi ada. Tentang hidup yang tak akan pernah habis untuk dieksplorasikan dan catatan perjalanan ini yang merupakan dokumentasi dari langkah demi langkah sudah memuatnya dari ribuan bahkan jutaan cerita yang ada di dunia ini setiap harinya.Kurasa perjalanan yang kulintasi bersama anak rohanimu sudah lebih dari cukup.Terima kasih untuk sebuah sajian di mana kau ternyata masih bersedia untuk selalu berbagi tentang pengalaman di dalam perjalanan, di mana tak semua orang pernah seberuntung engkau yang menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan masyarakat. Doaku, jangan pernah lelah untuk tetap berbagi dan tetap menulis.Tabik!Bandung, 28 September 2011 | 22.08A.A. - dalam sebuah inisial

  • miaaa
    2018-11-14 16:57

    Truth is I find it really awkward to find myself in a published book. I meant, well, reading yourself in someone's book is like watching yourself in a film right? I wonder if Johnny Depp ever feels something similar. With Windy every trips, no matter how short it was, would be an adventure. I remember once we decided to go to several places with local transportation instead of her motorcycle. When we're done it was almost 9 pm and to get home we must catch three different routes public transportation, and in Malang city some transportation would not operate till that late. The final thing of the journey was we must pass a wooden bridge which has no light whatsoever and has something spooky about it. So instead of walking, we ran through the bridge and rice fields and once we're in the house, we couldn't stop laughing and cursing our silliness. 'Next time no matter what, we'll use the bike!' Windy said still trying to catch her breath. Some other time, we were travelling to Green Canyon and Pangandaran Beach in West Java. Windy has some issues with beaches and sea, but that did not mean she wouldn't pose any time I got my camera on. Whilst we're on Green Canyon, accompanied by three local guides, we're doing some body-rafting, climbing stone walls as alternative way to the huge streams (which was not possible to get through by body-rafting) or jumped from a 3 metre high stone to the river (I just jumped yet Windy got us all worried as she kept going forth and back before she finally jumped). They might be nothing special to you, but for me they are precious because I did it with some close friends and just having fun. You don't have to go abroad to make your journeys something special. Any trip is a journey. Forget about all technical things of having a journey. Just go and meet up interesting people throughout the journeys.I am lucky that I can travel with Windy to some places, and I hope one day you can travel with her too. I DARE you to challenge her for a trip, ask her to travel together, she's definitely excited enough to go anywhere in this world.****Rasanya aneh menemukan dirimu ada dalam sebuah buku. Apa mungkin rasanya seaneh menemukan dirimu tampil di sebuah film? Johnny Depp pernah merasakan ini tidak ya?Setiap perjalanan bersama Windy bagiku adalah petualangan. Entah itu kelayapan sampai malam di kota Malang -dan lupa kalau angkot tidak semuanya beroperasi sampai malam-, naik mobil bak terbuka dan terguncang-guncang sepanjang jalan menuju anak sungai di mana kita memulai petualangan body-rafting di Green Canyon, Jawa Barat, atau bertemu keamanan kantor pos bandara LCCT Kuala Lumpur yang berbaik hati menyampaikan buku titipan buat Nadjibah (GR Malaysia) dari Amang.Bagiku setiap perjalanan dan petualangan bersama Windy itu berharga, sesederhana apa pun perjalanan itu. Intinya adalah pergi bersama teman dan sahabat, bersenang-senang, dan bertemu orang-orang menarik di luar sana. Aku beruntung bisa bertualang bersama Windy, satu hari nanti mungkin kamu bisa bisa bertualang bersamanya. Kenapa tidak? Silahkan tantang Windy, ajak dia pergi ke suatu tempat di dunia ini. Bisa dipastikan dia akan mengiyakanmu dan sebelum kau berkedip kau sudah memesan tiket ke Osaka misalnya.

  • Harun Harahap
    2018-10-31 20:21

    Salah satu keuntungan menjadi seseorang yang aktif di Goodreads Indonesia adalah mempunyai banyak teman yang inspiratif. Salah satu teman saya itu adalah seorang perempuan tangguh bernama Windy Ariestanty. Saya baru mengenal kak Windy (begitu saya memanggilnya) kurang lebih setahun yang lalu. Perkenalan tersebut berkembang menjadi sebuah pertemanan. Sungguh beruntung rasanya memiliki pertemanan dengan sosok inspiratif ini.Dari kak Windy, saya makin dikuatkan untuk terus berbagi dengan sesama. Walau tetap harus memperhatikan diri sendiri. Jujur saja, terkadang kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu menohok hati saya. Meskipun begitu, saya tahu bahwa maksudnya baik. Dengannya, saya berbagi pelajaran hidup. Termasuk apa yang saya dapatkan ketika membaca buku “Life Traveller”.Cerita perjalanan ini dimulai dari spontanitas kak Windy. Kalau Jim Carey adalah sosok fiktif dalam film “Yes Man”, maka kak Windy adalah sosok di dunia nyata. Dia percaya bahwa banyak kejutan yang akan menyemarakkan hidupnya. Dari kejutan yang didapatkan dalam perjalanannya itu, dia belajar banyak hal dalam memaknai hidup.Kak Windy belajar bahwa damai tak hanya hadir dalam sepi. Damai bisa saja tercipta walau keadaan hiruk pikuk. Menerima keadaan sekitar bahkan diri sendiri membuat perasaan damai itu hadir. Kak Windy selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai penduduk lokal bukan orang asing. Dari situ, dia bisa lebih memahami kehidupan penduduk lokal.Maka janganlah kaget ketika penduduk lokal begitu menerima kehadirannya. Tingkah lakunya yang penuh ingin tahu dan ceria membuat penduduk lokal merasa nyaman dengannya. Bahasa yang berbeda tidaklah menjadi kendala untuk berinteraksi dengan penduduk lokal. Melalui gerak gerik, pandangan mata, mimik wajah, Kak Windy dan penduduk lokal yang ia temui sama-sama belajar. Belajar sebuah bahasa universal, bahasa dunia yang mengantarkan kesepahaman dan persahabatan.Banyak kisah lucu, mengeherankan atau mengharukan dapat ditemukan dalam buku ini. Seperti buku perjalanan lainnya, saya juga menemukan banyak saran tentang tempat yang harus dituju. Do’s and Don’ts ketika berkunjung ke berbagai negara. Yang menarik, ada ilustrasi sederhana pengganti foto. Walau foto asli hasil jepretan Kak Windy dan temannya jauh lebih cantik menurut saya. Lebih dari itu semua, Kak Windy memaknai lebih perjalanan yang dia lakukan. Interaksi antar manusia, manusia dengan alam dijadikannya sarana refleksi diri. Pemandangan alam yang memukau, tanah diyang pijak, udara yang dihirup dijadikannya wadah berkontemplasi. Merenungi apa yang hidup telah ajarkan padanya. Menemukan kembali ‘rumah’ yang ia tuju. Dari semua itu, kak Windy berucap ” Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri. (hal.60)”Selamat membaca dan terinspirasi!

  • Ayu
    2018-10-29 23:24

    Dari banyak penulis dalam negeri yang saya sukai, ada tiga orang yang selalu membuat saya ingin berguru pada mereka setiap selesai membaca tulisannya. Dua orang adalah teman yang saya temui dalam suatu komunitas beberapa tahun lalu. Satu orang sudah sukses menelurkan beberapa novel. Seorang lagi sukses menerbitkan sendiri sebuah buku yang ia tulis berduet dengan temannya. Yang terakhir adalah penulis buku yang akan saya ceritakan ini; Windy Ariestanty. Tulisan mereka bertiga, entah kenapa selalu mengingatkan saya pada tulisan dua penulis asal jepang yang saya sukai; Banana Yoshimoto dan Takuji Ichikawa. Halus dan lembut, tapi tidak ‘sepi’ melainkan terasa manis (dan saya membayangkan cotton candy saat menulis kalimat ini :9).Buku Life Traveler ini adalah catatan perjalanan dari penulisnya. Sementara buku-buku traveling lainnya menceritakan keriaan mengeksplor dunia luar, menemukan hal-hal baru yang menambah kekayaan isi kepala dan kepuasan yang tak mungkin bisa dibeli dengan uang, Life traveler mengambil tema yang selalu bisa menarik rasa penasaran saya; jalan menuju pulang.Perjalanan-perjalanan ini dilakukan Windy Ariestanty untuk ‘menemukan rumah’ baginya, untuk kembali pulang.Dan saya sangat setuju dengan apa yang ditulis oleh Valiant Budi dalam cover belakang buku ini;…bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.Indeed! Bahkan tulisannya tentang air mineral, sebuah kesederhanaan yang mewah di Viet nam, bisa membuatmu tersenyum. Bukan karena bersyukur kamu tidak perlu merasakan kesulitan menemukan air mineral bersih di Indonesia, melainkan karena kamu bisa merasakan apa yang Windy alami ketika ia merasakan kesederhanaan yang mewah tersebut.Untuk saya, catatan perjalanan ini berbeda dari kebanyakan yang ada. And I love it so much :) . Memiliki buku ini semakin menyenangkan karena saya menemukan tanda tangan penulisnya pada buku yang saya pesan di bukabuku.com (Yeay!^^). Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri; sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun……because travelers never think that they are foreigners.

  • Dion Yulianto
    2018-11-07 22:15

    Dalam perjalanan, sesekali kita mesti berhenti (terkadang dipaksa berhenti) sejenak untuk mengamati dan menikmati proses. Ini bukan tentang tujuan perjalanan, tapi tentang perjalanannya itu sendiri. Bukan tentang bagaimana menuju Ha Long Bay dan Angkor Wat dengan budget minim, bukan tentang mencapai Menara Eiffel nan legendaris, atau segera pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan dalam Life Traveler adalah tentang bagaimana menemukan sebuah rumah (home) di hotel kecil milik Miss Hang di Ha Noi, tentang mengunjungi sebuah warung kopi terpencil di pedalaman Cezka, dan tentang menemukan rumah singgah di sudut Bandara O’Hare. Terkadang, rumah (home) itu bisa muncul selama di perjalanan, bukan hanya di tujuan. “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home. (halaman 45). Life Traveler, sekali lagi muncul seorang penulis yang mengompori pembaca untuk bepergian melihat dunia. Dalam Life Traveler ini, Windy seolah ingin menegaskan ciri khasnya sebagai pelancong yang tidak hanya menyesap pemandangan atau objek wisata semata, tapi juga menikmati manusia-manusia yang ia temui di perjalanan. Keunikan dari setiap budaya, kuliner lokal, adat istiadat nan nyentrik, hingga hikmah-himah menawan yang bertebaran di perjalanan; semuanya adalah permata-permata yang sering kita abaikan dalam sebuah perjalanan. Di Vietnam, Windy malah lebih banyak mengisahkan pengalamannya menaiki bus tidur (Sleeping Bus) dan mengomentari batas kecepatan maksimal 40 km ketimbang mengisahkan seluk-beluk keindahan Ha Long Bay. Di Eropa, porsi tentang Menara Eiffel juga sedikit, malah ia lebih banyak bercerita tentang kawasan lampu merah di Amsterdam dan kota tua Praha. Sebuah sudut pandang yang berbeda, menghasilkan rasa yang berbeda pula. Dari awal saya sudah bilang, Life Traveler ini memang berbeda. Melihat subjudulnya, “suatu ketika di sebuah perjalanan”, Windy seolah ingin mengoreksi pandangan para pelancong yang selama ini hanya berfokus pada tujuan dan mengabaikan perjalanan. Padahal, terkadang porsi waktu yang dihabiskan untuk perjalanan mencapai tujuan sama lamanya (atau bahkan lebih lama) daripada waktu untuk menikmati tujuan itu. Lewat Life Traveler, Windy ingin mengingatkan kita, bahwa di dalam perjalanan itu juga terdapat pemandangan-pemandangan elok, yang kadang tak terlihat oleh mata lahir, tapi begitu memuaskan mata bathin. Ibarat kehidupan, prosesnya lah yang harus kita nikmati, bukan pencapaian. Waktu untuk menjalaninyalah yang merupakan anugrah terbesar dari kehidupan, di mana kita bisa bertemu orang-orang terkasih, mengalami pengalaman-pengalaman hebat—suka dan duka, beragam warna kehidupan yang selama ini kita abaikan karena kita terlalu sering berfokus pada hasil. Dituliskan dengan begitu indah dan filosofis, pembaca akan diajak melancong sekaligus merenung, diajak berwisata sekaligus belajar budaya baru, diajak melihat monumen-monumen megah sekaligus bertemu orang-orang hebat; lengkap dan komplet. Walau lebih menekankan pada aspek perenungan tentang hidup, Life Traveler tidak kehilangan unsur “jalan-jalannya” karena novel perjalanan ini juga dilengkapi dengan tips berwisata ala backpacker di Vietnam, Kamboja, dan Eropa tengah. Windy juga menyertakan foto-foto sangat “menarik perhatian” dengan tampilan yang halus dan menyentak, sehingga pembaca niscaya tidak akan bosan melihat deretan huruf dan kalimat beraroma filosofi kehidupan.Terlalu banyak kutipan indah yang begitu menggoda untuk diselipkan, terlalu banyak pemandangan dan pengalaman luar biasa untuk diceritakan. Dan, itu semua tidak akan bisa muat dalam satu resensi kecil dari saya yang merasa belum pergi kemana-mana ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa merasakan perjalanan penulis yang penuh warna dan juga penuh makna. Sebuah perjalanan pergi untuk kembali. Empat bintang untuk Life Traveler yang mengajarkan saya tidak hanya tentang melancong dan bersenang-senang, namun juga mencari sahabat dan kenangan di perjalanan. Dan manusia, pada kodratnya, selalu menemukan cara pulang ke ‘rumah’. Tak peduli dekat atau jauh jaraknya.” (halaman 78)

  • Wulan
    2018-10-23 21:57

    Life Traveler bukanlah sebuah buku panduan tentang jalan-jalan. Dari judulnya aja, kita sudah bisa tahu bahwa buku ini berisikan 'kehidupan' yang dilihat, diamati, dan diresapi Windy selama menjadi seorang pelancong. Jadi jangan harap mendapatkan informasi mengenai hotel/hostel yang lengkap dan segala macam 'tetek-bengek' yang selalu menjadi perkara ketika menjalani 'traveling on a budget'.Sebagai gantinya, kita akan mendapatkan bongkahan-bongkahan cerita yang disusun secara rapi dan apik, curahan hati yang 'bittersweet', serta interaksi manusia yang simpel namun berkesan. Windy merangkai kata-katanya dengan keahlian yang hanya dimiliki sedikit penulis Indonesia, terutama penulis bertemakan jalan-jalan. Kita tenggelam dalam setiap cerita, dari yang 'galau' ketika duduk-duduk sendiri di Paris, sampai menonton pertunjukan di Thailand yang membuat ngilu. Pada akhirnya -setelah membaca buku ini -kita semakin terdorong untuk melakukan perjalanan, dengan harapan kita akan mendapatkan pengalaman yang sama berkesannya dengan yang dialami Windy. Let's be honest, bukankah itu yang sebenarnya dibutuhkan dari sebuah buku tentang jalan-jalan? :)

  • Haryadi Yansyah
    2018-10-31 19:12

    “We just need to stay away for a moment to get back home.”Hal.65.Kita hanya perlu menjauh sesaat untuk bisa kembali pulang… Begitulah tabiat manusia ketika mulai dihinggapi penat dan dipeluk suntuk. Biasanya, perasaan untuk pergi sesaat itu akan mencuat seketika. Tiba-tiba saja kita berharap bisa berkelana ke tempat yang jauh. Melenyapkan diri dari rutinitas dan kebosanan. Bukan untuk selamanya, namun lebih untuk merasakan getar rindu akan tempat yang sementara tertinggal. Sebuah tempat untuk kembali. Tempat yang biasa kita sebut… rumah.“Hidup adalah kejutan. Bahkan, di balik sebuah rutinitas pun saya percaya ada kejutan kecil yang bersembunyi,” ujar Windy (Hal.3). Ya, kejutan pula yang memperkenalkan Windy dengan beberapa teman baru yang akan menemani perjalanannya ke Indocina. Perjalanan yang ia sebut sebagai pencarian sekaligus ‘melepaskan diri sejenak´ dari rutinitas. Bersama teman-teman barunya –Ari, Mia dan Echa, mereka berempat memulai perjalanan mereka ke The City of Peace-Ha Noi, Vietnam. Perjalanan Windy menyusuri sudut-sudut kota di Vietnam mendapatkan porsi yang cukup besar di buku ini. Dimulai dari Miss Hang, pemilik hostel tempat mereka menginap. Miss Hang menganggap semua tamunya adalah keluarga. Wajar jika hostel Miss Hang diincar oleh banyak orang. Bukan karena dia memiliki hostel terbaik, namun kehangatan dan sikap menyejukkan yang ditunjukkan Miss Hang lah yang membuat pengunjung betah. “Miss Hang buat saya tampak seperti ibu yang berperan sebagai dewi penyelamat bagi semua tamu yang mampir ke hotel ini.“Hal.49.Dalam perjalanan mengelilingi Indocina menggunakan bus kaki mengguntai, Windy belajar tentang toleransi. Di saat bersamaan, aku pun sebagai pembaca belajar dari kisah keberanian Nenek Rusia yang nekat keliling dunia seorang diri walaupun dia tidak bisa berbahasa Inggris! Jika selama ini pelancong mengurungkan niat menjelajah tempat baru karena kendala bahasa, Nenek Rusia mengikis keraguan itu. “Ada satu bahasa yang tumbuh besar bersama manusia tanpa membutuhkan kamus : bahasa ‘memahami’” Hal.128. “Saya percaya ‘bahasa’ manusia yang satu ini bekerja dengan cara yang luar biasa”Hal. 137.Di Kamboja, Windy memaparkan sesuatu yang sesungguhnya menjadi hakikat hidup setiap manusia. Sesuatu itu tergambar dari perjumpaannya dengan sepasang paruh-baya yang melakukan hal romantis tanpa perlu dibuat-buat di sebuah taman di Siem Riep di pagi yang hening. Sesuatu itu ialah cinta. “Saya percaya, ada bahasa yang tak bersuara. Ada aksara yang tak membutuhkan kata-kata. Dan itu cinta.” Hal. 112. Terkadang orang melakukan perjalanan untuk menemukan sesuatu itu. Sesuatu yang universal tak tersekat antara hubungan antar jenis semata.Selepas perjalanan dan perenungan di Indocina, Windy bercerita mengenai kehangatan sebuah keluarga baru yang ia temukan di Amerika Serikat. Cerita yang bergulir dari kedatangan kartu pos ini sangat menyenangkan. Aunty Fran, selalu mengirimi ia kartu pos tiap kali ia berkelana ke tempat yang baru. Windy tak mengangka, Aunty Fran yang seyogyanya bukan siapa-siapa secara tulus langsung menganggapnya sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga. “Travelers never think they are foreigners… Kita tidak boleh membatasi diri. Kalau kalian terus berfikir kalian adalah orang asing di negeri ini, maka kalian akan diperlakukan seperti itu. This is just your another home.” Hal.152.Life Traveler adalah sajian apik yang tak melulu menceritakan bagaimana perjalanan dilakukan. Tetapi lebih dari itu, paparan Windy terhadap hal-hal unik yang ia temui di perjalanan menjadikan buku ini lebih spesial. Windy adalah pemerhati ulung. Hal-hal yang terpingirkan selama perjalanan mampu dipaparkan dengan inspiratif. Sebelumnya, beberapa penulis telah melakukan formula yang sama. Diantaranya Jingga (Marina Silvia K), trilogi Selimut Debu (Agustinus Wibowo) atau Two Travel Tales (Ade Nastiti). Masing-masing buku tersebut mengangkat tema dasar yang sama. Yakni, pencarian dalam perjalanan. Namun, Windy mampu mengemas bahasa dengan ritme yang cocok dengan segmentasi pembaca (pribadi yang tengah galau?) tanpa perlu ber-lebay-ria. Sebagai pecinta Praha terus terang aku iri. Salah satu sudut surga dunia di jantung Eropa itu memang mengikat hatiku sejak lama. Dan… Windy sangat beruntung bisa melihat keelokan Praha walaupun dalam waktu singkat dan tanpa perencanaan sebelumnya. “I have fallen in love with Prague before knowing it” ujar Windy. Hal.205. Aku pribadi masih harus banyak berjuang untuk mewujudkan mimpiku itu. Tapi aku percaya, Tuhan maha mendengar dan selalu hadir di denyut kehidupan para pemimpi yang mau berusaha keras untuk mewujudkannya. Bismillah…Masih banyak catatan perenungan yang ditawarkan oleh Life Traveler. Silahkan rengkuh sendiri cerita-cerita itu dan bawalah kedalam buaian dan dekap bersama kehidupan. Mudah-mudahan kita bisa meniru Windy. Petualang gigih yang mampu menyerap saripati perjalanan dan menyulamnya dalam kata-kata sehingga kemanfaatan perjalanan itu dapat menyebar di benak pembaca. Selamat berpetualang dalam suatu ketika di sebuah perjalanan.

  • Ellen Isabella
    2018-11-10 17:20

    Buku ini saya beli awalnya tertarik sama judul-nya yang menarik dan cover-nya yang sederhana tapi indah. Selain itu, tema traveling juga sangat menarik minat saya karena saya pribadi memang suka jalan-jalan.Dari tulisan Windy Ariestanty ini saya serasa menghidupi pengalamannya selama berkelana di berbagai tempat meskipun banyak tempat yang digambarkan di buku Life Traveler ini belum pernah saya datangi sebelumnya. Pengalaman Windy juga memberikan pembelajaran bagi banyak orang, bahwa traveling dilakukan bukan sekedar untuk menghambur-hamburkan uang atau demi kesenangan semata. Namun banyak hal yang bisa kita peroleh di dalam suatu perjalanan.Selain bisa melihat tempat-tempat yang indah di berbagai negara, kita juga bisa belajar budaya setempat dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Hal itu tentunya jauh lebih berharga daripada uang yang dikeluarkan untuk menjelajah ke daerah-daerah tersebut. Tapi bukan berarti traveling itu harus boros. Belajar dari pengalaman traveling orang lain bisa membantu kita untuk menemukan trik traveling hemat dan pintar tapi tetap seru.Tips yang tercantum di buku ini tentunya akan dapat menolong siapapun yang punya rencana untuk menjelajah ke daerah-daerah yang disebutkan Windy di buku ini. Pastinya tidak akan rugi kalau baca buku ini.Ada banyak hal yang saya sukai dari buku ini. Saya senang sekali membaca perspektif Windy di buku ini. Caranya memandang berbagai hal itu sangat unik. Digambarkan dengan sederhana namun penghayatannya sangat mendalam. Tidak banyak orang yang dapat mengantarkan hal seperti itu di dalam suatu tulisan. Banyak kenangan indah, kejadian unik, perasaan yang bercampur aduk dan pastinya pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan uang.Bagian favorit saya adalah cerita si kakek Jerman yang menolak menjual tas dagangannya karena tas tersebut memiliki cacat. Kejujuran seperti itu tentunya tidak banyak kita temui di banyak tempat. Beruntunglah orang yang pernah bertemu dengan kakek itu. Meskipun tampilannya terkesan dingin, siapa yang tahu ternyata hatinya sehangat kompor? Hehe... Satu hal yang saya rasakan bahwa saya punya kesamaan dengan Windy adalah bahwa kami sama-sama jatuh cinta pada Prague meskipun belum ke sana. Yah, sampai sekarang pun saya belum pernah ke sana, tapi saya tidak pernah berhenti bermimpi untuk pergi ke sana. Saya memang hobi traveling tapi entah kenapa saya lebih antusias untuk mengunjungi tempat-tempat yang tidak terlalu umum digandrungi sebagai daerah wisata. Padahal tempat-tempat tersebut punya banyak hal menarik yang bisa ditawarkan. Well, meskipun begitu, saya tidak menolak untuk jalan ke mana saja. Cita-cita saya adalah menjajaki seluruh tempat yang ada di dunia. :)

  • Rully
    2018-11-18 23:23

    Sebagai seseorang yang belum lama menyukai traveling books, saya cukup hati - hati dalam membeli buku traveling.Dimulai dari serial Naked Traveler, menyadarkan saya kalau saya bisa sangat menikmati catatan perjalanan seseorang yang telah melihat berbagai warna di belahan lain bumi ini. And actually this is my second book about traveling, and I loved it so muchWho says never judge a book by it's cover? saya memperhatikan buku ini justru karena cover-nya yang, menurut opini saya, menyiratkan keteduhan, kesederhanaan, dan seakan - akan ada segudang cerita unik tersimpan di setiap lembar halaman nya.....Hal yang membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini adalah potongan dialog yang disertakan di cover belakang buku. Ya, potongan dialog. Bukan karena overview atau review atau komentar dari publisher, writer atau orang ternama lainnya. Terakhir kali saya membeli buku dengan cara seperti adalah untuk The Alchemist karya Paulo Coelho.To the content,Penuturan cerita terkesan lembut, santai, dan damai. :D Setiap malam, saya sisihkan sedikit waktu untuk membaca buku ini, untuk mendapatkan feel tersebut. Windy membawa kita merasakan setiap sudut dunia yang dikunjunginya bukan dengan ulasan tempat - tempat terkenal atau mengunjungi tempat - tempat yang tidak biasa. Tetapi lebih dengan interaksi yang dia lakukan dengan penduduk asli di negeri yang dikunjungi nya. Membuat kita mengetahui pandangan orang asing terhadap orang Indonesia, pandangan tentang orang2 yang mengunjungi negeri mereka serta sikap2 unik mereka. Membuat kita tidak hanya membayangkan tempat2 yang dikunjungi Windy, tetapi juga bagaimana kehidupan berjalan disana.This is a good book. In the end, I want to give big credit to the writer for giving us an opportunity to feel the world even we don't come to that far, yet.

  • Chiquita Pasaribu
    2018-10-31 23:14

    boring. mungkin gak akan baca buku beliau lg deh.

  • Uci
    2018-11-09 18:21

    Keistimewaan buku ini adalah kisah-kisah menarik yang berhasil digali Windy dari orang-orang yang dia temui di sepanjang perjalanannya ke berbagai negara. Misalnya kecintaan Marjolein, wanita warga negara Prancis kelahiran Belanda, pada Indonesia, suatu negeri nun jauh di sana yang selalu dia anggap sebagai Rumah meski terpisah jarak ribuan kilometer.Semua kisah dalam buku ini bertutur tentang perjalanan Windy mencari Rumah dan makna hidup di luar Indonesia. Mungkin sebagai penegasan bahwa Rumah tidak selalu ditemukan di tempat yang dekat. Tapi, ingin juga membaca kesan-kesan dia saat menjelajah Indonesia, orang-orang hebat seperti apa yang dia temui di Nusantara. Mungkin di buku selanjutnya? :)Satu hal menyenangkan yang saya temukan dalam buku ini adalah: ikut tur saat mengunjungi suatu tempat terbukti tidak harus identik dengan wisata yang serba buru-buru, hanya di permukaan, tidak mendalam, dan tidak seru. Saya percaya, apa pun bentuk perjalanan kita, ikut tur atau backpackeran, selalu ada kesan dan makna yang bisa kita temukan, tergantung bagaimana cara kita menyikapi perjalanan tersebut. (Sembari nunjuk ke diri sendiri yang kadang-kadang pinginnya pergi ke mana-mana udah ada yang ngurus, tinggal ikutin itinerary :D)So, dear travelers, let's get lost and hopefully one day we will find our self at home in a place we've never imagined...

  • lita
    2018-11-20 23:14

    Membaca buku ini membuat perasaan saya jadi campur aduk. Rasanya seperti membuka album kenangan lama. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama itu saya terpaksa berdiam tanpa bisa melakukan perjalanan, kecuali dengan "pengawalan" dan aturan dokter yang begitu ketat yang harus saya patuhi. Tapi, seperti kalimat yang kau kutip: "There is always be reasons to wait." Thanks, Windy. Kau berhasil memicu semangatku untuk bisa melakukan perjalanan lagi :)

  • Rachma Aprilia
    2018-11-05 21:03

    Yang paling saya suka dari membaca catatan perjalanan bukanlah informasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, tapi interaksi penulis dengan penduduk lokal, budaya sekitar bahkan teman seperjalanan, 'pencerahan' apa yang didapatnya selama perjalanan. That's what I got from this book.

  • Weka Agnes
    2018-10-25 18:21

    Yay akhirnya selesai. lama banget bacanya. kelemahan saya kalo baca buku non fiksi. entahlah. padahal isinya tentang jalan jalan. mungkin karena nggak ada konflik yang menantang jadi rasanya kurang greget. hehe.

  • F.J. Ismarianto
    2018-11-14 18:15

    Icip-icip Life TravelerSuatu ketika di sebuah perjalanan, Windy bertemu dengan seseorang.“Kamu akan bepergian kemana?” Tanya orang itu sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja Windy.“Pulang,” jawab Windy singkat, tanpa menolehkan kepalanya, mengamati landasan pacu yang kelihatan jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran tempat dia duduk malam itu.“Pulang?” Ulang orang asing di depannya itu. Keningnya berkerut. Dia tampak bingung. “Tapi kamu tidak seperti orang yang sedang ingin pulang.”Kemungkinan besar didorong oleh rasa penasaran, dan mungkin juga oleh keinginan menegaskan bahwa memang dia hendak pulang, Windy mengalihkan perhatiannya dari guratan pada kaca–hasil perbuatan bulir-bulir hujan yang ingin menerjang masuk restoran, memesan segelas cokelat panas (?). “Maaf, maksud anda apa ya?”Apa maksud dari seorang asing tersebut? Kira-kira kalimat apa yang akan meluncur dari bibirnya setelah Windy mencurahkan seluruh perhatiannya padanya?Lalu, apa maksud dari Life Traveler itu sendiri?Kata Windy, kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang dari rumah kita sendiri. Kenapa dia bisa bilang begitu?Jelas semua pertanyaan tersebut akan terjawab dengan membaca buku Life Traveler yang memiliki tebal 392 halaman itu ;)Cita rasa Life TravelerLife Traveler adalah buku tentang perjalanan yang pertama aku baca. Seandainya saja Stefanie Sugia tidak ikut serta dalam BBI 1st Giveaway, mungkin aku tidak berkesempatan ikut “jalan-jalan” bersama Windy ke belahan dunia yang lain.Kita awali dengan baju buku ini.Aku suka kombinasi warna dan gambar daunnya! Termasuk tata letaknya. Terutama peletakan daun warna-warni yang diletakkan di bagian bawah agak ke kanan dan endorsmemnt dari Dewi “Dee” Lestari yang diletakkan di atasnya. Sederhana namun tidak sampai mencolok mata.Perlu kalian tahu juga, cover Life Traveler ini bolak-balik. Maksudnya, kalian masih akan menemukan beberapa gambar daun di sisi belakang (dalam) covernya.Life Traveler memiliki dua sinopsis. Satu dari cuplikan salah satu bab dalam perjalanannya. Satu lagi arti dari sebuah perjalanan, yang menurutku merupakan pesan tersirat dari pembuatan buku Life Traveler ini. (Kesan yang didapat pembaca setelah membaca buku ini, Story Eater’s Note). Kenapa Windy melakukan hal itu? Kenapa membeberkan inti dari pengalamannya secara gamblang pada sinopsis?Jawabannya, tentu saja, ada di dalam Life Traveler, hahah. Tepatnya terletak di endorsment by Valiant Budi, penulis Joker :mrgreen:Keunikan lainnya dapat kalian temukan pada pembatas bukunya. Ukurannya mungil. Sekitar 1/3 pembatas buku pada umumnya, tapi badannya sedikit lebih lebar. Dan, ini dia yang paling aku suka–dan bagi mereka yang suka sekali dengan gambaran tangan, di balik tulisan judul bukunya, Life Traveler, dan gambar daun yang sama seperti di cover, ada semacam ilustrasi boarding pass.Selain foto-foto bidikan Windy, dan teman-temannya, yang keren-keren, Life Traveler juga “dipersenjatai” dengan ilustrasi yang tak kalah memanjakan mata dan membantu imajinasi kita saat “dalam perjalanan” bersama Windy ini.Aku sendiri punya foto dan ilustrasi favorit. Tapi aku tidak akan memberitahukan yang mana :P Terus kenapa kamu bilang, Jun? (–”)7Novel aja ada fillernya, masa review nggak boleh ada fillernya? =)) Hnnn (‾_‾) Oke, daritadi memuja-muji gambar dan ilustrasinya, bagaimana dengan isinya? Ada typo-kah?Tentu saja ada. Total typo yang aku temukan ada 17. Termasuk di dalamnya: dua kali kata dobel dan tiga kali salah sebut nama (dua nama agen perjalanan, dan satu nama lokasi). Aku juga menemukan dua kata yang, menurutku, kurang pas. Dan dua kata yang, lagi-lagi menurutku, tampaknya lupa diketikkan.Oh iya, di halaman 69 buku Life Traveler ini, ada kalimat yang belum selesai. Meski kita bisa menebak kata selanjutnya, tapi tentu saja ini salah satu kelupaan yang fatal. Atau… mungkin saja karena kemampuan bahasa Inggris-ku yang masih seperti goyangan Anisa Bahar sehingga membuatku merasa salah satu kalimat di halaman 69 itu kurang? Bisa jadi juga.Ada beberapa kata yang susah kupahami dan butuh berulang-ulang membacanya. Bahkan hingga aku menyelesaikan Life Traveler, beberapa diantaranya masih belum kumengerti. Btw, dari semua perjalanan Windy di Life Traveler, mana yang paling kamu suka, Jun?Hnn, susah itu dijawabnya. Aku merasa iri ketika dia berada di Frankfurt. Aku merasa ingin bersamanya ketika dia dalam perjalanan kembali setelah “curi-curi waktu” di Praha. Aku juga ingin bertemu dan ngobrol bersama Marjolein seperti Windy ketika dia berada di Paris. Jadi, coba tebak, mana yang jadi favoritku? ;) Jelas banget, semua yang kamu sebutkan itu (‾_‾)Hahah.Oh iya, satu lagi, ada dua kisah perjalanan yang bukan dari Windy. Masing-masing dari Yunika dan Dominique, dua sahabat Windy. Dan tahu tidak, aku mengenal nama Yunika terlebih dahulu sebelum Windy lewat lagunya yang berjudul–apalagi kalau bukan–Inginku (Bukan Hanya Jadi Temanmu).Seperti yang aku bilang saat mengawali citarasa Life Traveler, Life Traveler adalah buku perjalanan pertama yang aku baca. Jelas Life Traveler bukan buku panduan wisata. Namun justru sisi personal buku ini yang, menurutku, sangat mempengaruhi pembaca, termasuk diriku, untuk melakukan perjalanan wisata. Tidak hanya jalan-jalan dan memandang sisi lain dunia, tapi juga berteman dengan banyak orang dari belahan bumi yang lain.Pernah nonton film Mr Bean’s Holiday? Mr Bean mendapat hadiah liburan, tapi karena sebuah kejadian, dia malah kehilangan beberapa hal, tapi dia mendapatkan banyak hal baru sebagai gantinya. Tempat tujuan memang penting, tapi ada yang lebih penting lagi: perjalanannya dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan.Itu juga yang ingin disampaikan Windy dalam bukunya, Life Traveler. Kita jelas akan senang ketika mencapai tujuan, tapi kita akan lebih senang lagi, ketika mencapai tujuan tersebut kita berbagi kesenangan dengan seorang, atau lebih, teman. Bukan sekedar teman, tapi sahabat atau saudara. Dimana kita bisa mengekspresikan diri kita apa adanya. Tanpa mempertanyakan asal dan kebangsaan kita.“Betapa beruntungnya Windy! Bisa jalan-jalan sekaligus mendapat teman baru.” Aku tidak bisa mencegah kalimat itu meluncur setelah kelar membaca kisah perjalanannya.Oh, dan satu lagi hal yang membuatku penasaran setelah menutup buku ini, apa arti angka 13 di setiap menjelang akhir bab–sebelum pembaca Life Traveler disuguhi Traveler’s Notes, penjelasan/info singkat, tips dan trik?

  • Nanaku
    2018-11-04 16:00

    "Home is where your love is", kata si Nenek di Bandara O'Hare.Kesimpulan saya setelah selesai membaca buku ini : Perjalanan akan membawa kita rindu untuk pulang, tapi perjalanan juga bisa membawa kita menemukan rumah kemanapun kita melangkah :)Awal baca, saya kira buku akan full berisi cerita petualangan penulis, dkk di Indochina. Sempet terpikir sih, hebat banget perjalanan selama seminggu di kurang dari 7 negara bisa jadi setebal ini.Ternyata bukan cuma petualangan Indochina trip saja, tapi di buku ini si penulis memaparkan cerita perjalanannya ke banyak negara. Tapi bukan sekedar wisatanya saja, yang menarik justru cerita dan makna dibalik jalan-jalannya itu sendiri. Juga rasa yang akan membuat kita merasa seakan ikut terbawa dalam cerita. So, yes, I adore her! hohohoJujur saja, saya tertarik membaca buku ini karena pernah mengikuti salah satu workshop menulisnya, dan menurut saya, Windy adalah pencerita yang menarik. Jadilah saya tertarik membaca bukunya yang satu ini. Dan, setelah membaca, saya simpulkan bahwa Windy memang pencerita yang sangat menarik!

  • Lina
    2018-10-24 19:16

    Travel Lit plus Personal Literature, begitulah saya menggolongkan buku ini.Tapi kalau ditanya, apakah buku ini bisa menjadi buku panduan untuk perjalanan, mungkin saya akan menjawab, sedikit. Buku ini lebih banyak bercerita mengenai pencarian jati diri seorang Windy Ariestanty daripada membahas objek-objek seru di tempat-tempat pariwisata, karenanya buku ini juga masuk dalam golongan Personal Literature."Saya tak ingin memberatkan hidup saya dengan urusan yang kurang penting." ~hal. 10Sepertiga bagian awal buku, Windy mengisahkan mengenai perjalanannya ke negara-negara Indo China seperti Vietnam dan Kamboja. Pertama-tama sebelum memulai perjalanan, Windy mengajak para pembaca untuk belajar berkemas atau packing. Lho berkemas saja harus diceritakan? Ya, karena berkemas pun ada seninya.Windy tidak ingin membawa barang-barang kurang penting yang bisa memberatkan perjalanannya nanti. Baginya, selalu sisakan ruang kosong dalam koper atau ransel untuk setiap barang-barang baru yang mungkin akan ditemui sepanjang perjalanan, seperti oleh-oleh atau pun barang-barang lain. Dan sama sama seperti filosofi berkemas, hidup juga seperti itu. Jangan bikin hidup menjadi berat hanya karena masalah sepele.Selanjutnya kisah banyak menuturkan tentang Vietnam. BTW, saya agak bingung sama penulisan Vietnam di sini. Setahu saya, Vietnam itu disambung, tetapi mengapa Windy selalu menulisnya Viet Nam, begitupun dengan nama lain macam Ha Noi, Sai Gon. Sebagai pembaca awam, ini saya beneran tanya.Di Vietnam, Windy mengajak kita berkenalan dengan kebiasaan hidup masyarakat Vietnam yang suka kumpul-kumpul di resto pinggir jalan pada malam hari dengan duduk saling bedempetan karena tempat yang sempit. Lalu Miss Hang, sang resepsionis ramah yang selalu tersenyum dan memberikan segelas air setiap menyambut para tamunya yang lelah. Alih-alih bercerita mengenai tempat-tempat pariwisatanya, Windy mengajak kita untuk berpikir dan merenung dengan mengamati manusia-manusia lain di sekitar kita. Melihat bagaimana mereka saling berinteraksi, berbicara satu sama lain. Bahkan meskipun kita tak mengerti bahasa mereka, tetap akan selalu ada bahasa manusia yaitu dengan belajar memahami seperti melihat gerak tubuh, tatapan mata, dan lain-lain."Waktu tak pernah memutuskan apa pun untuk kita. Kita yang harus bersikap." ~hal. 275Pakai dan nikmati setiap waktu yang ada meskipun singkat. Perjalanan Windy, baik itu di negara-negara Indo China (Vietnam, Kamboja, dll), Eropa (Paris, Jerman, Swiss, dll) maupun Amerika Serikat atau tempat lain, banyak yang dikisahkan memiliki waktu yang sangat terbatas atau cuma sebentar. Namun meskipun hanya duduk di bus dan menghabiskan banyak waktu di jalan, Windy berusaha untuk menemukan segala aktivitas yang bisa ia lakukan, misalnya dengan mengamati orang-orang di sekelilingnya.Saya selalu melihat, Windy berusaha memaksimalkan setiap waktu yang dimilikinya kalau berpergian. Tidak pernah ada kata lelah saat tiba di suatu negara baru dengan hanya duduk-duduk diam saja di kamar hotel. Bahkan meskipun malam telah larut dan kota tempat singgah mereka minim sarana hiburan, Windy berusaha menemukan sesuatu yang bisa ia ingat mengenai kota tempat ia singgah, seperti Goethe Haus di Frankfurt, Jerman, walau sudah tutup dan hanya bisa melihat bagian depan.Bagi Windy bukanlah tidak ada waktu atau sebaliknya bagaimana menghabiskan waktu, namun bagaimana sikap kita terhadap waktu. Bisa saja kita punya banyak waktu namun tidak menggunakan waktu itu. Waktu bukanlah penentu keputusan, tapi kitalah yang harus memutuskan bagaimana menggunakan waktu."Semua tahu mereka butuh 'pulang'. Butuh rehat. Butuh mencari hangat. Mereka mencarinya dari sebuah kebersamaan. Keintiman yang menjauhkan mereka dari keterasingan."~hal. 158Rumah bisa ditemukan di mana saja. Dalam bahasa Inggris ada 2 kata yang berarti rumah bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu house dan home. Namun walau 2 kata ini memiliki arti yang hampir mirip, namun maknanya berbeda. Rumah adalah sebuah bangunan atau gedung, a house is not always a home, because home can be anywhere as long as you comfort. Sedangkan rumah bisa berupa apa saja dan di mana saja, sepanjang kita merasa nyaman, hangat dan diterima.Yang saya suka dari penuturan Windy. Saya suka penuturan Windy yang lepas namun positif tanpa terasa nada sinis atau sarkasme. Windy berusaha jujur dalam memaparkan laporan perjalanannya dari sudut pandangnya, bahkan saat ia mengalami kejadian kurang menyenangkan seperti saat di bandara O'Hare ataupun mendatangi tempat-tempat yang sarana hiburannya kurang seperti di Frankfurt, ia jarang berkeluh kesah.Bahkan saat harus melihat deretan kaki dan mencium bau kaki yang tidak sedap saat menumpangi sleeping bus di Vietnam, Windy menuliskannya dengan kesan jenaka alih-alih kesal. Begitu pun saat ada cowok asing yang melambaikan ciuman jarak jauh, alih-alih dianggap kurang ajar, Windy lebih menganggapnya sebagai keramahan dari penduduk lokal atau kiss from a stranger.Selain itu yang saya suka dari buku ini adalah banyak ilustrasinya yang kece badai dan colourful.

  • Diagnosa Fenomena
    2018-11-12 23:08

    Menarik, tapi mungkin karena terbiasa dengan science fiction, jadi sedikit berat baca genre ini. Di dalamnya banyak ilustrasi dan foto terkait tempat yang diceritakan.

  • Yus Naeni
    2018-11-14 21:19

    Isi bukunya keren ... pake banget :)

  • Alvina
    2018-11-14 23:25

    Adalah seorang Windy yang berbagi pengalamannya dalam perjalanan kehidupan lewat buku ini. Tentu saja semua orang pernah melakukan perjalanan, pergi ke kantor, ke sekolah, ke kampus, bahkan ke pasar pun tentunya sudah termasuk ke kategori ‘perjalanan’. Tapi tak semua orang mampu bercerita pengalaman perjalanan seperti yang Windy ceritakan di buku ini. Ia berbagi, mengajari, dan menyadarkan pembaca tentang makna lain yang bisa kita dapatkan dalam sebuah perjalanan.Sebelum melakukan perjalanan, Windy membantu kita berkemas terlebih dahulu. Sambil mempersiapkan daftar dan tips-tips barang ataupun peralatan yang harus kita bawa, ia menyelipkan satu pikiran yang berkesan bagi saya (lihat, padahal ini baru di awal cerita!).“Proses berkemas selalu menarik. Kita harus memilih mana yang penting dan mana yang kurang penting. Kita belajar memutuskan.” – Hal.8Windy mengajak kita bercengkerama di Vietnam, Kamboja, Praha, Czech Republik, bahkan berburu Louis Vitton di Paris. Dengan bahasanya yang bersahabat dan cara bertutur yang apik, ia mampu membuat pembaca ikut hadir dalam tempat yang sedang ia ceritakan. Ini seperti duduk di sebelahnya sambil menikmati pagi, turut mencium manisnya buah saat ia berbelanja di Swiss, atau duduk melamun sambil mengamati keindahan alam yang bergantian tampil di jendela bus.Di dalam buku ini juga diselipkan cerita tentang cinta yang ditemui Windy dalam berbagai rupa di perjalanannya.“Jatuh cinta membuat siapa saja menjadi penuh. Dan buncah karena bahagia.” – Hal.107Cinta itu ia temui dalam dua orang yang duduk diam di taman, dalam mahasiswa yang saling suap di kedai makan Ha Noi, dan sedikit kisah cinta Windy sendiri dengan pasangan perjalanannya di North Carolina.Tapi buat saya, perjalanan Windy yang paling berkesan di buku ini ada di Frankfurt, Jerman!! Cara penulisan yang berbeda mungkin menjadikan cerita ini lebih menarik. Mungkin juga karena saya sendiri punya impian untuk dapat menapaki Negara ini, entah kapan atau bagaimana caranya. Tapi sungguh, setiap cerita yang membawa oleh-oleh tentang kehidupan Jerman selalu memesona saya, seakan mereka melambaikan tangan mengajak saya secepatnya datang ke sana. XDTak hanya perjalanan, tapi Windy mengenalkan pembaca kepada satu sosok wanita pemandu perjalanan, Marjolein, yang sangat suka memandu orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan di Perancis, karena membuatnya lebih dekat dengan Indonesia. (Ingat, bahwa Mer sendiri bukan orang Indonesia).“Saya belajar banyak dan lebih dalam tentang hubungan dengan manusia dari orang Indonesia.”- Hal.313Terkadang memang butuh orang lain untuk menunjukkan betapa sebenarnya kita sedang menggenggam sebuah harta yang amat berharga, Negara kita, Indonesia.Setelah berlika-liku dalam perjalanan, mari kita membahas sedikit tentang pulang, tentang rumah yang diceritakan Windy melalui kisah 24 jamnya di Bandara Chicago. Dalam sosok wanita tua di sebuah kedai di bandara, terseliplah pertanyaan yang menyadarkan Windy bahwa Wanita tersebut adalah sebuah pelajaran, sebuah hidup itu sendiri.“Going back or Going Home?”-Hal.351Dihadirkan bersama foto-foto dan ilustrasi yang sederhana namun indah, Life Traveler membuat saya enggan barang sejenak melepaskan mata menikmati tulisannya. Sungguh pun sebenarnya saya sempat iri terhadap kebebasan dan perjalanan yang dilakukan Windy, saya sangat berterima kasih karena setidaknya ia mau berbagi pengalaman bahkan tips-tips dan tempat-tempat penting yang bisa kunjungi dalam cerita yang ia tuangkan di buku ini. Bukan sebuah panduan perjalanan biasa, sebab ia mengajarkan kita memaknai lebih dalam sebuah perjalanan hidup. Berhenti sejenak untuk melirik kejadian-kejadian sederhana yang mungkin selama ini terlewatkan. Cerdas menangkap momen-momen indah dan menyenangkan untuk dibagi dengan orang lain.Seperti sebuah quote dari Dewi Lestari yang sya ingat."Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?”Maka diperlukanlah sebuah perjalanan itu. Setidaknya untuk memberikan jarak dan menciptakan kerinduan terhadap sesuatu.5 bintang untuk buku ini. Semoga terberkatilah engkau Windy. Atas cerita dan pengalamanmu yang menginspirasi. :)judul Buku : Life TravelerPenulis :Windy AriestantyEditor : Alit T. PalupiPenerbit : Gagas MediaCetakan Pertama : 2011ISBN : 978-780-444-5

  • Rulian
    2018-10-23 15:10

    Pasti menyenangkan bila diberi kesempatan untuk bisa berkeliling dunia. Pengalaman yang menakjubkan, berkenalan dengan orang dari berbagai penjuru dunia, bisa wisata kuliner, dan pulang dengan berbagai buah tangan mancanegara. Dan pastinya pengalaman itulah yang tidak bisa didapatkan banyak orang, priceless!Bosan dengan rutinitas pekerjaannya yang dilakukan setiap hari Windy dan teman-temannya memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling Indochina. Bersama Mia, Ari, dan Echa, Windy memulai perjalanannya ke Hanoi, ibu kota Vietnam yang dijuluki The City of Peace. Sesampainya di sana mereka menyempatkan diri untuk menonton Water Puppet Show, pertunjukan boneka air yang dilakukan di atas kolam. Kita akan diajak memahami sejarah dan asal-usul orang Vietnam. Tentang sejarah serta filosofi hidup masyarakat Vietnam dengan menonton ini. Tetapi, perjalanan mereka menuju Thang Long Theatre, tempat pertunjukan ini diadakan begitu menarik. Mereka hampir saja tidak jadi menonton karena lambatnya kendaraan yang ditumpangi serta diberlakukannya aturan berkendara 40 km/ jam bagi turis.Pada malam hari jangan melewatkan kesempatan untuk wisata kuliner di pinggir jalan.Cara sederhana untuk melakukan petualangan kuliner lokal di Vietnam. Murah dan lezat. Ditambah bonus interaksi sosial bersama penduduk lokal dan wisatawan asing lainnya.Tujuan berikutnya perjalanan Windy dan kawan-kawan adalah Hue City. Mereka memilih menaiki sleeping bus untuk perjalanan ini. Kendaraan yang cukup murah dan banyak digunakan turis atau backpaker dunia sebagai alternatif penghematan biaya. Hal yang menarik dalam perjalanan menggunakan sleeping bus ini kita akan menemui banyak kaki menjuntai yang Windy sebut sebagai ‘laci kaki’.Banyak hal yang mengejutkan yang ditemui Windy di sepanjang perjalanannya. Ada sepasang cinta yang ditemukannya di Siem Reap. Bertemu dengan Nenek Rusia dan Kakek Australia dalam perjalanan menuju Sai Gon. Kendala bahasa di antara mereka tidak menjadi halangan bagi Windy untuk saling berinteraksi. Windy tahu dengan bahasa apa dia harus bicara. Selain itu mereka bertemu Saphol, seorang sopir tuk tuk bertubuh tambun yang penuh dengan senyum dan siap mengantar mereka berkeliling Phnom Penh. Sebuah keberuntungan bertemunya Windy dengan Saphol.Perjalanan Indochina ini bukanlah perjalanan rekreasi biasa bagi Windy. Ia banyak menemukan momen menarik di dalam kehidupan masyarakat Vietnam. Kepekaannya terhadap keadaan sekitar membuat kita seolah-olah ikut dalam perjalanan ini. Hal sepele yang terkadang luput dari pengamatan kita tampak menarik ketika Windy menceritakannya. Ada kedamaian yang dia rasakan ditengah keramaian kota Hanoi, suasana kekeluargaan yang berbeda, serta hal lain yang membuatnya merasa berada di rumah. Rumah yang berbeda, seperti kata Windy “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.”Vietnam bukanlah akhir perjalanan Windy dalam Life Traveler. Masih banyak cerita yang akan dia bagikan dalam tulisannya ini. Tinggal dengan keluarga Steve di Virginia. Cerita Windy kepada Pak Mula selama dia berada di Frankfurt Book Fair. Persahabatan antara Windy dan Mar, bule Paris yang selalu merindukan Indonesia. Serta pengalaman menarik lainnya yang membuat kita ingin merasakan petualangan yang sama menariknya.Windy memandu pembaca melalui bukunya ini bahwa buah tangan yang paling berharga dan mahal selama perjalanannya adalah pengalaman. Ia tak pernah sedikit pun melewatkan kesempatan yang ada untuk mengejar pengalaman itu. Menarik, karena selalu ada kejutan yang tidak terduga di sana.Bagi yang senang traveling buku ini cukup membantu dalam mengenal seluk beluk perjalanan dunia. Windy juga tidak lupa untuk membagikan tips-nya yang berkaitan dengan hal teknis perjalanan serta tempat apa saja yang wajib dikunjungi para traveler ketika menginjakan kakinya di sebuah negara.

  • Lia Tuslia
    2018-10-27 16:14

    Setelah membaca halaman terakhir, saya menghela napas. Saya lega. Pada akhirnya, saya bisa menyelesaikan narasi perjalanan yang disusun oleh Mbak Windy dalam buku Life Traveler ini. Tidak seperti membaca fiksi, untuk menyelesaikan buku ini, saya lambat sekali dalam mengolah kata demi kata yang terangkai di dalamnya. Karena memang, ini bukan genre yang saya sukai.Buku ini menyimpan banyak sejarah dan beberapa fakta yang terdapat pada beberapa negara yang dikunjungi. Karena saya tidak menyukai buku sejarah dan buku yang berisi fakta itulah, saya baru menyelesaikan buku ini dalam waktu 4 hari (waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan sebuah buku). Biasanya, jika membaca fiksi, buku tersebut akan saya lahap dalam waktu 3-5 jam, bergantung ketebalan buku.Pada bab awal, rasanya saya ingin menghentikan membacanya, tetapi review positif serta bintang pada Goodreads memaksa saya untuk terus membaca halaman demi halaman. Saya harus menemukan bagian yang menjadi daya tarik buku ini. Jika orang lain bisa menemukannya, kenapa saya tidak?Ternyata, kesabaran saya untuk terus membaca membuahkan hasil. Pada bagian #5, Mbak Windy menceritakan pengalamannya naik sleeping bus. Penggambaran bus jenis ini membuat saya tertarik karena menjalani LDR dengan pria asal kota Semarang membuat saya menjadi seorang busmania. Semangat baca pun meningkat beberapa puluh persen. Apalagi bagian penjelasan telapak dan bau kaki berhasil membuat saya tertawa. :DSetelah melewati bab #5, saya mulai tak bisa melepaskan buku ini dari genggaman. Bahkan pada bab #9, saya sempat menitikkan air mata membaca 'surat' untuk Pak Mula Harahap. Meski tak mengenalnya, pasti beliau orang yang hebat sehingga penulis membuat bab khusus untuknya. :')Secara keseluruhan, saya menyukai cara penceritaan dan editan buku ini. Kalau saya tidak melewatinya –karena jujur, beberapa bagian tentang penjelasan/sejarah suatu tempat hanya saya baca sekilas–, saya tidak menemukan kesalahan penulisan. Struktur kalimatnya sempurna. Ini merupakan hal yang wajar karena penulis merupakan seorang editor. Meskipun begitu, peran Alit T. Palupi sebagai editor Life Traveler juga sangat penting dalam menyempurnakannya. *salut* Isi buku ini dikemas dengan menarik. Tidak hanya narasi perjalanan dan deskripsi tempat yang dikunjungi, tetapi penulis juga memberikan ilustrasi, foto, dan tips. Saya sangat menikmati ilustrasi dan foto-foto tersebut, membuat mata saya betah berlama-lama memandangi halaman buku ini. :DAwalnya, saya ingin memberikan 3 bintang karena saya lebih menyukai fiksi dibanding nonfiksi. Namun, saya menggenapkannya menjadi 4 bintang karena penulis mampu memberikan makna kehidupan pada setiap bagian cerita perjalanannya. :’)Pada buku ini, saya menemukan 4 kata yang menarik perhatian: "menguar", "menyurukkan", "mengular", dan "mahfum". Keempat kata tersebut membuat saya berhenti membaca sejenak, mengerutkan kening, berpikir, lalu membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk mengetahui atau sekadar memastikan artinya. Pembahasan mengenai kelima kata tersebut, telah saya posting pada blog: di siniNB:"Jatuh cinta membuat orang jadi tak suka bercakap-cakap. Mereka lebih memilih diam dan mengamati orang yang dicintai dengan tatapan penuh kasih." (LT: 114)Sedikit kutipan dari buku ini mengingatkan LDR saya dengan si pacar. Kami hanya bertemu 3-4 bulan sekali. Namun, ketika bertemu dan makan di luar, kami tak banyak bicara, cenderung menikmati kebersamaan. Apakah benar kami saling jatuh cinta? Semoga. :D

  • Delisa sahim
    2018-10-21 19:24

    akhirnya Kak Windy menerbitkan karyanya walaupun bukan Novel tetapi ini tetap sebuah karya dari Windy Ariestanti. Saat membaca buku ini, aku seperti mengikuti Kak Windy menjelajah. Terlebih lagi aku menemukan dunia luar yang unik.Mulai dari bab 1 yaitu berkemas. Kalau aku merasa Kak Windy memberikan tip & trik cara berkemas suapaya pakaian selama diperjalanan cukup untuk travel dan tidak membawa pakaian yg tidak penting. Okey, kalau gue kasih perbab kayaknya kurang seru. Gue akan bercerita sedikit dari buku yang super seru ini.Bahasa Tubuh Manusia ?Yup, sering kali kita tidak tahu apa bahasa atau bertanya, kenapa banyak sekali bahasa didunia ? Bukankah seharusnya hanya satu bahasa supaya semua manusia mengerti apa yang dibicarakan ? Jujur, aku tidak terlalu mengerti bahasa Inggris yang rumit padahal aku sangat suka membaca novel luar. Tetapi apakah itu menjadi pengahalang bagiku ? Atau saat aku bertemu dengan seorang China yang bertanya kepadaku dengan bahasa cina, yang aku tidak mengerti sama sekali. Tetapi aku menjawab pertanyaannya memakai bahasa Indonesia.Lucu memang apalagi saat Kak Windy bercerita bagaimana seorang nenek Rusia yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris hanya bisa bahas Rusia tetapi nekat menjelajah negara-negara Indochina. Kenekatan nenek itu membuahkan hasil, yang aku sadari dari cerita nenek ini adalah bagaimana bahasa tetap saja bahasa dunia diperlukan. Bahasa yang tidak terpatok kepada suatu negara tetapi bahasa dunia dapat menerjemahkan lebih bebas dan tanpa batasan. Bahasa itu dapat dilihat dari mimik, body langues, pemahaman, pendengaran dan lain-lain.Aku suka cara Kak Windy menceritakan tentang sosok Pak Mula dihadapan kakak. Seorang editor yang sangat menjujung tinggi nilai sebuah buku. Aku tidak tahu siapa itu Pak Mula Harahap tetapi aku akhirnya tahu siapa dia walaupun aku dapat dari sudut pandang Kak Windy. Surat Kak Windy begitu menyentuh. Kak Windy memberikannya kepada orang yang sangat berharga baginya dan bagi kita yang tidak tahu menjadi tahu sosok pejuang itu. Dibalik rangkaian kata-kata tersimpan kebangaan karena telah mengenal sosok Mula Harahap itu yang aku dapatkan. Sosok pak Mula yang mau belajar walaupun beliau lebih lama berada didunia perbukuan.Didalam buku ini bukan hanya menceritakan perjalanan tetapi ada sedikit kisah cinta dari Kak Windy. Walaupun kisah cintanya tak berakhir sesuai harapan tetapi itulah yang dinamakan perjalanan menuju Arti Cinta sebenarnya. Banyak curhat atau cerita tentang Cinta baik itu berita bagus dan buruk. Tetapi aku hanya menanggapinya bahwa itu adalah proses dari mengenal dan memperoleh Cinta. Jangan pernah menanyakan kepadaku apa itu Cinta kepada pasangan ? Jujur, aku tidak tahu. Kak Windy mungkin pernah merasakan Cinta yang bersemi dan berakhir, Cinta yang datang dan mencari. Tetapi aku ? Aku hanya wanita yang ingin menyendiri lebih dahulu, aku ingin mendengar bagaimana Cinta itu ada dan muncul disetiap pasangan. Bohong kalau aku tidak iri ketika salah satu sahabatku bermersaan. Tetapi itu semua aku tanggapi dengan sabar karena aku tahu semua manusia pasti ada pasangannya.Yup, itu saja riview-ku. Sebenarnya masih ada satu bab lagi tetapi itu aku skip, bab ke 17.Sedikit protes kalau Kak Windy baca. Hehe*Kok, ada cerita yang sama di buku The Journey ?? Padahal aku pikir ceritanya semua masih gress. *cemberut*Di dalam buku ini ada Tips & Trik Traveler. Juga tempat-tempat yang harus dikunjungi. N.B : Kak Miaa, Reviewe-nya sudah selesai,ya..hihihi ^^

  • Aizatur
    2018-10-23 19:10

    ‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’…(Satu Malam di O’Hare)***Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…… because travelers never think that they are foreigners.*****“… Windy membuat buku ini istimewa karena kepekaannya dalam mengamati dan berinteraksi. Ia juga seorang penutur yang baik, yang mengantarkan pembacanya dalam aliran yang jernih dan lancar. Dan bagi saya, itulah yang melengkapkan sebuah buku bertemakan perjalanan. Pengamatan internal, dan tak melulu eksternal.”—Dewi "Dee" Lestari, penulis“Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris, bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati. Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.”—Valiant Budi @vabyo, penulis-----------------------------------------------------------------Akhirnya saya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Terimakasih untuk mbak Windy yang sudah mengajak saya jalan-jalan. Meskipun tidak mengalaminya secara langsung, rasanya saya dapat membayangkan saya berada disana bersama mbak Windy. Saya membaca Life Traveler ini cukup lama, atau bisa di bilang sangat lama (?). Bukan karena minat baca saya yang menurun, tapi lebih karena saya ingin menikmati setiap langkah saya dalam perjalanan kali ini. Seperti yang dikatakan perempuan tua yang berasal dari Cina (Satu malam di O'Hare)'Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself' ingin sekali saya merasakan seperti itu, entah di perjalanan yang mana. 'rumah' dalam artian yag lain. Saya rasa semua orang pernah merasakannya.Dan teruntuk Marjolein yang menyadarkan saya, bahwa di luar sana ada orang yang bahkan sangat merindukan Indonesia. Terimakasih. Saya bangga menjadi orang Indonesia! Terimakasih telah mengajak saya mengintip Frankfurt Book Fair, rasanya ingin sekali suatu hari nanti saya bisa mnginjakkan kaki di sana. Dan saya baru tahu kalo mbak Yunika itu temannya mbak Windy, hehe sedikit tahu juga perjalannya. Yang melakukan syuting video klip di pulau Jeju - saya langsung buka youtube - salut buat mbak Yunika! Untuk perjalanan ke Kawah Putih, saya ingin sekali pergi kesana. Someday. Sekali lagi terimakasih mbak Windy untuk perjalanannya :D

  • an
    2018-11-14 23:11

    we just need to stay away for a moment to get back home (hlm.65)mungkin ini tema besar yang ingin diangkat ka'windy dalam tulisan ini. kita akan merindukan rumah, suatu kegiatan 'pulang' jika kita telah pergi jauh.pertama kali ketemu ka' windy di sebuah rumah makan vietnam di jakarta untara. ga sangka sekarang membaca buku -yang separo cerita na- tentang perjalanan ke indochina dan salah satu na adalah vietnam. seperti apa vietnam itu? indah? bisa jadi. indonesia juga ga kalah indah na kuk, bahkan mungkin banyak yang lebih indah. tapi yang menarik adalah cerita tentang manusia na. setiap daerah bisa punya tempat bagus, setiap daerah bisa punya kebuadayaan masyarakat yang unik, tapi ga setiap orang bisa memandang itu semua sebagai sesuatu yang unik.time always move in constant motion (hlm.10)waktu yang berlalu, kebiasaan yang berulang menjadi rutinitas, kadang membuat kita tak ubah na robot yang melakukan sesuatu dengan diprogram. tak tahu apa yang ada di sekitar kita. yang autis di angkot dengan tekhnologi kecil bernama ha pe or be be em'an. kita semua sibuk sendiri dan ga kerasa satu hari berlalu tanpa kita tau, apa beda hari ini dengan hari kemaren. sudah terprogram.waktu tak pernah lebih dari roda yang berputar dengan irama konstan 24 jam sehari. tak akan berlalu dengan laju yang lepas kendai (hlm.76)begitulah kalau kita tidak bisa mengendalikan ritme hidup kita. berbahagialah mereka yang bisa keluar sejenak dari rutinitas dan tak hanya menikmati waktu yang ada dengan autis sendiri tapi justru melihat yang ada di sekitar kita. gaya orang membonceng montor, jenis lagu yang biasa dinyanyikan pengamen yang paling mengundang pengguna angkot untuk mengeluarkan recehan, topik bahasan yang hangat dibicarakan. atau mungkin, seperti yang dikisahkan ka'windy, kisah yang dibawa orang dari perjalanan mereka.pilihan kami hanya satu: belajar menikmati waktu yang kami lihat dari balik jendela. kenapa harus terburu-buru? (hlm.36)menekan tombol pause sejenak untuk melihat atau mendengarkan. untuk tahu cerita yang dibawa orang, untuk menjadi egois dengan memanjakan diri, untuk bangkit dari mengenang cerita yang ada bersama pa'mula, untuk berani melepas cinta dari tempat yang jauh. ini satu yang sungguh di luar dugaan. buat rhe, ka'windy itu sosok yang mandiri, ceria n bisa apa aja. tapi ternyata... bisa melow juga karena cinta ^.^ada satu cerita di kumpulan kisah ini yang telah diterbitkan di buku yang lain, sudah pernah baca c, tapi untung na rhe tidak membali na -maap para penulis, inilah generasi peminjam-. tidak mengurangi cerita dari buku tapi mungkin buat rhe yang sudzh pernah baca jadi bertanya, kuk nongol lagi c ni cerita na?untung lah ada bonus cerita di belakang na, tak hanya perjalanan sendiri tapi para sahabat yang berjalan. bahwa kisah itu tak perlu dari yang jauh, asal kita bisa memaknai na. melihat dan mendengarkan.konon, bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanan (hlm.239)-90-

  • Rie_dominique
    2018-11-15 17:00

    Buku ini merupakan hadiah BBI 1st Giveaway dari blog Stefanie Sugia. Walaupun buku ini selesai saya baca praktis dihari yang sama dengan buku ini sampai ditangan saya, tetapi penyakit malas mereview sedang melanda saya bulan ini. Bulan ini baru mereview 2 buku! *sighhhh*Di buku ini Windy Ariestanty menceritakan perjalanannya berkeliling vietnam dengan tiket murah yang dibelinya setahun yang lalu. Walaupun belum ada jaminan ia bakal bisa mendapatkan cuti selama 2 minggu di waktu keberangkatannya tersebut, Windy tetap dengan nekat merencanakan perjalanannya. Windy juga memberikan trik-trik berkemas sehingga barang yang dibawa tidak memberatkan dan masih bersisa tempat untuk menampung oleh-oleh yang dibeli.Windy tidak hanya bercerita mengenai perjalanannya saja atau tempat-tempat yang dikunjunginya. Ia juga menceritakan mengenai orang-orang yang ditemuinya, seperti Ms. Hang yang ramah sehingga mendapatkan banyak kartu pos dari penjuru dunia yang berterimakasih atas kebaikan dan keramahannya. Juga mengenai nenek Rusia yang berkelana sendirian di negeri Vietnam tanpa mengerti bahasa Inggris apalagi bahasa Vietnam. Mengenai penganti baru yang ditemuinya di bus dan mendapatkan tempat duduk terpisah. Kesedihan mereka begitu berasa walaupun mereka hanya dipisahkan oleh satu kursi.Buku ini tidak melulu menceritakan perjalanan Windy mengarungi Vietnam. Ia juga bercerita pengalamannya saat tinggal di Cherokee, North Carolina, paris, Thailand atau sejenak mencuri waktu mengunjungi Praha. Dan disetiap perjalannya Windy menemui kisah-kisah dan teman-teman baru.Travelers never think they are foreignersMembaca buku-buku perjalanan selalu menimbulkan perasaan yang bertentangan dalam diri saya. Yang satu adalah perasaan cinta dan bahagia karena membawa saya berkeliling menuju negeri-negeri yang hanya saya kunjungi dalam mimpi (dan buku). Yang satu lagi adalah perasaan iri dan (sedikit) dengki karena ya itu, negara-negara tersebut masih berupa negeri di awan bagi saya.Yang paliiiiiiiing saya sukai dari buku ini adalah lukisan-lukisan cat air yang menggambarkan tempat-tempat yang dikunjungi oleh Windy. Bagi saya lukisan-lukisan ini lebih berkesan dari foto-foto asli yang juga dilampirkan. Mungkin karena saya belum pernah mengunjungi negera-negara tersebut, lukisan tersebut terasa lebih memancing imajinasi saya.Dalam setiap bab Windy pasti menyisipkan beberapa pengalaman dan makna hidup yang didapatkannya dari perjalanan dan orang-orang yang ditemuinya. Bahwa walaupun kita berada ditempat yang asing dan jauh dari rumah, tetapi dengan orang-orang yang tepat, tempat asing itupun bisa berubah menjadi rumah yang hangat bagi kita. It’s just your another home.Aiihhhh... berasa kali baca buku ini :D

  • Abigail
    2018-11-10 18:27

    Yes, actually, I have to say: I really like this one.Udah lama masuk wishlist dan udah beli dari lama juga tapi baru sempet nyelesaiin sekarang. Well, glad it's worth it-thanks to Windy!-Pertama-tama. saya sebelumnya pernah 'mengenal' Windy dari salah satu ceritanya di dalam buku The Journeys. Judul cerita itu adalah A Morning Kiss Bye From A Stranger. Dari situ saya sudah jatuh cinta dengan caranya menulis, dan tertarik untuk mengumpulkan karyanya. Dan begitu saya membaca Life Traveler ini, rasa cinta saya kepada tulisan Windy pun semakin membuncah.Percaya deh, ini keren banget.Dari cover-nya saja sudah sedemikian menarik. Ditambah halaman-halaman di dalamnya juga dibuat cantik dengan macam-macam ilustrasi berupa foto maupun sketsa yang tak jarang dicetak berwarna. Belum lagi, pembatas bukunya yang unik banget ini. Totally love it!Lalu, gimana dengan ceritanya?Nah, di dalam buku ini terdapat 18 cerita perjalanan Windy, yang buat saya, semuanya menarik. Windy tidak menceritakan sebatas objek wisata yang ia kunjungi saja, tetapi ia mengeksplor cerita mengenai orang-orang yang ia temui dalam perjalanannya tersebut. And that was quite fun, actually. Malah sedikit bikin iri.Hah? Iri? Iya, iri. Karena banyak banget hal yang unpredictably fun yang dialami Windy bersama strangers yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Entah mendapat tumpangan gratis, kamar gratis, diantar ke tempat yang menarik, dan masih banyak lagi.Oya, tapi buat mereka yang mengharapkan panduan untuk traveling, don't worry. Karena biasanya di akhir cerita, Windy selalu menyisipkan deskripsi singkat mengenai tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi. Atau tak jarang ia juga memberikan note, info, maupun tips yang saya yakin akan sangat berguna untuk kalian, para travelers.Yes, this is a well-packaged book.Disamping itu, di banyak cerita, Windy seringkali menuliskan opininya mengenai kehidupan, yang diambil dari berbagai macam sisi. Dan itu sedikit banyak membuat saya merenung, bahkan menggumam 'masa, sih?' or maybe 'bener juga, ya.'Yet, there are so many quotes that you can take from this book-and that's amazing!Jadi, buat yang belum baca buku ini, I-highly-recommend this for you, guys!And of course, 4 stars is yours, dear Life Traveler.

  • Uthie
    2018-11-15 18:14

    Sudah sejak awal tahun ini saya memiliki buku ini, namun saya baru membuka sampul dan mulai membaca lembar demi lembarnya ketika mendekati akhir tahun ini. Bukan karena terdesak oleh buku-buku lain yang "memanggil" saya untuk membacanya. Namun karena saya rasa saya butuh momen yang tepat untuk membacanya. Mengapa harus butuh waktu yang tepat? Karena banyak yang bilang buku ini bagus dan rating tinggi bertebaran untuk buku ini bila di lihat ratingnya di Goodreads. Dan momen itu datang di jelang pertengahan tahun ini.Saya membuka halaman pertama buku ini di dalam kabin Boeing 737-400 yang sedang mengudara di atas langit Ternate dalam perjalanan saya menuju ke Medan transit Jakarta. Jarak tempuh tanpa transit dari Ternate ke Jakarta memakan waktu 3 jam 20 menit. Apa yang saya bisa saya lakukan untuk menghilangkan rasa jenuh dalam waktu yang panjang tersebut. Jalan-jalan? Lorong pesawat terlalu kecil untuk dijelajahi. Tidur? Adrenalin sedang terpompa deras dalam diri saya mengingat akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk pulang ke Medan. Satu-satunya cara untuk membunuh kebosanan itu adalah membaca.Sebagaimana sebuah perjalanan, buku ini pun dibuka dengan tajuk "Berkemas". Ternyata proses yang sederhana itu pun dapat menjadi rumit karena ada beberapa pilihan yang harus diambil. Apakah barang tersebut harus dibawa, ditinggalkan begitu saja atau mungkin sudah saatnya untuk dibuang.Buku ini cukup sarat dengan tips-tips perjalanan maupun tempat-tempat yang wajib atau pantas dikunjungi bila berada di negara atau daerah tersebut. Yang membedakan buku ini dari buku traveling lainnya cukup jelas. Windy menyelipkan kisah dan renungannya dalam setiap perjalanan yang ia lalui. Covernya cukup sederhana, selembar daun maple yang berwarna-warni di musim gugur, tapi tak mengurangi keindahan bukunya. Bookmark-nya pun unik. Sebuah boarding pass life traveler. Ilustrasi-ilustrasi di dalamnya pun menarik perhatian saya. Lukisan-lukisan cat air yang menggambarkan tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung terasa lebih mengena dibandingkan hasil jepretan kamera.Review lengkap saya akan buku ini dapat dibaca di http://putriuthieutama.blogspot.com/2...

  • Diego Christian
    2018-10-28 22:23

    Saat berwisata, yang paling kita perhatikan mungkin adalah keindahan tempatnya, makanannya, budayanya, dan aura lain yang ditimbulkan dari tempat tersebut. Tapi, pernahkah kita terpikir bila suatu saat nanti bertemu dengan orang-orang dalam perjalanan yang nyatanya dapat membuat kita takjub, tersenyum, mampu memberi suatu hal yang baru di dalam hidup kita? Buku ini merangkum hal tersebut. Windy Ariestanty memaparkan perjalanannya bertemu, mengenal, belajar, berbagi, berpetualang bersama manusia yang ia temui selama perjalanannya. Perjalanannya mengelilingi dunia adalah perjalanan kehidupan, bahwa dunia tidak hanya berkutat di sekitar tempat kita bekerja, belajar, makan, dan hidup. Kadang, kita harus pulang ke tempat yang disebut rumah, dan melalui buku ini saya mendapat perluasan makna kata "rumah", bahwa rumah bukan hanya kata tempat secara leksikal. "Rumah" secara gramatikal yang dimaksud Windy adalah tempat (di mana pun) yang dapat membuat kita merasa pulang.Membaca buku ini membuat saya teringat akan perjalanan saya sebelum-sebelumnya, bahwa ketika saya hendak pulang ke Jakarta di hari terakhir perjalanan, melihat foto-foto kenangan selama perjalanan, mengingat teman-teman baru yang saya temui di perjalanan, dan terkenang aura dan aroma khas tempat tersebut kadang saya menangis. Saat itu saya merasa bahwa saya harus kembali "pulang" ke "rumah".Life Traveler menyajikan banyak rumah yang pernah disinggahi Windy Ariestanty. Dari cerita yang dipaparkan kita dapat memilih untuk belajar atau sebagai referensi tempat jika suatu saat hendak pergi ke tempat yang pernah disinggahi Windy. Buku ini, selain memaparkan tentang tempat wisata, cara bepergian, makanan, juga menjelaskan pengalamannya bertemu dengan manusia yang dapat memperkaya jiwa. Baca dan berjalanlah bersama Windy mengarungi perjalanan kehidupan dan bertemu manusia.

  • Nura
    2018-11-02 18:11

    Reading challenge #9: A book you own but never read beforeBeli buku ini waktu pertama keluar tahun 2011 karena tertarik sama daun maple di cover-nya dan bonus tote bag-nya. Kemudian buku ini mengendap sekian tahun di dalam container dan baru sempat dibaca sekarang. Ini buku kedua tentang perjalanan yg gw suka selain bukunya Agustinus. Gw suka pilihan katanya. Satu-satunya yg mencegah gw memberi bintang empat adalah banyaknya typo yang bertaburan di hampir setiap halaman. Yeah, I'm fussy like that :p Penuturannya sendiri, kalo boleh gw pilah ada tiga bagian. Pertama, perjalanan ke Indochina. (Perjalanan yg pengen gw lakukan klo udah sampe ke ujung timur dan barat Indonesia). Kedua, perjalanan di Eropa yang berawal dari Frankfurt Buchmesse. (Perjalanan yg udah dilakukan beberapa temen gw, dan harus gw lakukan satu saat nanti--how I envy you). Dan ketiga, perjalanan bersama sahabat terdekat sang penulis. Semua bagian itu dipautkan dengan cerita perjalanan selama penulis di US. Gw ga tahu kenapa, tp gw merasa transisi dari satu bagian ke bagian yang lain agak kurang mulus. Yah, mungkin itu cuma gw aja sih.Ada satu kesamaan kecil yg gw miliki dg si penulis: kita sama-sama milih jurusan pariwisata karena banyak jalan-jalannya. Bedanya gw sudah milih itu setelah lulus SMP. It was inconsiderate of me, at the time, to quenched my hunger to see places. Dan keinginan gw untuk pergi sedikit lebih jauh dari Pulau Jawa baru terpenuhi beberapa tahun terakhir. Semoga sebentar lagi keinginan gw untuk melanglang ke negeri ramen bakal terlaksana. Mungkin saat itu gw bakal memahami arti pulang.