Read 86 by Okky Madasari Online

86

Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saApa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.Pokoknya, 86!...

Title : 86
Author :
Rating :
ISBN : 9789792267693
Format Type : Paperback
Number of Pages : 256 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

86 Reviews

  • Harun Harahap
    2019-03-25 02:49

    KORUPSICapek nggak setiap mendengar kata tersebut? Bosen nggak? Kalo belum, bagus. Berarti anda masih peduli dengan bangsa ini. Walau korupsi sepertinya telah membudaya, tapi gue yakin masih bisa dihapuskan dari Indonesia. Gampang? Beuhhhh, ya nggaklah. Tapi walau sulit, kalau berusaha pasti bisa.Dalam novel terbarunya, Mbak Okky mengambil tema korupsi tersebut. Khususnya di lingkungan hukum Indonesia. Beliau menuturkan bagaimana lembaga hukum di Indonesia tidak bisa memberikan keadilan bagi tiap warganya. Siapa yang punya uang, dia akan terpihak. Nggak punya uang, ke penjara ajahh!!Gue nggak tau apa ada orang yang sejak awal sudah berniat korupsi saat masuk ke dalam dunia pekerjaan. Mungkin ada, mungkin juga tidak. Tapi dengan adanya kesempatan yang terbuka untuk melakukannya, orang yang tak punya niatan pun mungkin akan tergoda. Arus yang kuat akan menyeret seseorang yang baik ke jalan yang tidak baik. Banyak tekanan baik dari atasan, keluarga maupun pribadi juga kerap menguatkan niat mereka untuk korupsi.Seperti halnya di dalam novel 86 ini, tokoh utamanya yang berperilaku baik akhirnya ikut-ikutan tidak baik. Sebab pertamanya adalah saat melihat rekan kerja yang hampir seluruhnya melakukan praktek korupsi. Tahu sama tahu, begitu katanya. Jadi saat korupsi, semua mengamini dan tak ada yang mengingatkan bahwa itu merupakan perbuatan yang salah.Kemudian, perintah atasan juga membuatnya tak bisa menolak untuk korupsi. Butuh idealisme yang kuat untuk tetap teguh berjalan lurus. Apalah daya pegawai rendahan yang hidupnya pas-pasan. Dikucilkan di lingkungan pekerjaan bisa berakibat buruk pada hidup mereka. Jadi daripada tersingkirkan, mereka berpikiran lebih baik mengikuti arus yang ada.Seperti yang telah gue bilang, bahwa adanya tekanan dari keluarga atau urusan pribadi bisa menimbulkan niatan korupsi. Hidup yang kian sulit dengan kebutuhan pokok yang harganya naik setiap hari dibuat sebagai alasan pembenaran korupsi. Padahal, kita semua tau bahwa uang tak akan pernah cukup. Saat digaji sejuta tidak cukup, digaji sepuluh juta pun tak cukup pula. Kala kita berbohong tentang sesuatu akan muncul kebohongan yang lain. Begitu juga dengan kejahatan lainnya, akan memunculkan kejahatan lainnya. Saat terjerumus ke lubang kenistaan, akan sulit untuk keluar. Tapi dengan niat dan usaha yang baik akan mengeluarkan kita dari sana.Saya akui memang kenaikan gaji tidaklah menyelsaikan masalah korupsi dengan benar. Karena walau setiap kali gaji disesuaikan dengan kebutuhan pokok sehari-hari, tetap saja tak akan cukup. Yang perlu kita ubah dari tatanan birokasi ini adalah sistemnya. Perlu dibuat sistem yang akan meniadakan kesempatan mereka untuk melakukan praktek korupsi. Butuh banyak mata yang mengawasi tindak tanduk mereka. Lingkaran setan korupsi ini harus diputus, pangkas orang-orang yang sudak tak bisa lagi diajak ke jalan yang lurus.Semoga Negeri kita ini bisa bersih dari korupsi. Amin!

  • Nike
    2019-04-07 08:39

    Apa yang ada dalam benak kalian ketika mendengar istilah 86 (delapan enam) ?Jujur saja, saya berasa denger polisi yang sedang bertugas. Awalnya saya pikir 86 itu berarti sebuah istilah untuk mengatakan setuju atau ‘oke’. Ternyata saya kurang tepat. Istilah lapan enam atau dalam huruf ditulis ”86” adalah salah satu kode atau sandi yang harus dipahami oleh anggota polisi. Sandi itu memiliki arti sama-sama mengerti atau memahami. Makin kesini, istilah 86 ini jadi berarti ‘beres’. Ya, semua bisa ‘beres’ asal ada ‘pelicin’nya. Nah, isu inilah yang diangkat oleh Okky Madasari dalam buku keduanya.Dikemas dalam sebuah novel, 86 ini saya rasa mampu menyodorkan gambaran Indonesia saat ini. Membuka mata saya akan banyaknya hal yang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pun rasanya sulit untuk membunuhnya. Saya rasa Okky mempunyai nyali besar untuk membuat novel seperti ini, mengangkat isu yang ‘rawan’ diberitakan dan ini membuat saya salut.Menceritakan Arimbi, seorang gadis desa yang beruntung keterima jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebagai seorang juru ketik di sebuah pengadilan di Jakarta. Setelah 4 tahun menjadi pegawai yang ‘lurus-lurus’ aja akhirnya Arimbi mulai pengen kenal banyak pengacara demi sedikit-sedikit belajar ‘minta bonus’ dari pekerjaannya. Ini semua juga di dukung sama teman sekantornya dan juga pacarnya, Ananta.Menyadari bahwa minta sedikit bagian dari pekerjaannya dari banyak pengacara bisa meningkatkan keuangannya, Arimbi melakukannya lagi dan lagi, hingga akhirnya Arimbi ditangkap oleh KPK. Di penjara pun Arimbi akhirnya melakukan hal yang mungkin awalnya ga disangkanya, mulai dari menyukai sesama tahanan sampai menjadi kurir sabu-sabu. Tapi ternyata, untuk mengakhiri ‘peran’nya juga suaminya sebagai kurir sabu-sabu tidaklah mudah, dan tebak deh, biasanya yang kayak gini ada aja kualatnya.Saya salut sama penulis novel ini, Okky berani sekali menuturkan banyak hal yang membuat saya tercengang, saya rasa Okky butuh waktu untuk riset sampai akhirnya buku ini terbit dan dibaca masyarakat. Saya sempet diskusi sedikit dalam perjalanan dengan suami, karena Ayah mertua saja dulu adalah mantan hakim pengadilan tinggi agama, dan suami saya membenarkan banyak hal yang diceritakan Okky dalam buku ini.Dari segi cover, saya rasa tidak terlalu menarik awalnya, tapi justru isi ceritanya yang membuat buku ini sangat menarik. Gaya penceritaannya mudah dipahami dan mengalir lancar. Dasar cerita pedesaannya hampir sama dengan buku pertama Okky yaitu Entrok, sepertinya Okky konsisten dengan jalur cerita yang satu ini Beginilah gambaran Indonesia, tanah air saya, yang di dalamnya masih saja semua diatur dengan ’86′. Yang ga punya duit, ya jangan harap semuanya bisa berjalan lancar. Itu sebabnya saya menghindari sekali sesuatu hal yang berhubungan dengan pengadilan dan polisi. Ayah mertua saya bilang semua ini masalah pilihan, jika memilih untuk melakukan hal seperti itu, ya semua ada resikonya

  • Mia Prasetya
    2019-04-07 04:32

    86 - Okky Madasari, kesan pertama yang ditangkap dari cover dan sinopsis di halaman belakang : korupsi. Coba kita cermati sejenak ringkasan cerita 86, apa yang bisa dibanggakan dari seorang pegawai rendahan di kantor pengadilan? Arimbi gadis polos yang berprofesi sebagai juru ketik Pengadilan Negeri lambat laun menjadi bagian perputaran uang bawah tangan, terlebih lagi saat ibunya sakit keras. Apa yang terjadi? Uang berbicara tapi jangan salah kata hati juga berteriak. Hanya nurani yang bisa memutuskan, mau menerima godaan uang atau terhimpit dengan segala macam kebutuhan rumah tangga. Arimbi terjerat. Nafsu dan ambisi melilit habis. Dari buaian AC di kamar kosnya yang sempit, uang tempel 200-300 ribu agar bisa menikmati makan di restoran ala orang kaya, semuanya berlanjut. Arimbi terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri. Punya suami kelak bukannya membantu tapi malah merongrongnya dengan pinjaman hutang. Atas dasar nama cinta Arimbi memenuhi semua tuntutan sang suami. Dan seperti kalimat yang saya sering dengar, apa yang kau tabur itu yang kau tuai. Arimbi menuai perbuatannya. Miris, sedih, ironis tapi bisa berbuat apakah ketika pada akhirnya uangpun sudah tak bisa berbicara?Okky Madasari tak pelak lagi adalah penulis berbakat Indonesia tema berat diramu dengan lugas tanpa kesan menggurui. Tema tak biasa walau hal ini terjadi setiap hari di sekitar kita. 86, baru saya tahu apa artinya angka ini :) PR saya selanjutnya, mencari Entrok. Bosan dengan cerita cinta ala remaja ABG maupun cinta antara lady dan para viscount? 86 bisa menjadi penyegaran bagi anda. Bisa diilustrasikan dengan terbiasa minum es sirop manis bahkan terkadang terlalu manis, mengecap lemon squash kan berasa seger banget? *apaansih* :pDitunggu karya selanjutnya, mbak Okky.

  • Ginan Aulia Rahman
    2019-04-23 04:29

    Saya punya beberapa catatan untuk novel ini, berikut catatannya;1. Tokoh utama di buku ini, yakni Arimbi, terlalu mudah untuk ikut-ikutan korupsi tanpa mengalami dilema etis. Harusnya suara hati Arimbi ribut dan kacau, terlintas perasaan deg-degan dan perasaan bersalah ketika pertama kali melakukannya, lalu ia berniat untuk berhenti yang kemudian niat itu gagal ia jaga.Selugu apapun seseorang, keempat tahap tersebut (berbuat keliru-merasa bersalah (sekaligus enak)-niat tidak mengulangi-melakukan kekeliruan lagi) selalu ada dalam proses menjadi jahat. Contoh paling bagus seseorang menjadi jahat ada di TV Series Breaking Bad. Arimbi baru mengalami dilema etis di akhir cerita ketika ia memiliki anak. Saya kira dilema etis ini sangat terlambat. Seandainya dilema etis dialami Arimbi sedari awal cerita, pasti lebih seru2. Tidak ada sama sekali unsur humor dalam cerita Arimbi dari awal sampai akhir. Hidup tanpa kelucuan dan tawa itu mustahil seserius atau sekriminal apapun hidup yang dijalani. Saya kira hal ini membuat kisah Arimbi kurang 'hidup' dan tidak lengkap. 3. Saya heran, mengapa di novel dengan tema hukum tidak pembahasan tentang pasal dan ayat undang-undang. Beberapa hal yang terkait hukum seperti sidang, pengacara, hakim, dan jaksa masuk ke dalam cerita, tapi saya kira sangat kurang terasa nuansa hukumnya. Bahkan ketika Arimbi dan bu Danti menjadi tersangka kasus korupsi, tidak disebutkan mereka berdua melanggar pasal apa dan ayat berapa. Novel bagi saya tidak hanya harus menawarkan cerita bagus, tapi juga mengenalkan dunia baru atau bidang baru secara komprehensif ke pembaca. Saya kagum pada penulis yang menyisipkan pengenalan ilmu/bidang baru di dalam novelnya. Misalnya pada novel Deception Point, Dan Brown mengenalkan NASA dan proses pemilihan umum presiden di Amerika. Pada novel Davinci Code, Dan Brown mengenalkan karya-karya Davinci dan seniman-seniman lainnya di Roma. Sayangnya, pada novel 86 ini kita tidak akan paham dunia hukum dengan mendalam. Kita hanya sebatas tahu secara dangkal, tidak ada bedanya dengan pengetahuan tentang hukum yang kita dapat di televisi. Arimbi memang ditulis sebagai pegawai kantor yang lugu dan tidak tahu apa-apa, tapi penulisan novel ini memakai perspektif orang ketiga yang tahu semua, jadi tidak salah jika cerita diisi penjelasan mengenai dunia hukum dan proses-proses pengadilan.

  • Aditya Hadi
    2019-03-26 09:27

    Arimbi bukanlah nama sebuah bus AKAP. Arimbi juga bukan nama seorang tokoh pewayangan. Dalam Novel 86 karangan Okky Madasari, Arimbi adalah anak pasangan petani sederhana yang tinggal di Ponorogo, kuliah di Solo, dan akhirnya diterima kerja jadi ‘tukang ketik’ di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah seorang gadis lugu (tak pernah punya pacar sejak SD sampai kuliah) yang mengalami ‘culture-shock’ begitu sampai di kota, ia butuh kehangatan uang, kehangatan persahabatan, tak lupa juga kehangatan seorang lelaki.Arimbi dididik dengan cara kuno, karena memang orang tuanya tak tahu bagaimana cara menyiapkan seorang anak agar bisa bertahan hidup di kota besar. Ironis, karena Arimbi akhirnya memilih untuk terbawa arus mengikuti gaya hidup orang kota yang semrawut dan amburadul.86, sebuah sandi kepolisian yang diterjemahkan lain. Menjadi sebuah kata sakti yang kerap disebut dengan kata-kata: cincay, tahu-sama-tahu, semua senang, dll. Semua memakainya, hakim, jaksa, pengacara, panitera, polisi, sipir rumah tahanan, pengedar narkoba, hingga seorang tukang ketik seperti Arimbi pun ikut-ikutan menggunakannya.Seperti novel pertamanya, Entrok, Okky Madasari berusaha menjelajahi dunia wanita yang penuh dengan kerapuhan, kebimbangan, dan harapan. Dan dia berhasil. Gambaran Arimbi, Anita, Ananta, Bu Danti, dan Hakim Dewabrata digambarkan dengan sempurna (mungkin karena pekerjaan Okky sebagai wartawan yang membuat ia sering bertemu dengan orang-orang seperti itu).KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) juga disebut-sebut di dalam novel ini. Menarik, karena Okky menggunakan setting cerita di tahun 2004, saat KPK masih dipimpin oleh Si Bapak yang sekarang ditahan itu. Apa Okky menganggap KPK 2004 dan KPK 2010 itu berbeda, atau ada alasan lain?Apa lagi yang menarik ?? Covernya !Coba saja lihat cover itu dengan posisi terbalik ... maka akan hadir sebuah angka sakti lain, yang mengingatkan kita pada salah satu penjajahan HAM terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.[image error]

  • lita
    2019-04-05 08:26

    Beginilah seharusnya wartawan. Dia tahu sedikit tentang segala hal, dan tahu segala tentang sedikit hal.Saya tahu Okky Madasari pernah jadi wartawan yang nge-pos di KPK. Gereget yang dia rasa sebagai penyampai warta tidak berhenti pada tulisan-tulisan yang diorder koordinator liputan yang membawahinya. Okky juga peka terhadap cerita di balik satu kasus yang tengah merebak, termasuk pegawai-pegawai rendahan yang tanpa "sengaja" terkait kasus besar dan dikorbankan sebagai pelaku kasus itu.Kepekaan ini yang membuat banyak wartawan menulis cerpen atau novel. Keterbatasan ruang dan kaidah jurnalistik terkadang membatasi mereka untuk menuangkan cerita yang cakupannya lebih lebar dari sekedar berita yang mereka tulis.Siapa saja boleh untuk tidak percaya, jika pegawai rendahan macam Arimbi bisa terkait kasus suap milyaran rupiah. Arimbi, seorang juru ketik di pengadilan negeri cuma punya wewenang untuk menyalin putusan sidang yang ditulis hakim. "Tantangan" terbesar dari pekerjaan Arimbi cuma kesulitan memahami tulisan tangan hakim yang mirip ceker ayam.Saya tidak akan menceritakan kisah Arimbi di sini. Silakan baca sendiri bukunya. Buat saya pribadi, kejelian penulis terhadap "derita" yang dialami pegawai rendahan di instansi pemerintah yang rawan suap - yang kalau tidak kuat iman bisa terjebak seperti Arimbi - perlu dipuji. Dia bisa mengangkatnya menjadi ramuan cerita yang gampang dicerna dan diikuti. (lits)Catatan: review versi lain yang lebih lengkap bisa dilihat di sini: http://wahanakecil.wordpress.com/2011...

  • Imas
    2019-04-24 04:34

    Buku ini bukan hanya tentang korupsi tapi jauh lebih dari itu. Perjuangan manusia memenuhi kebutuhan dan selanjutnya setelah kebutuhan terpenuhi maka manusia berusaha memenuhi keserakahan.Membaca buku yg dipenuhi ironi,lucu yang menyindir. Sering kita mendengar dikehidupan nyata,disebut2 salinan keputusan dari satu kasus belum diterima oleh ybs. Aneh menurut pikiranku, kenapa kok susah banget kalo cuma pengetikan,apa kasus yang putusannya harus diketik sudah sebegitu menggunung sehingga perlu waktu yg lama untuk membuatnya.Bukankah selalu dikabarkan tumpukan perkara yg belum selesai?apa iya sebegitu sibuknya para pegawai administrasi pengadilan.Okky menggambarkan masalah ini persis kata2 mutiara "Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah...??" Mau putusan diketik? 86..mau urusan pelik jadi mudah? 86.. Mau hidup lebih mudah?? Pokoknya 86 lah..Okky Madasari menceritakan hal-hal biasa menjadi menarik...Jadi tertarik ingin baca buku Okky sebelumnya Entrok..

  • Cintantya Sotya Ratri
    2019-04-06 04:26

    Sebelumnya saya tidak mengerti istilah 86 yang menjadi judul dari buku ini. Dalam catatan kaki buku ini, ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang. Korupsi memang sudah menjadi budaya yang mengakar kuat di negara kita. Pantaslah kalau Indonesia dibanding negara lain baik moral dan terutamanya ekonomi dan kesejahteraan negara masih jongkok karena korupsi. Begitu lama korupsi mengakar dalam kebudayaan kita (bahkan VOC yang menjajah kita pun bangkrut karena korupsi) dan begitu mudahnya korupsi dilakukan dengan lingkungan yang mengakar sejak lama membuat masalah korupsi tidak rampung-rampung.Buku ini tidak menawarkan solusi memecahkan korupsi, namun, menurut saya lebih menggambarkan bagaimana korupsi dapat terjadi (yang sebenarnya merupakan 'cara' lama) dan membuat pembaca berpikir sekaligus mengajak untuk menghindari praktek korupsi dari akibat-akibat 'tokoh koruptor' dalam buku ini. Arimbi sebagai tokoh utama adalah perantau yang (kurang) berpendidikan, bermodalkan keberuntungan dan tekad, latar belakang ekonomi miskin, dan pikiran polos masyarakat desa. Karena itu ketika pada awalnya dia bekerja sebagai juru ketik di pengadilan negeri dia tidak mengetahui mengenai praktik korupsi yang menjadi hal biasa di lingkungannya. Ia baru melakukan praktek dari 86 ini ketika ia tahu lingkungannya telah terbiasa akan hal ini sehingga ketika melakukaannya tidak ada yang menghukumnya, betapa mudah awalnya hidupnya dengan uang tambahan, pacar yang mendukung tindakan tesebut dengan alasan macam-macam, dan desakan ekonomi yang melilitnya setelah itu yang seakan 'membenarkan' tindakannya untuk melakukan praktek 86 lagi dan lagi. Selanjutnya tokoh Arimbi 'apes' ditangkap dengan dugaan korupsi. Lebih apes lagi dia kemudian terbukti bersalah dan dipenjara dengan kenyataan atasannya, Bu Danti, yang lebih banyak melakukan suap dibanding dia tapi simpanan uang jelas lebih banyak darinya, justru dapat dengan mudah melewati aturan hukum yang ada: proses pemidanaan, pembedaan sel, pengurangan hukuman, dll daripada dirinya.Maka tambah susahlah hidupnya di penjara. Apalagi ketika ibunya di kampung sakit dan harus cuci darah kontinu. Arimbi pun karena desakan terebut mau tidak mau dengan dalih menyelamatkan ibunya mencoba untuk menjadikan dirinya dan suaminya pengedar narkoba. Lalu, ketika dirinya dapat bebas setelah memenuhi waktu setengah dari hukuman yang bisa dia tanggung, Arimbi kembali karena 'desakan' melakukan praktek 86 kembali. Hal ini menjelaskan bahwa ketika satu kejahatan sekali dapat dilakukan akan mengundang kejahatan kedua dan seterusnya untuk lebih mudah dilakukan. Seperti orang yang sekali bohong, selanjutnya dia gak mungkin gak bohong lagi.Karena itulah, memberantas korupsi itu memang sangat tidak mudah! Apalagi yang sudah mengakar. Suatu bentuk pemberantasan korupsi sekecil apapun harus diapresiasi dengan baik. Seperti buku ini misalnya yang telah menggambarkan praktek korupsi dan ilegal paling 'lumrah' namun dengan begitu bisa sampai kepada siapa saja pesannya. Para pembaca buku ini bisa saja seperti Arimbi yang sebelumnya polos namun dapat dengan mudah terhasut untuk koruptif. Saudara-saudara dari pembaca pun bisa dengan mudah jadi Arimbi selanjutnya. Tapi ingatlah bahwa satu kejahatan akan memancing kejahatan lain untuk dilakukan seperti dalam buku ini...

  • Akhfhin Rahardhiyanto
    2019-04-11 06:42

    rated 4 / 5 starsSinopsis:Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.Pokoknya, 86!Review:86 adalah sebuah novel fiksi yang mengangkat isu yang selalu hangat di Indonesia, hal yang berhubungan dengan korupsi, suap, dan obat-obatan terlarang ada di buku ini. 86 menceritakan kisah Arimbi, seorang juru ketik yang bekerja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah seorang perempuan yang terlahir dari desa dan menjadi salah satu warga di desanya yang bisa bekerja di ibukota untuk menjadi seorang pegawai negeri.Kehidupan Arimbi selama di Jakarta sangat monoton. Setiap jam dia selalu melakukan kegiatan yang sama di saat yang sama juga. Pada tahun-tahun awal dia bekerja di kantornya, dia adalah orang yang tidak mengerti adanya "kekuatan uang" dalam tugas-tugas yang harus dilakukannya, selama ini dia hanya mematuhi perintah atasan.Pada suatu hari, Arimbi diminta menjadi juru ketik pada sebuah sidang di pengadilan dan pada saat dia pulang ke rumah. Dia mendapati ada orang-orang tidak dikenal datang ke rumahnya mengantarkan AC. Katanya hadiah dari orang yang memenangkan sidang yang diikuti oleh Arimbi. Keesokan harinya dia bertanya kepada temannya Annisa apakah dia juga pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, dan ternyata mendapatkan "jatah" dari orang-orang adalah hal yang lumrah.Selang beberapa hari kemudian, gang tempat tinggal Arimbi terkena musibah. Rumah pemilik kontrakan yang ditempatinya terbakar sehingga dia harus pindah dari tempat itu karena pemiliknya ingin menempatinya. Dia pun pindah ke sebuah kos-kosan dimana dia bertemu Ananta, seorang lelaki yang nantinya akan menjadi suaminya. Sejak berkenalan dengan Ananta lalu kemudian menikah dengannya Arimbi mulai masuk ke dalam dunia "suap" karena dia sadar bahwa gaji suaminya dan dia yang kecil tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Inilah motivasi Arimbi untuk ikut terjun ke dunia yang gelap ini.read my full review on http://booksoverall.blogspot.com/2015...

  • Anastasia Cynthia
    2019-03-27 03:54

    “Sudah nggak usah sungkan-sungkan. Memang kita baru kenal, tapi ya sama-sama tahulah, delapan enam aja deh!” –86, hlm. 94Berangkat dari generasi keluarga petani, orangtua Arimbi bangga bukan kepalang, anak perempuannya bisa menjadi juru ketik di pengadilan negeri. Bukan menjadi buruh, tapi menjadi pegawai kantoran. Tiap pagi berjibaku menembus gang sempit, berdesak-desakan menaiki metromini, Arimbi terkadang bingung, mengapa semua orang di kampung mengelu-elukan jabatannya yang sekadar juru ketik.Tapi, bagi semua orang, mereka menganggap tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan. Mulai dari berprofesi sebagai juru ketik biasa, diam-diam lingkungan menghasutnya, Arimbi yang polos tak lagi punya urat malu seperti Anisa dan Bu Danti. Semua orang sudah keburu tahu, tak perlu ditutupi dan pura-pura tak ingin. Kalau ingin segalanya licin dan berjalan sesuai rencana, tinggal geser amplop dan buat skenario.Pejabat bisa lolos dengan mudah, semuanya hanya tergantung pada uang pelicin. Arimbi yang mulanya duduk-duduk di ruang pengadilan, lama-kelamaan tahu, semuanya sudah dirangkai sesuai rencana. Tangannya tak lagi sekadar menari di atas keyboard, ia pun ingin minta bagian.“Hidup 86!” mungkin jargon yang sedikit membingungkan bagi masyarakat awam, tapi sesungguhnya “86” di sini punya arti yang sedikit menggelitik. Jika komando kepolisian mengartikannya sebagai sudah beres dan sudah sama-sama tahu, di Indonesia pun punya sandi sendiri yang berarti tanda penyelesaian yang dibereskan dengan bantuan uang. Seandainya kecil-kecilan, orang sering menyebutnya “menyogok” tapi kalau skala besar, acapkali dipertontonkan di televisi, alias korupsi.Sesungguhnya dari ilustrasi depannya, “86” seperti sudah membisiki pembaca tentang apa yang hendak disindir oleh Okky Madasari, sayangnya saya sedikit tidak peka, dan menomorduakan sinopsis belakangnya. Sekadar tahu dari teman, ini bercerita tentang perjalanan seorang perempuan, sedikit mirip dengan novel Okky Madasari yang pernah saya baca sebelumnya, “Maryam”. Sama-sama membahas isu negara, tapi bedanya “86” menyerempet pada perkara kriminal, yang bertunas dari budaya sogok-menyogok di Indonesia. Lebih tegang, menggelitik, sekaligus lugas ketimbang “Maryam” yang mungkin bedanya dilatarbelakangi oleh Pulau Lombok yang masih bersifat pedesaan dan kurang dilirik masyarkat.Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...

  • Marissa Sony Fajarnur
    2019-04-22 01:52

    SPOILER ALERT!!! *dikit86 merupakan ungkapan yang pada awalnya digunakan kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang....ooooo...jadi begitu ya artinya 86 brarti nanti saya kalo mau urus ini itu tinggal ngasih amplop trus bilang kepetugasnya "86 ya pak/bu" waahhh...mba Okky Madasari salut deh, ini novel kedua yang saya baca dan bisa saya tarik kesimpulan kalo sampeyan ngirim pesan ke pembaca betapa seterongnya sogok menyogok, kotornya bedebah2 negara, dan betapa uang punya power luar biasa...ini novel nyinyir tanpa harus nyinyirin, keren ah!

  • Mandewi
    2019-04-08 06:26

    Jujur, gamblang, blak-blakan. Dengan kalimat sederhana menceritakan bagaimana buruknya birokrasi di Indonesia, khususnya di lingkungan pengadilan negeri. Jalinan kalimatnya sederhana, tak berbunga-bunga sedikit pun. Saking sederhananya, sampai saya kesulitan menemukan kalimat 'bagus' untuk dikutip. Keren!

  • Doddy Rakhmat
    2019-03-28 08:44

    ini kali pertama saya membaca buku karangan Mba Okky Madasari. Keseluruhan saya suka, gaya bercerita yang rinci dan tensitas yang meningkat setiap babnya. Setiap hal buruk yang kita lakukan tentu akan menghasilkan keburukan pula di kemudian hari. Tuhan itu adil. Manusia yang terlampau serakah dan merasa dirinya paling benar. Kira-kira begitu pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini.

  • Ari muttaqin
    2019-04-09 05:49

    alurnya mengalir cepat,novel yg memang bukan menceritakan sebuah cerita yg mungkin diinginkan.tapi tetap ada nilai2 yg penting yg menjadi bekal masa depan.

  • Litsa Khaya
    2019-04-20 03:27

    pas menuju halaman terakhir aku malah kurang enjoy, idk why._.

  • Amal Bastian
    2019-03-29 06:43

    Siap 86! Ah beres! Entah dari mana kata 'beres' dan hentakan kalimat 'siap 86!' mendadak bermakna negatif setelah membaca novel ini. Gambar kehidupan normal, sarat aturan, dan lempeng-lempeng saja, diaduk-aduk sedemikian rupa dengan dalih hidup mapan, uang aman, tapi hidup beresiko terancam. Tapi apa boleh buat, karena dianggap wajar dan biasa, malah disangka bodoh dan bego jika tak turut serta, alhasil uang haram, bisa diada-adakan. Banyak celah mudah dicipta di kepegawaian sipil. Tak perlu jadi teladan, jika gaji tak sepadan, mending salaman sambil berkata, "Siap 86, Ndan!"

  • Dian Maya
    2019-04-16 05:31

    Karena sebelumnya saya sudah khatam sama Entrok dan setelahnya juga rajin mengikuti tulisan-tulisan Okky Madasari, maka lambat laun saya jadi familiar sama tema yang beliau angkat dalam tulisannya. Realita kehidupan dunia di sekitar kita yang sarat kebusukan politik. Jadi, intinya kalo hidup kamu sudah berat, saya sarankan tidak usahlah membaca tulisan Mbak Okky. Bukannya terhibur, yang ada kamu jadi parno menghadapi hidup kedepannya. Hahahaha. However, your writing is great as always, Mbak Okky!

  • Qunny
    2019-04-24 01:29

    *speechless*4 bintang (lagi) untuk Okky Madasari. Masih mengagumkan, sih. Sedikiiiiit lagi bakal jadi favorit.

  • Larasestu Hadisumarinda
    2019-04-08 09:38

    AKHIRNYA SELESAI.Duh, bukunya Okky bagus-bagus ya. Yang Entrok bagus yang ini juga bagus. Tenkyuuuh buat Reni Hanifah yang udah ngasih buku ini kemarin (nikmatin banget bacanya) karena isi bukunya gak cuma sekedar buku tapi bisa dijadiin alat perenungan. Meskipun buat saya masih "powerful" Entrok dengan tokohnya Sumarni. Tapi di sini so far, ceritanya oke kok. Agak menampar karena setting awalnya pengadilan, gra, gra, gra. Inget dua bulan ikut sidang di pengadilan pajak terus pas KP, jadi semacam nostalgia. Ah, semuanya aja nostalgia, yang Entrok kemarin juga.Saya berdoa, cerita hanya sekedar cerita, udah, gitu aja. Semoga behind the scene-nya pengadilan kita gak kayak apa yang di gambarkan Okky di novel 86. Tapi yah budaya 86 itu emang udah mendarah-daging banget, saya pun maklum.Dan kaca kebenaran sering kali gak bisa diungkap, cuma bisa dirasain sama mereka yang mengalaminya. Lihat aja pengadilan pas kasusnya Arimbi & Bu Danti, kebenarannya gak terungkap tho. Rakyat kecil selalu jadi korban. Semoga kita masih punya ujung tombak di Indonesia, mereka-mereka yang bersih dan gak bisa disuap, karena godaan manusia di dunia ini itu uang dan uang. Karena uang orang menyelewengkan kepercayaan, nerima fee, etc, etc. Karena uang orang jualan sabu, karena kesejahteraan hidup manusia gak lepas dari yang namanya uang dan uang. Tapi pada akhirnya beberapa manusia (apes) yang kayak gitu dapet ganjarannya pula. Semoga gak cuma dicerita tapi juga direalita.Tapi dari sini yang namanya hitam-putih kehidupan itu gak ada. Gimana cara kita ngejudge orang itu baik atau jahat? Gak ada yang kayak gitu. Manusia kayak koin, punya dua sisi yang beda-beda rupa & bentuknya.Kalau baca bukunya Okky yang Entrok & 86 ini entah kenapa saya bisa nangkap dia itu gimana. Yang hidup dan tumbuh besar dipenghujung eranya Suharto, dia melihat dan menyaksikan kelaliman itu terus dia kemas dalam satu buku. Yang senantiasa dia ulang "kebon jeruk" hmpft. Entahlah terngiang aja di kepala saya.Buku ini buat saya juga berisi lini-lini masa. Nostalgia suasana kereta jaman dulu ke jaman sekarang.Terus.. terus.. saya suka kisahnya baik Arimbi sama Ananta atau Arimbi sama Tutik, dua-duanya bagus.Cuma satu buku, tapi punya ulasan lebih dari satu.Saya jadi mikir apa di jaman sekarang ada orang yang hidupnya enak tapi sumbernya benar-benar jujur?Tapi kalau dipikir lagi .... definisi jujur itu apa?Huku 86 & Entrok ini bagus kalau mau dibedah.

  • Darnia
    2019-03-31 02:46

    Satu lagi buku Okky Madasari yg gw selesaikan hari ini sekaligus dalam rangka mengurangi tumpukan. Mengikuti perjalanan hidup Arimbi ini seolah-olah membuka kembali ingatan gw tentang pembicaraan-pembicaraan lama jaman masih aktif ngeblog dulu. Kebetulan punya beberapa teman yg bekerja di berbagai kantor pemerintah dan BUMN. Ada teman yg dulu disuruh bikin pembukuan dengan me-mark-up budget untuk pembelian komputer kantor, dimana satu komputer yg harganya hanya 1,5 juta, disuruh melaporkan dengan harga sekitar 3,5 juta per unit. Lalu ada teman lain yg bercerita bahwa dia terpaksa resign dari sebuah BUMN bergengsi *ada ya?* karena tiap bulan selalu ada tambahan uang yang entah asalnya dari mana di rekeningnya, yg bikin dia ngeri. Gw juga ingat ada teman yg selalu berharap jangan sampai dalam kondisi apapun dia keterima jadi PNS (kalo gak daftar sih pastinya gak bakalan ketrima kali cuuuuy). Selain menurut dia proses penerimaannya itu sendiri banyak amsyongnya, dia takut kalo nggak kuat iman sama godaan menerima ceperan yg dianggap lumrah di kantor-kantor pemerintahan.Ngomongin korupsi memang nggak ada habisnya, apalagi di negeri ini. Sampai-sampai kadang kalo ada buku fiksi yg mengangkat tema korupsi, banyak yg udah males duluan buat baca. Karena pasti bikin dongkol. Di sini Okky Madasari menceritakan sebuah kisah yg runut, bagaimana seseorang terlibat korupsi hingga terlibat hal-hal lain yg secara umum sering kita temukan di berita kriminal sehari-hari (miris ya berita kejahatan tiap hari berubah, selalu ada kejahatan baru setiap hari), semisal narkoba. (view spoiler)[Sampai sekarang, gw nggak bakalan tahu harus ngomong apa kalo ada orang yg terpaksa korupsi karena ada keluarga yg sakit.(hide spoiler)]Semoga sampai kapanpun gw jangan sampai dihadapkan dalam dilema semacam itu *ini malah curcol*.Oke, jadi kesan gw tentang buku ini adalah lumayan menarik. Masih dengan gaya penceritaan Okky yg cepat, padat dan nggak pake nge-rem, ditata dalam plot yg runut dan apik. Endingnya kayak dicepetin sama Mbak Okky, mungkin ada kekhawatiran bikin pembaca bosen. Jadi bintang segitu cukuplah...

  • Stefanie
    2019-03-30 08:29

    Tema besar yang dibicarakan dalam novel 86 ini adalah tentang korupsi. Istilah 86 sendiri adalah istilah yang sering digunakan dalam kasus korupsi, yang berarti bahwa sesuatu telah dibereskan, atau kedua pihak sama-sama telah mengerti urusannya. Kisah ini berpusat pada seorang juru ketik pengadilan bernama Arimbi. Awal mulanya, Arimbi bekerja sebagai juru ketik biasa - yang jujur, dan menuruti perintah Bu Danti, atasannya. Ia merasa hidupnya di Jakarta tidak lebih baik daripada hidupnya di kampung, dengan gaji pas-pasan dan tidak menikmati hidup. Namun segala sesuatunya berubah ketika ia mulai mengetahui "pendapatan sampingan" yang bisa ia dapatkan dengan mudah melalui pekerjaannya: yaitu korupsi.Awal mulanya Arimbi hanya membantu pengacara-pengacara yang ingin kemudahan dan kelancaran, kemudian mendapatkan komisi atas bantuannya tersebut. Namun keserakahan mulai menjalarinya dan Arimbi berhasrat untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Keserakahannya tersebut membawanya hingga terseret ke dalam penjara. Namun dalam penjara pun ternyata uang tetap paling berkuasa. Segala sesuatunya dapat dimudahkan dengan adanya uang yang banyak. Hal tersebut membuat Arimbi kembali memberanikan diri untuk melakukan pekerjaan kotor agar dapat bertahan hidup; disanalah ia mulai berbisnis obat-obatan terlarang. Setiap pilihan-pilihan yang dibuat Arimbi tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik, melainkan menjadi semakin terpuruk. Namun apa dayanya sebagai rakyat kelas bawah yang membutuhkan uang di dunia yang penuh dengan suap-menyuap ini; ia terpaksa melakukan hal-hal yang ia sendiri pun tidak inginkan.---Ini pertama kalinya aku baca novel bertema korupsi & berbau-bau politis seperti ini. Menurutku novel ini sudah mengajarkan aku tentang kerasnya kehidupan; terutama pada kehidupan orang-orang yang susah. Meskipun menurutku ceritanya lumayan bisa dinikmati, ada beberapa bagian dimana aku sedikit bosan. Perkembangan ceritanya cukup bagus, meskipun ending-nya agak mengecewakan. :D

  • Ana
    2019-03-27 06:50

    Judul yang unik, cover yang "mengundang", dan tema yang jarang disentuh, adalah ramuan pas untuk menjadikan sebuah buku menarik untuk dilirik dan dibaca. Delapan Enam, adalah karya pertama Okky Madasari yang saya baca setelah mendapat rekomendasi dari Mia dan mba Astrid.Kita akan diperkenalkan kepada Arimbi, dan kehidupan marjinalnya di pinggiran Jakarta. Suasana yang dibangun oleh Okky membuat saya merasa seolah-olah saya secara langsung ada di sana, memandang Arimbi berjalan di gang-gang sempit lingkunganya, dan masuk ke dalam kamar kostnya yang murah. Kedekatan emosional ini membuat saya sangat menikmati kisah demi kisah Arimbi si pegawai negeri ini.Konflik mulai muncul ketika ia mulai tahu apa itu "delapan enam". "86" sendiri adalah kode terpopuler untuk urusan suap menyuap. Menjadi seorang juru ketik di pengadilan membuatnya sadar bahwa apa yang ia lakukan dapat menghasilkan uang. Saat ia bertemu dengan Ananta, calon suaminya, saya sempet berpikir, "wah, ini pasti calon suaminya ngga bener nih", tapi ternyata saya salah. hehehe.Sesungguhnya, novel ini akan menjadi sangat luar biasa jika bagian akhirnya tak terkesan "memaksa". Bagi saya, suatu konflik yang natural akan terlihat berbeda dengan yang terkesan dibuat-buat. Pembaca bisa bisa saja merasa jenuh dengan nasib si tokoh utama yang sepertinya tak putus dirundung malang. Menurut saya, usaha Okky dalam menekankan efek "86" pada seorang pegawai rendahan kurang berhasil justru karena berlebihan. Karena, pada kenyataannya, para pelaku korupsi kawakan sampai saat ini tak bisa merasakan apa yang Arimbi rasakan. Rasanya masih seperti menegakkan harapan semu, walaupun memang tak ada salahnya.Yah, well, saya menikmati kelancaran tutur kata Okky, dan karenanya saya memberi 3 sapi untuk buku ini. Rekomendasi saya berikan kepada yang sedang jenuh membaca buku-buku terjemahan, buku karya dalam negeri ini patut dicoba :)

  • Bayan
    2019-04-03 09:55

    Sebab apa saya suka Okky? Sebab setiap novelnya menjanjikan kepuasan tersendiri. Membaca 86 mengheret pembaca dengan perlahan pada awal bab mengenali watak dan perwatakan Arimbi, seorang gadis (dan kemudian wanita) yang sederhana, tulus dan mempunyai banyak keinginan yang sederhana - punya rumah yang selesa, punya pacaran dan langsung suami, mampu membahagiakan ibu bapanya dan menyenangkan tetangganya. Soal kerja menemukan Arimbi dengan pelbagai kerenah orang-orang di badan guaman sehingga suatu hari dia mengetahui suatu hal yang amat meresahkan tetapi biasa bagi orang sekeliling. Arimbi semakin enak melakukannya yang pada awalnya hanya suka-suka, menjadi serius saat dirinya terheret ke kancah kepolisian dan penjara. Arimbi semakin terhimpit - dan mendapati jalan-jalan baharu - yang menyelesaikan sekali gus mengikat dirinya dalam keterpaksaan. Arimbi hanya mahu hidup baik-baik, menjaga suaminya yang dikasihi serta keluarganya di kampung. Tertewaskah Arimbi? Novel Okky secara jelas mengheret isu rasuah dalam kalangan penjawat awam sehingga ke peringkat yang lebih besar. Tidak menyentuh soal politik tetapi hanya mengisahkan hal masyarakat yang rosak akibat rasuah yang tak terbendung. Gaya bahasanya tetap sahaja menyamankan dan tidak memaksa-maksa. Agak perlahan pada awalnya tapi amat pantas dan cemas pada akhir babak-babaknya. Novel yang sedap dibaca.

  • Marina
    2019-04-07 06:43

    ** Books 120 - 2014 **aduhh korupsi sudah berakar banget ya di negara kita ini! baca novel ini sampe gregetan sendiri.. novel ini mengisahkan tentang Arimbi, seorang juru ketik pengadilan yg berasal dari desa mengadu nasib di jakarta.. Arimbi ini orangnya polos dan lugu banget namun apa daya sebaik2nya orang akan terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.. begitu juga dengan Arimbi.. yg tadinya bekerja dengan jujur hingga akhirnya menerima suap dari nominal 200ribu hingga akhirnya melesat sampai 50 juta rupiah..Ananta yg juga suami dari Arimbi tak kalah jauh dari istrinya yg sama2 mencoba peruntungan menjual narkoba.. bisa ditebak akhir kisahnya seperti apa? 86 lah ya! yang penting urusannya beres! saya kasih 3 dari 5 bintang deh! :)

  • Sutresna
    2019-04-08 09:50

    Agak bikin bosen pas di awal dan di akhir, karena cuma pakai sudut pandang orang ketiga saja dalam menceritakan keseluruhan novel.Ndak kaya Entrok, yang 86 ini kurang gregetnya. Ya meski mengangkat masalah-masalah sosial yang patut diceritakan karena sudah dianggap lumrah terjadi meski patut dibilang sebuah kesalahan, semacam kasus penyuapan yang terpapar jelas selama cerita berlangsung.Cuma beberapa hal baru yang bisa saya dapat di sini (maksudnya hal baru yang bisa dipelajari dari sebuah novel), salah satunya ungkapan 86 yang artinya kurang lebih 'tahu sama tahu' dalam penyuapan.Semoga novel berikutnya yang Maryam lebih asyik ya.

  • Fahrul Khakim
    2019-04-08 07:45

    Korupsi itu cuma disebabkan 1 hal: tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan.Novel ini menelanjangi korupsi akut di bidang hukum Indonesia. Alur cerita lancar. Sayang, masih kurang ditelesuri bagaimana korupsi bisa mengakar begitu kuat di Indonesia sampai dianggap sebagai hal yang sangat wajar? Novel ini masih terasa setengah-setengah dalam mengupas inti persoalan tetapi sudah cukup membeberkan fakta mengerikan tentang pesona korupsi Indonesia bikin gigit jari. Salut untuk penulis yang berani mengungkapnya dengan detail.

  • Senseless
    2019-04-11 01:30

    Saya membeli dan membaca novel ini karena penasaran dengan judulnya. Saya sudah tahu arti 86, dan espektasi saya buku ini kemungkinan besar tentang korupsi. Tetapi setelah membacanya, novel ini jauh lebih dari sekedar novel tentang orang yang menerima suap atau memberi suap, cerita ini tentang kompleksitas manusia dan usahanya yang sia-sia melawan nasib dan keserakahan, jauh dari kotbah dan pamfletisme. Salut buat Okky yang demikian muda tetapi sudah menunjukkan kedalaman. Jadi tertarik membaca novel pertamanya entrok.

  • I'am philosophia
    2019-03-25 03:29

    Buku ini cukup beberapa jam saja kulahap, Tertarik membelinya karena disinopsisx ada kalimat " Pegawai Negeri, Gaji Bulanan , baju seragam & uang pensiun ".Ini bukan fiksi tapi nyata, setiap instansi "pasti" (memaksa generalisasi) ada budaya 86. Novel yg ditulis okky ini bahasax sangat sederhana dan mengalir karena orang yg pernah berurusan dengan pemerintahan kemungkinan besar pernah mengalami 86. Salutt....

  • ABO
    2019-04-10 08:32

    Buku ini menunjukkan sisi lain Indonesia sebagai negara KORUP. Jadi geregetan sendiri baca buku ini.Potret kehidupan pegawai korup : Bisa memiliki apa saja -> di penjara juga di ruang yang eksklusif macam hotel -> tinggal sogok menyogok urusan beres. Pokoknya delapan enam !

  • Ian
    2019-04-22 04:39

    Ok sip,